-
Tugas Guru
Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.
-
Teacher's Task
Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.
-
Tugas Guru
Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.
-
Teacher's Task
Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.
-
Tugas Guru
Artikel Pendidikan Pengembangan Kapabilitas Guru di Era Digital.
-
Tugas Guru
Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.
Tugas Modul 3.1.a.9. Koneksi Antar Materi-Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
Refleksi Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Sebagai seorang guru tentunya kita dalam menjalankan tugas kita sehari-hari di kelas, di sekolah, akan sering dihadapkan pada berbagai masalah yang terjadi di kelas. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dituntut untuk dapat selalu bertindak dan mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi setiap permasalahan yang ada. Apalagi sebagai Guru Penggerak kita mengenal dilema etika dan bujukan moral, yang tidak bisa kita hindari setiap saat mungkin kita mengalaminya.
Dalam tulisan kali ini saya akan sampaikan contoh referensi sebagai Guru Penggerak dalam menyelesaikan dilema etika atau bujukan moral yang saya hadapi di sekolah. Tulisan ini sekaligus adalah penyelesaian Tugas Modul 3.1.a.6.Refleksi Terbimbing-Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sesuai petunjuk modul yang harus diselesaikan ketika mengikuti pendidikan Calon Guru Penggerak.
Tujuan Pembelajaran Khusus : CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.
Pertanyaan pemantik untuk sesi pembelajaran ini :
Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.
Education is the art of making man ethical (Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis - Georg Wilhelm Friedrich Hegel)
Panduan Refleksi Terbimbing
Pada hari dan waktu yang ditentukan, Anda akan melakukan refleksi dari perjalanan belajar Anda di modul ini. Refleksi dilakukan secara mandiri pada LMS. Fasilitator akan memberikan tanggapan terhadap refleksi masing-masing. Refleksi tersebut meliputi pengetahuan baru, keterampilan baru, wawasan baru, kesadaran baru yang Anda dapatkan dari proses pembelajaran di kelas, latihan membuat keputusan, kegiatan berbagi/sharing, diskusi kelompok, dan lain-lain.
Pertanyaan-pertanyaan berikut merupakan panduan yang digunakan dalam sesi refleksi.
Dari delapan pertanyaan yang ada, pilihlah minimal empat pertanyaan sebagai bahan refleksi Anda.
Nah di sinilah seluruh penyelesaian masalah yang ditugaskan pada seluruh Calon Guru Penggerak dapat saya rangkum dalam bentuk jawaban singkat setiap Tugas pada Modul yang ada.
1. Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Jawab : Pemahaman saya mengenai dilema etika adalah situasi yang terjadi dalam kehidupan kita ketika seseorang dihadapkan pada dua atau lebih pilihan dimana pilihan tersebut secara moral benar semua, akan tetapi bertentangan satu dengan yang lain. Sedangkan bujukan moral adalah situasi yang kita hadapi terjadi yang mengharuskan membuat suatu keputusan antara benar dan salah.
Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebaikan yang mendasari terhadap situasi itu terjadi yang saling bertentangan, seperti misalnya cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup atau paradigma dalam pengambilan keputusan.
Secara umum paradigma terjadi pada situasi dilema etika ada 4 yaitu :
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Prinsip pengambilan keputusan ada tiga, yaitu
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) ditentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan.
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) menentukan keputusan berdasarkan peraturan yang telah dibuat sebelumnya
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) prinsipnya “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda." Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan bersimpati.
Sembilan langkah pengujian dan pengambilan keputusan
1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
4. Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.
5. Pengujian paradigma benar lawan benar
6. Melakukan prinsip resolusi
7. Investigasi opsi trilema
8. Buat keputusan
9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan
2. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses Anda mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang Anda hadapi selama ini. Anda dapat juga menulis tentang sebuah situasi dilema etika yang dihadapi oleh orang lain serta keputusan yang diambil. Berilah ulasan berdasarkan 3 materi yang telah Anda pelajari di modul ini.
Jawab : pengalaman saya mengatasi dilema etika dengan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan yaitu menghadapi dilema etika ketika harus memutuskan mengambil tindakan atas pengaduan ibu Haliman guru kelas 5 menghadapi salah satu siswa yang dianggap tidak menghormati beliau sebagai gurunya. Bu Halimah mengajukan 2 alternatif pilihan yang harus dilakukan, yaitu beliau minta untuk dipindah mengajar di selain kelas 5, atau jika beliau tetap harus di kelas 5 bisa dengan mengeluarkan anak yang dianggap bermasalah tersebut dari kelas 5 (mutasi atau dikeluarkan). Menurut beliau dengan bersikap tegas begitu untuk memberi pelajaran pada anak agar bisa bersikap sopan pada gurunya. Yang sebelumnya mengirim pesan whatsap yang menurut beliau dengan kata-kata yang sangat tidak sopan.
Analisis terhadap masalah tersebut adalah sebagai berikut :
a. Paradigma yang ada pada peristiwa tersebut adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy).
Dilema etika yang saya rasakan sebagai kepala sekolah berupa 2 pilihan keputusan yang menjadi persyaratan dari pengaduan bu Halimah, yaitu guru yang minta dipindah ke kelas lain atau siswa yang dikeluarkan dari kelas 5
b. Prinsip yang saya gunakan adalah berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).
Karena saya menganggap menentukan keputusan berdasarkan rasa kasihan pada anak jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan yang benar, karena latar belakang anak berada jauh dari keluarganya. Ayah kerja di luar negeri, ibu telah berpisah/bercerai dengan ayahnya. Jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan dan pengawasan yang benar kasihan pada anak tersebut.
c. 9 langkah pengambilan keputusan :
1. Nilai yang saling bertentangan adalah
Jika mempertahankan bu Haliman tetap mengajar di kelas 5 dengan mengeluarkan anak dari kelas 5 adalah melanggar kode etik profesi tupoksi guru pada sekolah inklusi. Sebaliknya jika mempertahankan anak tetap di kelas 5 dengan memindah tugaskan bu Halimah pada kelas lain akan dipertanyakan atasan merubah penugasan guru dalam waktu yang tinggal 2 bulan menghadapi kenaikan kelas.
2. Yang terlibat dalam peristiwa ini adalah bu Halimah sebagai guru yang membutuhkan suasana nyaman di kelas, siswa tidak yang menghormatinya, patuh padanya dan kepala sekolah yang dituntut menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan pilihan yang bertentangan.
3. Fakta yang relevan : Latar belakang siswa yang jauh dari orang tua, keluarga yang berpisah/bercerai, sikap siswa yang “tidak menghormati guru”, data komunikasi siswa dengan guru yang mengandung unsur ketidak sopanan, guru yang mengajukan pilihan persyaratan kepada kepala sekolah dengan emosional, guru yang secara tegas menolak berinteraksi lagi dengan siswa
4. Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.
Uji Legal : tidak ada tindakan melanggar hukum sebelum ada keputusan akan pilihan alternatif tindakan yang diajukan bu Halimah. Akan tetapi jika dipilih salah satu dari alternatif tersebut akan ada dugaan pelanggaran UU ITE atau perlindungan anak
Uji regulasi : Jika Kepala Sekolah mengeluarkan siswa yang dimaksud bu Halimah maka ada pelanggaran kode etik profesi.
Uji intuisi : perasaan saya cenderung lebih baik untuk siswa jika siswa tetap diharapkan bisa masuk sekolah walaupun harus berada pada kelompok bermain selain dengan anak kelas 5, yaitu dengan anak yang biasa keseharian bermain dengan anak adalah siswa kelas 6. Di sisi lain jika memindahkan ibu Halimah pada kelas lain dengan waktu yang tinggal 2 bulan lagi kenaikan kelas adalah tidak mungkin. Karena akan menimbulkan tanda tanya besar pada atasan langsung yaitu Pengawas atau Koordinator PAUD Dikdas dan LS setempat.
Uji halaman depan koran : Ya KS akan merasa tidak nyaman jika dipublikasikan, karena dengan keputusan tersebut KS sudah bertindak yang melanggar kode etik guru bahwa seorang guru harus menerima dalam kondiri apapun peserta didik yang dalam tanggung jawabnya untuk mendidik, menuntun tumbuh dan berkembang anak sesuai bakat dan minatnya tanpa membedakan dalam segi apapun selama peserta didik tidak melakukan pelanggaran pidana yang tidak bisa ditoleransi (sudah ditetapkan keputusan hakim di meja hijau berkekuatan hukum tetap)
Uji panutan/idola : Panutan saya (misalnya : pengawas sekolah) pasti akan melakukan hal yang sama dengan saya lakukan.
5. Paradigma yang ada pada kasus adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
6. Melakukan prinsip resolusi. Prinsip yang Kepala Sekolah gunakan adalah berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).
Karena KS berpikir menentukan keputusan berdasarkan rasa kasihan pada anak jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan yang benar, karena latar belakang anak berada jauh dari keluarganya. Ayah kerja di luar negeri, ibu telah berpisah/bercerai dengan ayahnya.
7. Investigasi opsi trilema. Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi) : Ya, bu Halimah mengajukan 2 syarat kepada KS untuk pilihan 1 Bu Halimah akan tetap mengajar di kelas 5 jika 1 siswa yang disebutkan bu Halimah dikeluarkan dari kelas 5 (bisa dalam bentuk dikeluarkan atau mutasi ke sekolah lain), pilihan ke 2 bu Halimah meminta dipindah tugaskan di kelas lain selain kelas 5 jika 1 anak yang dimaksud bu Halimah tetap dipertahankan berada di kelas 5.
Penyelesaian kreatif bersifat sementara sambil mencari peluang untuk mengembalikan siswa pada hubungan yang baik pada gurunya adalah dengan mencari kemungkinan anak bisa masuk kembali ke sekolah, bermain dengan teman yang biasa akrab (tindakan sementara anak dibiarkan bermain dan belajar dengan siswa kelas 6, karena yang akrab bermain ada beberapa anak kelas 6)
8. Keputusan yang diambil adalah mengkondisikan anak untuk bisa masuk sekolah kembali, sementara waktu anak dimasukkan pada kelompok teman bermainnya yaitu ana-anak kelas 6, selajutnya pelan-pelan dibimbing untuk bisa masuk kembali di kelasnya yaitu kelas 5. Selanjutnya menyampaikan kebenaran pada bu Halimah secara baik-baik, bahwa dengan mengambil sikap untuk lepas tangan dari mendidik anak yang dianggap bermasalah dengan cara yang tidak “profesional” adalah tidak benar/tidak baik bagi seorang guru.
9. Refleksi terhadap keputusan yang diambil : Saya sangat yakin dengan keputusan saya untuk tidak mengeluarkan siswa dari sekolah, karena mendidik anak dengan berbagai macam latar belakang dan karakteristik merupakan kewajiban utama seorang guru
3. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Jawab : sebelumnya pernah melakukan pengambilan keputusan yang menurut saya merupakan peristiwa dilema etika, yaitu tentang siatuasi yang mengharuskan saya memutuskan diantara 2 pilihan yang saling bertentangan.
Ada seorang siswa yang meminta ijin untuk tidak bisa mengikuti PTS karena ada musibah kakeknya meninggal dunia. Saya sebagai guru harus memutuskan diantara 2 pilihan mengijinkan atau tetap harus mengikuti PTS. Dalam peristiwa ini meengandung paradigma raasa keadilan vs rasa kasihan (justice vs mercy), dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).
Bedanya dengan modul ini adalah pada 9 langkah pengujian pengambilan keputusan pada langkah ke 4 Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola. Hanya mempertimbangkan uji intuisi, sedangkan yang lainnya belum mengetahui.
4. Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Jawab : dampak dari mempelajari modul ini bagi diri saya sebagai guru adalah sangat bagus. Pelajaran baru bagi saya untuk dapat mengetahui berbagai macam jenis dilema etika yang mungkin akan saya hadapi di kelas, serta dapat mempelajari dan menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan yang profesional. Sehingga setiap keputusan saya nantinya diharapkan benar dan berdampak baik kepada murid-murid saya selanjutnya.
5. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?
Jawab : modul ini sangat penting diketahui dan dikuasai oleh seorang guru. agar dalam bertindak sehari-hari yang berkaitan dengan dilema etika, dapat mengidentifikasi, memahami prinsip pengambilan keputusan dan menerapkan langkah-langkah pengujian keputusan yang profesional. Sehingga pembelajaran betul-betul berpihak pada siswa.
6. Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?
Jawab : mensosialisasikan pada rekan, berdiskusi dan berkolaborasi mengenai identifikasi setiap masalah yang dihadapi di sekolah, serta bersama-sama menerapkan langkah-langkah yang sesuai. Selanjutnya melakukan refleksi dan evalusai terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan untuk selanjutnya dilakukan tindak lanjut pada peristiwa dilema etika yang mungkin ada selanjutnya.
7. Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?
Jawab : di daerah yang religius, akan leibih mudah setiap permasalahan dilema etika yang bersinggungan dengan siswa atau wali murid lebih mudah terselesaikan dengan basic agama (nasehat ustad, ulama)
8. Adakah nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh orangtua anda atau bahkan kakek nenek buyut Anda yang menjadi karakter khas suku atau masyarakat dimana Anda tinggal? Bagaimana Anda sebagai seorang guru akan menggunakannya untuk membantu Anda dalam pengambilan keputusan?
Jawab : ada yaitu dari sejak kecil orang tua selalu menanamkan untuk selalu bisa menyesuaikan diri di lingkungan di manapun berada. Selalu bersikap sopan pada siapapun, menghargai semua orang, jangan mudah menilai orang seperti apa yang dilihat saja tetapi dalami dulu dengan lebih dekat dengannya. Selalu banyak bersyukur, karena dengan kita banyak bersyukur kita mudah untuk bahagia, dimanapun berada.
Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi – Coaching.
Yang harus dipahami pada modul tersebut adalah bahwa proses coaching memiliki peran untuk menggali potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa melalui pertanyaan yang reflektif agar tercapai semua tujuan siswa untuk memecahkan segala permasalahan yang dihadapi.
Menurut modul 1 guru berperan untuk membimbing kodrat alam yang dimiliki siswa agar dapat mengembangkan potensi dan kemampuan sesuai dengan bakat dan minatnya.
Peserta didik dan komunitas belajar harus memiliki kemampuan dalam mengelola emosi, memiliki sifat empati yang tinggi, mampu mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab dengan penuh kesadaran (mindfulness), yang berpihak pada siswa agar dapat mencapai kebahagiaan tinggi-tingginya sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara .
Sementara kemerdekaan dalam pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara bermakna: Tidak hidup terperintah, artinya seseorang bisa menentukan arah tujuan sendiri atau dapat memerintah sendiri. Berdiri tegak karena kekuatan sendiri, kemandirian dalam mencapai tujuan dengan usaha sendiri. (Sumber : sman1pringgarata)
Dalam proses pembinaan guru dan siswa berkolaborasi positif, komunikasi yang asertif, dengan proses pembinaan yang mengarahkan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif untuk menggali potensi dan kemampuan siswa untuk kemudian menyelesaikan permasalahannya sendiri, dan mampu melaksanakan komitmennya dengan penuh rasa tanggung jawab.Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam proses coaching :
1. Coach akan memberikan tuntunan kepada coachee
2. Coach akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif dan membangun
Melalui pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan coach (guru) tersebut selanjutnya coachee (dalam hal ini siswa) akan berpikir kritis dan berpikir lebih dalam untuk kemudian berusaha untuk menemukan potensinya, dan akhirnya coachee akan menemukan pemecahan sendiri terhadap masalah yang dihadapi.
Inilah pentingnya guru untuk menguasai keterampilan untuk meningkatkan pembelajarannya.
Mengapa seorang guru harus memiliki keterampilan melatih dengan baik?
Karena dengan keterampilan coaching yang baik, melalui proses coaching yang tepat seorang guru akan mampu menggali potensi dan kemampuan siswa dengan baik, mampu memaksimalkan proses berfikir dan kreatif pada diri siswa, serta mampu menanamkan cara pengambilan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab.
Keterampilan yang harus dikuasai agar dapat menjalankan pelatihan dengan baik antara lain :
1.
Membangun dasar bagi proses coaching
2.
Membangun hubungan baik dengan semua komponen sekolah
3. Ketrampilan berbicara, komunikasi yang baik terhadap semua warga sekolah
4. Memfasilitasi pembelajaran peserta didik
Penerapan coaching menggunakan tehnik TIRTA yaitu
meliputi :
1. Tujuan
utama yaitu menyampaikan tujuan dari coaching
2. Identifikasi
dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif serta umpan balik
yang mengarah pada penggalian potensi coachee
3. Rencana
aksi dengan cara menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dan juga umpan balik mengenai
rencana aksi yang akan dijalankan coachee dalam usaha menyelesaikan masalahnya
berdasarkan potensi yang dimiliki
4. Tanggung
jawab (komitmen coachee dalam menjalankan rencana aksi yang telah direncanakan
untuk melaksanakan pemecahan masalah yang dihadapi)
Demikianlah penjelasan saya tentang Tugas Modul
2.3.a.9. Koneksi Antar Materi–Coaching
Berikut Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi-Coaching dalam bentuk mindmap :
Demikian penjelasan saya tentang Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi–Coaching
Praktek Pembelajaran bisa dilihat melalui link :
Jurnal Refleksi Minggu ke-4 Calon Guru Penggerak
Jurnal Refleksi Minggu ke-4 Calon Guru Penggerak ini dibuat Sesuai model 5R (Bain, dkk, 2002, dalam Ryan & Ryan, 2013)
1 Reporting (Pelaporan kegiatan)
Pembelajaran
dalam diklat Calon Guru Penggerak minggu ke-4 adalah tentang nilai dan peran
guru penggerak sesuai alur LMS, yaitu melalui kegiatan :
-
Eksplorasi konsep mandiri sesuai alur
LMS
-
Ruang kolaborasi
-
Diskusi virtual dengan meeting zoom
-
Presentasi virtual dan
-
Refleksi terbimbing.
2. Responding (Menanggapi)
Kegiatan Diklat Calon Guru
Penggerak memasuki minggu ke 4. Kegiatan dimulai dengan menggali nilai diri dan
peran sebagai guru. Secara sadar ataupun tidak telah menjalankan nilai dan
peran seorang guru penggerak walaupun tidak secara menyeluruh. Menggali dan mengenali diri sendiri dengan cara menggambar
diagram trafesium usia, dan menuliskan secara menyeluruh peristiwa atau kejadian
yang dilakukan dan dialami sejak lahir sampai dengan posisi usia sekarang.
Mengingat dan mencatat kembali peristiwa yang terkesan dan tersimpan dalam diri
yang masih diingat sampai sekarang. Baik sisi negatif maupun positif peristiwa
yang dialami. Dengan menuliskan kejadian yang terkesan yang tetap bisa diingat
sampai sekarang, dapat diambil hikmah bahwa sebagai guru dapat mengambil
pelajaran bahwa seluruh tindakan kita sebagai guru akan tertanam dalam benak
siswa selamanya.
Dengan menuliskan secara rinci
kejadian yang dialami di usia sekolah akan dapat menjadi cara efektif menuntun
diri sendiri untuk mengenali diri akan semua potensi yang ada, ataupun
kelemahan diri, yang selanjutnya dapat dijadikan dasar pengembangan diri
berbenah menjadi guru yang profesional di masa yang akan datang. Selanjutnya
bisa menjadi pribadi yang selalu berusaha dan senantiasa yakin bisa menjadi
guru terbaik bagi murid di sekolah masing-masing.
Kegiatan diakhiri dengan membuat
refleksi diri dan aktualisasi diri dalam bentuk pembuatan poster digital. Dengan aplikasi ini ketrampilan diri bisa terus
dikembangkan ditunjang dengan kemajuan teknologi pembuatan poster menjadi mudah
dan cepat dengan aplikasi android “Poster maker”. Poster dibuat dalam
bentuk Jpeg untuk selanjutnya diunggah di LMS semua CGP.
3. Relating (Keterkaitan dengan kegiatan)
Sesuai alur LMS Pada modul 1.2 ini saya
mendapatkan pemahaman bahwa seorang guru penggerak untuk bisa menjalankan
perannya dengan maksimal, ia harus menjiwai nilai - nilai; mandiri, reflektif,
kolaboratif, inovatif, serta berpihak kepada murid. Dengan nilai-nilai itu, sebagai
guru bisa mewujudkan kepemimpinan murid, menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach yang baik untuk
guru lain, dan berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait yang menunjang kemajuan
pembelajaran. Jika guru telah menjiwai nilai dan peran guru penggerak
tersebut secara utuh makan mewujudkan profil pelajar Pancasila akan tercapai
dengan baik. Peserta didik akan tertuntun menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan
mandiri.
4. Reasoning (Penalaran)
Peran sebagai guru penggerak yang
masih belum saya lakukan adalah menggerakkan komunitas praktisi, baik di
sekolah maupun di forum KKG, karena sebagai guru saya masih banyak kekurangan,
atau secara menyeluruh nilai dan peran guru penggerak tersebut belum bisa
menjiwai secara paripurna.
Oleh karena itu, saya
mengikuti Program Guru Penggerak, dengan tujuan agar mendapatkan pengetahuan
dan pengalaman yang bagus mengenai peran guru sesungguhnya. Dengan
kolaborasi bersama rekan CGP saya berharap mendapatkan beragam inspirasi dan
praktik baik yang bisa saya terapkan dalam pembelajaran sehari-hari di masa
yang akan datang lebih baik dan berpihak pada murid.
5. Rekonstruksi (Refleksi kegiatan)
Refleksi mandiri adalah merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan atau kekurangan yang ada pada diri sendiri ataupun kegiatan yang telah dilakukan, program yang telah dijalankan. Melalui refleksi, saya dapat memperbaiki kekurangan, meningkatkan yang sudah baik. Refleksi dapat kita jadikan pedoman untuk membuat dan menyusun rencana tindak lanjut yang lebih bagus dan komprehensip.
Melalui diklat Guru Penggerak ini, saya berusaha meningkatkan diri, memupuk kemandirian, serta rasa percaya diri untuk menggerakkan komunitas dalam berkolaborasi dengan baik, agar mampu menjadi guru yang inovatif untuk kemajuan belajar menuju perwujudan merdeka belajar.
Jurnal Refleksi Minggu-3 Pendidikan Calon Guru Penggerak
Setelah 2 minggu sebelumnya fokus mempelajari filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara, barulah minggu ke 3 CGP mulai mempelajari tentang nilai dan peran guru penggerak melalui LMS 1.2. Dengan tugas awal menggambar diagram trafesium usia kami para peserta CGP mulai dengan mengenali diri sendiri. Mengingat kembali peristiwa masa lalu sejak usia sekolah sampai dengan posisi usia sekarang. Dengan menuliskan kejadian-kejadian istimewa yang terkesan teringat sampai sekang baik kejadian positif maupun negatif. Kejadian terkesan tersebut bisa diambil pelajaran untuk mengurai tentang nila diri sebagai Calon Guru Penggerak untuk kemudian dikembangkan menjadi nilai ke arah yang positif dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak.
Dilihat dari struktur materi modul mungkin CGP
diarahkan untuk dapat memahami diri pribadi melalui pengalaman belajar yang
berkaitan dengan konsep diri dalam usaha meningkatkan pemahaman terkait nilai
dan peran guru penggerak baik yang telah ada pada diri maupun yang diharapkan
dapat ditingkatkan di masa yang akan datang. Setelah mengikuti alur
pembelajaran modul LMS barulah aku tahu melalui diskusi dengan menyampaikan
pendapat atau menanggapi pendapat CGP lain banyak hal yang bisa kami ambil
pengetahuan dan pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran dalan menerapkan nilai
dan peran guru penggerak di masa mendatang.
Banyak hal bisa saya pelajari dari materi dalam
modul di LMS, ditambah pengetahuan dan pengalaman dari CGP lain melalui ruang
diskusi. Dengan kolaborasi dalam kelompok diskusi, pada akhirnya seluruh
peserta diharapkan dapat mengambil pelajaran untuk selanjutnya dapat memudahkan
dalam mengimplementasikan nilai dan perannya sebagai guru penggerak. Ataupun
pula dapat mengembangkan dalam aplikasi nyata di sekolah dengan teman sejawat.
Demikian jurnal yang bisa kami susun di minggu ke 3 ini.
Terima kasih….
Jurnal Refleksi Minggu-2 Pelatihan Calon Guru Penggerak
Jurnal Refleksi Minggu ke-2
Kegiatan yang harus saya ikuti pada minggu kedua diklat Calon Guru Penggerak masih tetap melanjutkan mendalami materi modul 1.1 yaitu Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pada awalnya kegiatan sepertinya hanya mengulang lagi tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Tetapi setelah memasuki Ruang Kolaborasi ternyata masih banyak pemikiran-pemikiran besar Ki Hajar Dewantara yang perlu saya pelajari lebih mendalam. Dengan mengikuti secara langsung zoom meeting dengan sesepuh di Sekolah Taman Siswa Yogyakarta dan presentasi dari guru sekolah di Yogyakarta yang telah menerapkan dengan baik pendidikan sesuai dengan kerangka pembelajaran pemikiran Ki Hajar Dewantara, barulah saya tahu dan menyadari bahwa betul saya harus lebih mendalami lagi kerangka pembelajaran dan model pembelajaran sebelum menerapkannya pula di sekolah saya, di kelas saya nantinya.
Selanjutnya untuk memperdalam materi saya
melanjutkan dengan menyelesaikan kegiatan di LMS yaitu kegiatan refleksi
terbimbing presentasi kerangka pembelajaran yang sesuai dengan alur merdeka
belajar Ki Hajar Dewantara. Pembuatan video refleksi filosofis pemikiran Ki
Hajar Dewantara dalam kegiatan demonstrasi kontekstual sebagai perwujudan
pemahaman saya terhadap seluruh materi. Sayangnya terkendala laptop mengalami
eror sehingga harus mundur waktu penyelesaian tugas saya. Walaupun akhirnya
bisa menyelesaikan tugas dengan sedikit masalah bahwa video yang kami buat tidak
bisa sempurna karena tidak bisa membuat video dengan audio narasi yang baik.
Sehingga dengan terpaksa narasi video kami sertakan dalam bentuk artikel di
blog dan halaman LMS. Mudah-mudahan ke depan bisa mengatasi kendala ini
sehingga tidak ada masalah lagi.
Saya harus kembali menumbuhkan semangat
untuk segera mengejar ketertinggalan saya pada pendalaman materi selanjutnya.
Hal ini harus saya lakukan karena saya ternyata tidak bisa menyelesaikan
seluruh kegiatan dengan tepat waktu. Hingga akhirnya pada kegiatan sesi sinkron
saya bisa bersemangat kembali karena ada pendalaman materi dari pemaparan
instruktur. Pemaparan instruktur mencerahkan saya karena saya merasa belum
mampu secara baik menerapkan pembelajaran sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara
di kelas saya.
Pembelajaran melalui LMS mengesankan bagi
saya. Dan berdampak positif bagi diri saya pribadi karena menjadi tahu merdeka
belajar dalam praktek langsung yang saya sadari sangat berpengaruh dapat dengan
baik melatih kemandirian, kreatif dan melatih berpikir kritis untuk selanjutnya
dapat dengan lancar menyelesaikan tugas dengan cara kolaborasi dan tukar
pengalaman dengan CGP lain serta inspirasi dari instruktur dan motivasi dari
fasilitator.
Filosofi pendidikan pemikiran besar Ki
Hajar Dewantara ke depan sangat cocok untuk memperbaiki pola pembelajaran yang
kurang tepat saat ini. Dimana masih banyak pembelajaran di sekolah dengan
konsep tabularasa yang ternyata salah. Siswa dianggap sebagai kertas kosong,
sehingga guru dianggap sebagai narasumber utama dalam pembelajaran adalah
salah. Menurut Ki Hajar Dewantara pembelajaran adalah menuntun bakat dalam diri
anak untuk difasilitasi menuju tumbuh dan berkembang secara maksimal. Pemikiran
ini harus saya pelajari lebih mendalam untuk kemudian menerapkannya di kelas.
Tantangan bagi saya pada minggu kedua ini
sangat berat menurut saya, karena terkendala peralatan laptop yang eror,
kendala cuaca yang memang telah memasuki musim hujan sehingga tidak bisa setiap
waktu bisa berinteraksi dengan internet. Selain itu harus juga menyelesaikan
tugas-tugas sehari-hari di sekolah yang tidak sedikit ditambah kegiatan
menyelesaikan tugas-tugas diklat di LMS. Tentunya dengan usaha yang tidak
mudah, manajemen waktu dan menyusun
skala prioritas dengan baik, semangat dan kesabaran akhirnya sedikit demi
sedikit dapat kami selesaikan dengan baik.
Kesimpulan dari jurnal minggu kedua saya
ini adalah sebagai Calon Guru Penggerak merasa bersyukur, pembelajaran melalui
LMS dan virtual dengan instruktur dan narasumber yang berkompeten memberikan
pengalaman yang baik bagi saya, pengalaman yang bermakna yang tentunya memberi
pengetahuan yang nyata untuk kemudian bisa saya terapkan di sekolah dan kelas
saya. Filosofi pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat tepat untuk
mengembalikan pada proses pembelajaran yang sebenarnya sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional. Dengan mengacu pada kecakapan abad 21 dengan tetap
berpedoman pada Pancasila adalah langkah nyata dan tepat dalam mewujudkan
profil pelajar pancasila dengan merdeka belajar.
Terima kasih.





