• Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Artikel Pendidikan Pengembangan Kapabilitas Guru di Era Digital.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

Tampilkan postingan dengan label Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan

Tugas Modul 3.3.a.10. Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 A.   Peristiwa (Fact)

Untuk mengakhiri tugas pendidikan Calon Guru Penggerak pada Modul 3.3. ini saya akan mencoba membuat Program dengan Prakarsa Perubahan yang sudah saya susun pada modul-mdul sebelumnya yaitu dengan melalui Tahapan BAGJA, dengan Judul : “Pendidikan karakter kepemimpinan siswa dengan pendekatan Pembelajaran Tutor Sebaya”.

Dalam penerapan budaya positif sekolah, setiap memulai pembelajaran selalu diawali dengan membuat kesepakatan bersama murid. Dalam kesepakatan kelas sebagai wujud rasa empati, sikap kerjasama, dan kesetiakawanan sosial dalam pergaulan di sekolah dan lingkungan.

Pengajaran tutor sebaya ini dapat dimaksudkan sebagai solusi terhadap pengajaran klasikal dengan kelas yang terlampau besar dan padat sehingga guru atau pengajar tidak dapat memberikan bantuan individual, bahkan sering tidak mengenal siswa satu demi satu secara dekat. Selain itu para pendidik mengetahui bahwa para siswa menunjukkan perbedaan dalam cara-cara belajar. Pengajaran klasikal yang menggunakan proses pembelajaran yang sama bagi semua siswa tidak akan sesuai bagi kebutuhan dan karakteristik setiap siswa. Maka dari itu perlu dicari metode pembelajaran yang membuka kemungkinan memberikan pengajaran bagi sejumlah besar siswa dan di samping itu memberi kesempatan bagi pengajaran yang memenuhi kebutuhan seluruh siswa yang berbeda-beda. Disinilah pentingnya guru merencanakan pembelajaran berdiferensiasi yang diharapkan dapat mengakomodir seluruh karakteristik kebutuhan siswa yang beraga. Pembelajaran dengan pendekatan tutor sebaya dapat menjadi solusi terhadap pemenuhan kebutuhan semua kebutuhan siswa yang tidak terjangkau oleh pembelajaran klasikal. Dengan melibatkan siswa yang berkemampuan paling unggul di kelas dapat dijadikan model yang dapat menjadi peran guru dalam melakukan pembelajaran pada teman-temannya yang belum dapat menyelesaikan pembelajarannya di kelas. Disini guru dapat berperan menjadi fasilitator bagi kegiatan pembelajaran siswa di kelompoknya.

Metode tutor sebaya (peer teaching)adalah kegiatan belajar mengajar di kelas yang memberi kesempatan pada siswauntuk mengajarkan dan berbagi ilmu pengetahuan atau ketrampilan pada siswa yanglain untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan dalam belajar agartemannya tersebut bisa memahami materi dengan baik. Tutor sebaya dapat memberirasa nyaman pada siswa karena pada umumnya hubungan antara teman lebih dekatdibandingkan hubungan guru.

Teknik pembelajaran dengan metode tutor sebaya dilaksanakan dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil, yang sumber belajarnya bukan hanya guru melainkan juga teman sebaya yang pandai dan cepat dalam menguasai suatu materi tertentu. Dalam pembelajaran ini, siswa yang menjadi tutor hendaknya mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman lainnya, sehingga pada saat dia memberikan bimbingan ia sudah dapat menguasai bahan yang akan disampaikan.

Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya merupakan pembelajaran yang mandiri, karena siswa menggantikan fungsi guru untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar. Adapun tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yaitu dalam hal meningkatkan prestasi dan motivasi belajar anak.

Aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid di maksudkan untuk mewujudkan  kepemimpinan murid, program ini di lakukan dengan harapan siswa siswi bisa menumbuhkan sikap berani dalam dirinya, berani tampil dan mengekspresikan dirinya, memiliki rasa empati terhadap teman terutama siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran, serta bisa mengembangkan potensi atau bakat yang di milikinya.

Aksi nyata ini di lakukan untuk mewujudkan langkah pengelolaan program yang berdampak pada murid dengan berbasis pemetaan aset sekolah menggunakan tahapan BAGJA dan MELR Yang dilakukan guna memastikan sebuah program yang berdampak pada murid. Sehingga bisa menjadi langkah konkrit keterlibatan sebagai pemimpin dalam pengembangan sekolah.

Selain itu alasan utama dibalik program ini adalah pada terwujudnya wellbeing siswa atau student wellbeing  dan perkembangan siswa secara holistik, siswa yang bahagia. dan juga memiliki nilai–nilai pribadi yang unggul, berbudaya serta memiliki karakter profil pelajar pancasila.

Tujuan program :

1.   Mewujudkan program yang melatih tumbuhnya karakter kepemimpinan murid.

2.   Memberikan umpan balik dan dukungan terhadap peserta didik;

3.   Melatih peserta didik lebih cenderung berani untuk menyampaikan pendapat dengan bahasa sederhana

4.   Memotivasi dan meyakinkan peserta didik

5.   Menumbuhkan kemampuan berprikir kritis siswa

6.   Menjadikan kegiatan tutor sebaya kepada teman yang  sebagai budaya positif di sekolah

7.   Melatih kemandirian siswa dalam memecahkan masalah

8.   Menumbuhkan budi pekerti dan kepribadian yang baik kepada siswa

 

Hasil Aksi Nyata yang di lakukan

Dengan terlaksananya program ini,  maka program ini pada dasarnya di rancang untuk menjadi wadah berkreasi dan berinovasi bagi siswa siswi menumbuhkan keberanian untuk tampil  dan juga mengedukasi siswa akan pentingnya kepedulian pada teman yang mengalami kesulitan belajar. Siswa-siswi perlu di perkenalkan betapa pentingnya kegiatan membantu siswa lain yang mengalami kesulitan belajar sehingga sebagai generasi muda penerus bangsa akan selalu menjunjung nilai karakter empati terhadap sesama. Di perlukan sebuah pembiasaan yang menjadi sebuah budaya. Dengan pelaksanan kegiatan  yang rutin dan berkelajutan dari program ini maka dampak pada murid dalam hal meningkatkan minat dan bakat serta jiwa kepemimpinan dan juga kepedulian akan membuahkan hasil.

Hasil aksi nyata di SD Negeri Karangasem ini menunjukan bahwa ada perkembangan, bahwa dalam setiap pembelajaran siswa yang memiliki kemampuan lebih di kelas selalu menyempatkan untuk mengajari teman-temannya yang belum bisa memahami, belum bisa mengerjakan tugas yang diberikan guru. Tidak jarang di waktu istirahat bagi siswa yang belum bisa baca akan selalu diajari membaca oleh temannya di kelas, di teras sekolah maupun di tempat bermain. Salah satu hasil aksi nyata yang dapat dirasakan yaitu tumbuhnya jiwa kepemimpinan karena dengan keberanian penuh mampu menampilkan seorang pemimpin yang berani berdiri di depan dengan memaparkan pengetahuannya selama pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan tutor sebaya yang di lakukan di SD Negeri Karangasem menunjukan bahwa kegiatan ini tidak semata–mata di lakukan di dalam ruangan kelas saja tapi bisa juga di lakukan di tempat lain yaitu misalnya kegiatan di perpustakaan dengan di dampingi oleh guru piket dan  wali kelas  diberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih bacaan sesuai dengan minat peserta didik, namun pada kesempatan lain mereka melakukan kegiatan dengan menggunakan HP untuk melakukan pembimbingan bagi temannya yang mengalami kesulitan belajar, dengan HP yang merupakan benda yang sering dipegang siswa hampir setiap saat, dimanfaatkan untuk mengajari teman. Hal ini memungkinkan siswa lebih bersemangat, dan menghilangkan kebosanan belajar dengan sarana buku yang biasa dilakukan setiap hari. Dengan pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran memungkinkan siswa lebih bersemangat. Dengan demikian apapun yang menjadi minat dan bakat peserta didik dapat di salurkan dengan baik dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah demi peningkatan potensi peserta didik.














Kegiataan Tutor Sebaya di Kelas

 

B.   Perasaan (Feeling)

Perasaan saat merencanakan aksi nyata program yang berdampak pada murid ini adalah saya merasa tertantang, karena program ini harus menekankan pada aspek dampak langsung pada diri siswa, misalnya kepedulian, literasi, keimanan,  kedispilinan, dan aspek lainnya yaitu kemampuan kepemimpinan bisa menjadi bekal siswa untuk kehidupan yang lebih baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.


Perasaan saat program ini terlaksana perasaan senang dan juga optimis dengan pencapaian program yang sudah berjalan, terlaksananya program ini tidak terlepas dari kolaborasi semua pemangku kepentingan terutama siswa yang sangat antusias terlibat dalam program pembelajaran dengan pendekatan tutor sebaya, guru piket  perpustakaan dan rekan guru kelas yang lain yang mengkoordinir kegiatan. Saya pun bertambah antusias terlibat dalam program ini, baik dari murid dan seluruh pemangku kepentingan di sekolah. Dengan respon yang baik dari warga sekolah terutama murid membuat saya ingin terus terlibat dalam pengelolaan program ini agar lebih baik lagi ke depannya dan dengan harapan dapat terus berkelanjutan.




Kegiatan Tutor Sebaya di Luar Pembelajaran

 

C.   Pembelajaran (Finding) yang di dapat dari pelaksanaan aksi nyata

Pembelajaran yang di dapatkan dari aksi nyata adalah terwujudnya kepemimpinan murid dalam pembelajaran dengan pendekatan tutor sebaya untuk peningkatan minat bakat serta jiwa kepemimpinan, terwujudnya  karakter siswa yang memiliki pengetahuan dari sumber–sumber informasi yang diperoleh dan menjadi siswa yang berani tampil dan mengekspresikan bakat maupun potensinya, pada akhirnya besar harapan saya bahwa program ini akan bisa mewujudkan profil  pelajar pancasila.

Dari aksi nyata ini saya mendapatkan banyak pelajaran penting, yaitu bagiamana saya menyusun dan mengelola sebuah program yang berdampak pada murid dengan pemetaan aset model BAGJA. Selain itu saya menyadari pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk suksesnya program ini. Saya juga belajar bahwa peran guru tidak terbatas pada pembelajaran di dalam kelas saja namun harus peduli dan ikut terlibat dalam mengelola program yang berdampak pada murid.

Tugas Modul 3.3.a.10. Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Tugas Modul 3.3.a.10. Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Tugas Modul 3.3.a.10. Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Tugas Modul 3.3.a.10. Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid
Tutor Sebaya Melatih Karakter Kepemimpinan Siswa

 

D.  Penerapan kedepan (Future) rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Recana perbaikan ke depan yaitu  lebih mengaktifkan kembali kegiatan intrakurikuler di lingkungan sekolah untuk memberikan bimbingan dan menjadi wadah pengembangan minat dan bakat anak selain itu kedepannya perlu pemberian apresiasi berupa reward kepada siswa yang memiliki prestasi akademik sebagai bentuk dukungan untuk menambah semangat anak menampilkan kreatifitas dalam melakukan pembelajaran dengan pendekatan tutor sebaya. Selain itu perlu peningkatan kolaborasi guru, siswa dalam hal kegiatan tutor sebaya siswa butuh pendampingan dan bimbingan dari guru piket perpustakaan dan Guru kelas pada saat melakukan kegiatan, agar program ini dapat berjalan sesuai dengan yang kita inginkan.

Berikut bentuk Aksi Nyata Pembelajaran yang berdampak pada siswa melatih karakter kepemimpinan siswa dengan pendekatan Tutor Sebaya : 





Share:

Tugas Modul 3.2. Koneksi Antar Materi Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya- Prakarsa Perubahan

Tugas Modul 3.2. Koneksi Antar Materi Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya- Prakarsa Perubahan
Guru sebagai Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya

Ekosistem merupakan sebuah system lingkungan dimana terjadi interaksi atau hubungan timbal balik, saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem, yaitu komponen biotik (unsur yang hidup) dan komponen abiotik (unsur yang tidak hidup) dalam ekosistem sekolah.

Sebagai sebuah ekosistem, sekolah yang melibatkan berbagai bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Dimana kedua unsur tersebut saling berinteraksi satu sama lainnya, sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Sekolah sebagai sebuah ekosistem, dimana faktor biotik akan sangat mempengaruhi dan dibutuhkan dalam keberlangsungan aktivitas pembelajaran, dibutuhkan keterlibatan secara aktif semua komponen di dalamnya. Faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah : Siswa, Pendidik yang meliputi Kepala Sekolah, Guru, dan Tenaga Kependidikan lainnya, Pengawas Sekolah, Orang Tua/wali murid dan Masyarakat sekitar sekolah. Faktor lain selain biotik yang juga sangat berpengaruh besar dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di sekolah, diantaranya adalah : Sarana dan prasarana sekolah dan pendanaan (keuangan).

Dengan mengetahui dan memahami sumber daya yang ada di sekolah, dan menyadari dua komponen penting dalam ekosistem sekolah, maka sebagai guru pemimpin pembelajaran harus mampu memetakan 7 aset atau modal utama dimiliki sekolah. Tugas sebagai pemimpin adalah bagaimana mengelola ketujuh aset sekolah atau sumber daya tersebut untuk kepentingan dan kemajuan sekolah utamanya dalam mengoptimalkan pembelajaran. 7 aset atau sumber daya sekolah tersebut meliputi :

  1. Modal Manusia
  2. Modal Fisik
  3. Modal Sosial
  4. Modal Finansial
  5. Modal Politik
  6. Modal Lingkungan/Alam
  7. Modal Agama dan budaya

Selanjutnya sebagai guru yang merupakan pemimpin pembelajaran harus secara tepat mengelola berbagai aset yang dimiliki sekolah. Dalam pengelolaan aset tersebut ada dua pendekatan yang dapat diterapkan, yaitu :

1.   Pendekatan Deficit-Based Thinking yaitu pendekatan yang menitikberatkan seluruh tindakan kita sebagai guru pada bagaimana mengatasi semua kekurangan yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Mengatasi segala masalah yang yang dihadapi di sekolah, mengatasi berbagai macam kendala/hambatan yang dianggap ada dan berpengaruh terhadap tercapainya tujuan yang diharapkan. Pendekatan ini berdampak secara tidak sadar kita sebagai guru menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan berburuk sangka, yang ternyata dapat menjadikan kita tidak dapat mengetahui potensi dan peluang yang ada di sekitar.

2.   Pendekatan Asset-Based Thinking adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang mempelajari dimensi kekuatan berpikir positif dalaam usaha pengembangan diri. Dapat dikatakan bahwa pendekatan ini adalah cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, selanjutnya dapat maksimal pada apa yang bekerja, yang menjadi motivasi dan inspirasi, yang menjadi kekuatan/potensi positif.

Seorang guru diharapkan selalu berpikir berbasis  aset, selalu mengutamakan mengembangkan potensi sekolah, sebagai penguatan tentang bagaimana mengelola aset sekolah, berusaha memaksimalkan potensi/kekuatan pada aset yang dimiliki. Selalu berpikir positif, berbasis pada potensi/kekuatan yang dimiliki, apa yang sudah berjalan maka guru bisa memaksimalkan potensi/kekuatan yang dimiliki dan bisa mengoptimalkan kemajuan sekolah

Dengan berfikir berbasis asset maka guru akan bisa fokus pada asset/potensi/kekuatan yang telah dimiliki, sehingga bisa mengharapkan lebih baik di masa depan, dengan demikian dapat menjadikan kesuksesan di masa lalu untuk dijadikan motivasi lebih sukses di masasa depan dengan mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya yang ada, menyusun rencana berdasarkan visi dan kekuatan serta bisa mewujudkan rencana aksi yang sudah diprogramkan. Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengelola asset yang ada dengan pendekatan Asset-Based Thinking agar bisa memanfaatkan asset yang ada  untuk kepentingan pembelajaran yang berkualitas, sehingga bisa mewujudkan siswa yang selamat dan bahagia

Modul 3.2 mengarahkan agar guru sebagai pemimpin pembelajaran selalu berpikir positif.untuk bisa mengembangkan potensi yang ada di sekolah.

Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, terdapat 7 aset utama (modal utama) dalam sebuah komunitas, yaitu : 1) Modal Manusia, 2) Modal Sosial, 3) Modal Fisik, 4) Modal Lingkungan/alam, 5) Modal Finansial, 6) Modal PolitiK, 7) Modal Agama dan budaya.

Asset-Based Community Development (ABCD) atau biasa disebut Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) adalah merupakan kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, yaitu suatu pendekatan yang menitikberatkan pada kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, yang dijadikan sebagai kekuatan untuk maju dan berkembang.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada:

1.   Usaha mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna.

2.   Kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapi, bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih optimal dan berkelanjutan.

3.   Aset atau berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.

4.   Community-driven development ialah kemampuan menggerakkan seluruh pihak yang ada dalam suatu komunitas.

 

Keterkaitan Materi dengan Modul Sebelumnya.

A.   Filosofi Ki Hadjar Dewantara

Modul 1.1 Filosofi Ki Hadjar Dewantara, sebagai pemimpin pembelajaran maka kita harus mendidik siswa semaksimal mungkin sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara, agar siswa bisa berkembang sesuai kodratnya. Menurut Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dituntut mampu mengelola aset/potensi yang dimiliki sekolah terutama yang berkaitan dengan sumber daya murid untuk secara optimal mengupayakan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan dan karakteristik siswa sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Modul 1.1 berfokus pada potensi murid, sehingga guru sebagai pemimpin pembelajaran dituntut mampu menuntun kodrat anak agar bisa tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya dengan mengelola asset yang dimiliki sekolah untuk semaksimal mungkin pembelajaran yang berkualitas.

 

B.   Nilai dan peran Guru Penggerak

Modul 1.2 Nilai dan peran guru penggerak, membahas tentang sumber daya manusia yaitu dari segi guru, dimana untuk bisa mengelola potensi siswa, maka seorang guru harus memiliki kapasitas, kompetensi dan dasar nilai dalam mengelola asset yang ada. Nilai Guru Penggerak meliputi : mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpihak pada murid harus dijadikan landasan dalam pengelolaan asset sekolah terutama untuk mewujudkan profil pelajar pancasila. Bagaimana memaksimalkan nilai-nilai karakter anak agar bisa berkembang dengan baik. Sedangkan peran guru penggerak yaitu pemimpin pembelajaran, pemimpin pengembangan sekolah, pemimpin manajemen sekolah. Dalam modul ini juga dibahas bagaimana pengembangan karakter pada anak, bagaimana karakter bertumbuh atau pengelolaan sumber daya murid kita

 

C.   Visi guru Penggerak

Modul 1.3 Visi guru penggerak yaitu bagaimana seorang guru mampu menjadi agen perubahan, perubahan positif dan kondusif dapat dimulai dengan melakukan pemetaan, identifikasi hal positif (bai) yang ada di sekolah. Selanjutnya dengan pendekatan inkuiri apresiati model BAGJA dari potensi positif yang sudah dimiliki untuk selanjutnya mengupayakan semaksimal mungkin menjadi lebih baik lagi.

Langkah inkuiri apresiatif dalam melakukan perubahan sesuai dengan visi sekolah yang diharapkan, berdasarkan tahapan BAGJA yaitu meliputi : 1) Buat Pertanyaan Utama. Merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. 2) Ambil Pelajaran. Mengumpulkan berbagai potensi positif yang telah dicapai sekolah dan pelajaran yang dapat diambil dari potensi positif tersebut. 3) Gali Mimpi. Menyusun narasi kondisi ideal yang diharapkan sekolah. Selanjutnya merumuskan visi dengan jelas. 4) Jabarkan Rencana. Merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. 5) Atur Eksekusi. Memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang terlibat di dalamnya, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat melakukan perubahan atau pengembangan sekolah melaui pendekatan Inkuiri Apresiatif model BAGJA dapat melakukan perubahan yang berbasis asset atau sumber daya untuk menuju perubahan positif.

 

D.  Budaya Positif

Modul 1.4. Budaya positif yaitu menciptakan budaya positif di sekolah dengan cara membiasakan hal-hal postif, pembiasaan positif diantaranya : pembiasaan keagamaan yang meliputi memberi salam, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, asmaul husna, hafalan surat-surat pendek, 1 hari 1 ayat membaca Al Quran dengan terjemahannya, sholat dhuha, sholat dhuhur berjamaan dan kultum. Pembiasaan yang berkaitan dengan kebersihan sekolah dengan bersama-sama sebelum masuk kelas melakukan bersih-bersih kelas dan lingkungan sekolah, membiasakan membuang sampang pada tempatnya. Pembiasaan literasi yaitu dengan membaca buku perpustakaan 15 menit sebelum pembelajaran di tempat yang disukai murid. Seluruh pembiasaan tersebut dilaksanakan secara konsisten berkelanjutan di sekolah yang mendukung perkembangan karakter baik pada siswa sehingga tujuan pendidikan seperti yang diharapkan terwujud yaitu menjadikan siswa yang berahklak mulia, berbudi pekerti luhur, berkarakter sehingga tercapai tujuan sesuai visi dan misi sekolah.

 

E.   Pembelajaran berdiferensiasi

Modul 2.1. Memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus menyadari dan memahami bahwa setiap anak mempunyai  kodrat, karakteristik, latar belakang yang berbeda, sehingga dibutuhkan pembelajaran diferensiasi sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam tersebut. Agar dapat melakukan perubahan yang berarti dalam kelas dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah pilihan tepat bagi guru. Pembelajaran berdiferensiasi akan berjalan baik sesuai yang diharapkan jika guru sebagai pemimpin pembelajaran mampu memetakan asset atau sumber daya yang dimiliki sekolah serta dapat memanfaatkan asset atau sumber daya tersebut, baik itu sumber daya manusia komponen biotik  maupun sumber daya yang berupa komponen abiotik, yaitu  sarana prasarana dan keuangan untuk bisa menyusun dan mendesain strategi pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dan tepat sehingga bisa memenuhi kebutuhan belajar siswa. Keragaman karakteristik anak berupa memiliki kodrat yang berbeda baik dari segi minat, profil belajar, maupun kesiapannya sehingga pembelajaran berdiferensiasi sebagai sebuah strategi untuk menuntun anak sesuai kekuatan kodratnya.

 

F.   Pembelajaran sosial emosional

Modul 2.2. Pembelajaran sosial dan emosional, yang membahas cara atau strategi sebagai pemimpin pembelajaran untuk  menuntun anak-anak untuk mewujudkan siswa yang selamat dan bahagia. Pendidikan ataupun pembelajaran bukan semata mata berorientasi pada aspek kognitif tapi bagaimana bisa mengembangkan kecerdasan sosial emosional pada diri anak agar anak mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.Tehnik mindfulness bisa dijadikan strategi atau cara mengelola sumber daya manusia yang kita miliki yaitu murid sehingga potensi kecerdasan sosial emosional anak bisa berkembang optimal.

 

G.  Coaching

Modul 2.3 Coaching adalah pendekatan/strategi yang dijalankan oleh seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam rangka pendampingan pada murid sebagai salah satu teknik menuntun, menggali potensi anak dalam rangka memaksimalkan pembelajaran. Coaching bukan memberi solusi, akan tetapi memberikan kesempatan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir pada diri anak sendiri sehingga metakognisinya meningkat dan berpikir kritis dan mencapai potensi diri yang optimal.

 

H.  Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin Pembelajaran

Modul 3.1. Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Menurut pemahaman saya sesuai modul ini guru sebagai pemimpin pembelajaran, dituntut mampu mengambil keputusan dengan tepat dalam menghadapi dilema etika dengan menerapkan prinsip berpikir berbasis 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Prinsip pengambilan Keputusan ini sangat penting apalagi yang berkaitan dengan pengelolaan asset atau sumber daya sekolah untuk kepentingan pembelajaran, sehingga pembelajaran dapat dioptimalkan dengan pengelolaan aset yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

 

I.    Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya

Modul 3.2. Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Sebagai guru yang merupakan seorang pemimpin pembelajaran diharapkan mampu mengelola sumber daya yang dimiliki sekolah untuk semaksimal mungkin menunjang keberhasilan pembelajaran sesuai dengan visi misi yang telah disusun. Dalam pengelolaan sumber daya diharapkan guru mengutamakan dengan mengedepankan Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking). Yaitu pendekatan yang fokus pada potensi/kekuatan yang dimiliki sekolah, untuk selanjutnya semaksimal mungkin mengembangkan segala sumber daya yang dimiliki untuk kemajuan sekolah ke depan. Untuk bisa melakukan perubahan dalam kelas maka seorang pemimpin pembelajaran harus bisa memetakan asset atau sumber daya dan juga memanfaatkan asset atau sumber daya yang ada, baik itu sumber daya manusia komponen biotik  maupun sumber daya yang berupa komponen abiotik, yaitu  sarana prasarana dan keuangan untuk bisa menyusun dan mendesain strategi pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dan tepat sehingga bisa memenuhi kebutuhan belajar siswa.

 

PRAKARSA PERUBAHAN

Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Prakarsa Perubahan

Sumber daya (aset) adalah faktor penting yang mendukung kemajuan sekolah, untuk itu sebagai guru harus bisa memetakan aset sekolah dengan sebaik mungkin, sehingga bisa memaksimalkan pemanfaatan aset sekolah untuk mendukung pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas pembelajaran

Untuk melaksanakan aksi nyata pada modul ini saya menyusun prosedur BAGJA sesuai modul 1.2

1.   Buat  Pertanyaan  Utama (define) : Membuat kesepakan dengan murid untuk menggali harapan tentang mengakhiri pembelajaran dengan kegiatan yang bermakna melalui cara menginventarisir potensi dan kekuatan : Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat kegiatan akhir setiap pembelajaran lebih bermakna? Bagaimana mengakhiri pembelajaran dengan kegiatan yang menyenanngkan.

2.    Ambil Pelajaran (Discover) : Mengidentifikasi hal-hal yang diinginkan oleh murid di setiap mengakhiri pembelajaran. Contoh : apa hal-hal yang menyenangkan pada pembelajaran hari ini?

3.   Gali Mimpi atau Dream: menanyakan ke siswa , menanyakan pendapat setiap angota kelas tentang pendapat dan perasaan mereka tentang impian pembelajaran menyenangkan, contohnya: pembelajaran seperti apa yang menyenangkan? Bagaiaman perasaan saat mengikuti pembelajaran?

4.   Jabarkan Rencana (Design), membuat capaian yang realistis, misalnya apa langkah-langkah  untuk menyiapkan pembelajaran menyenangkan, Bagaimana kesepakatan kelas yang disusun agar pembelajaran bermakna bagi siswa

5.   Atur Eksekusi atau Deliver: menyusun tim kerja, misalnya  siapa saja yang terlibat dan apa saja peran masing-masing murid?

PRAKARSA PERUBAHAN

Mengakhiri pembelajaran dengan kegiatan yang bermakna

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban

B-uat pertanyaan (Define)

       Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;

       Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan

 

 

 

1. Bagaimana caranya memanfaatkan momen akhir pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mampu meningkatkan keterampilan murid dalam memimpin dan bertanya?

 




2. Apa yang harus dilakukan agar kegiatan berjalan lancar?

 

 

 

1. Membuat tantangan pada siswa untuk memperdalam pemahaman materi pembelajaran setiap harinya, yaitu dengan menunjuk siswa sesuai kesepakatan untuk maju ke depan kelas untuk memberi pertanyaan sesuai pembelajaran hari ini, bagi siswa yang berhasil menjawab bisa pulang lebih dulu.

 

2. Membuat kesepakatan kelas tentang kegiatan akhir pembelajaran menjelang pulang. Koordinasi dengan sekolah/KS/teman sejawat. Komunikasi dengan orang tua murid.

A-mbil pelajaran (Discover)

       Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;

       Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsur

 

  

 

1. Apa yang mendasari kegiatan itu dipilih untuk bisa dilakukan di kelas?

 

 

 

 

 




 

2. Langkah-langkah apa saja yang bisa dilakukan agar kegiatan berjalan baik dan menyenangkan bagi siswa?

 

  

 

1. Murid telah terbiasa melakukan secara bergiliran memimpin berdoa di depan kelas.

2. Murid-murid senang dan antusias bila waktu pulang diberi pertanyaan oleh guru dan murid yang cepat menjawab berarti boleh pulang duluan

 

 

2.   Membuat kesepakatan kelas, komunikasi dengan orang tua, memberi reward bagi siswa yang berhasil menjadi inspirasi dan motivasi bagi siswa lain.

G-ali mimpi (Dream)

       Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud;

       Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).

 

 

1. Apa yang diharapkan dari kegiatan ini?

 

 

 

2. Kompetensi/ketrampilan apa yang bisa dilatihkan pada siswa?

 

 

 

1.   Setiap murid bisa berani berperan sebagai guru di depan untuk memberikan pertanyaan-pertanyan kepada teman-temannya pas waktu pulang

2.   Selain bisa menjawab, murid-murid diharapkan mampu membuat pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang sudah diberikan atau pengetahuan lainnya yang relevan

J-abarkan rencana (Design)

       Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian;

        Menyusun definisi kesuksesan pencapaian

 

  

1.   Langkaah konkrit apa yang bisa segera dijalankan untuk tercapainya tujuan kegiatan?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

2.   Apa paramater kegiatan ini berhasil dan berguna bagi anak?

 

 

 

1.   Setelah selesai jam pelajaran dan berdoa, salah satu murid disuruh maju ke depan untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada temannya, dan siapa yang dapat menjawab dengan benar boleh pulang.

2.   Pertanyaan yang diberikan terkait materi pelajaran hari itu atau boleh pertanyaan umum lainnya yang relevan berdasarkan kesepakatan.

3.   Murid yang tampil di depan hari itu menunjuk salah satu temannya untuk giliran besoknya

4.   Monitor dilakukan oleh guru dan murid kepada murid dan untuk murid sendiri

 

1.   Siswa terbiasa melakukan kegiatan dengan senang hati

2.   Pertanyaan dan jawaban siswa merupakan gambaran penguasaan siswa pada pembelajaran hari ini.

A-tur eksekusi (Deliver)

       Menentukan siapa yang berperan/dilibatkan dalam pengambilan keputusan;

       Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)

 

 

1. Siapa saja yang terlibat mendukung kegiatan berjalan dengan baik?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.  Usaha apa yang bisa dioptimalkan untuk mendapatkan dukungan agar projek berjalan sesuai yang diharapkan.

 

  

1.   Penanggung jawab dan pengarah adalah guru kelas.

2.   Semua murid terlibat secara aktif dan bertanggung jawab. Apabila ada murid yang mendapat giliran dan tidak hadir bisa digantikan dengan murid lainnya setelah bermusyawarah

3.   Dukungan yang dibutuhkan dari : Atasan (Kepala Sekolah), Rekan sejawat (Guru-guru), Orang tua murid. Dukungan dari Kepala Sekolah dan rekan sejawat diperlukan untuk kelancaran aksi ini, supaya bisa diterapkan di kelas lainnya. Dan juga dukungan orang tua dalam mendampingi anaknya belajar di rumah.


4.  Menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh komponen sekolah, terutama dukungan orang tua untuk bimbingan yang maksimal pada putra-putrinya.

 

Share:

Recent Posts