• Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Artikel Pendidikan Pengembangan Kapabilitas Guru di Era Digital.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

Jurnal Refleksi Minggu ke-1 Pelatihan Calon Guru Penggerak

Jurnal Refleksi Minggu-1

Sesuai model 1 4F : (Facts, Feelings, Findings, Future)


Jurnal Refleksi Minggu ke-1 Pelatihan Calon Guru Penggerak

Sepekan sudah mengikuti diklat daring CGP. Pada lokakarya perdana jujur saya rasakan saat itu sebagai peserta belum menemukan apa sebenarnya pelajaran praktis yang sangat aku harapkan dapat saya peroleh untuk modal awal pengetahuan dasar yang mungkin selama 9 bulan ke depan bisa saya pelajari lebih mendalam. Utamanya pengetahuan dasar yang dapat secara praktis bisa saya jalankan di kelas ketika melakukan pembelajaran bersama murid-murid saya nanti. Bahkan fokus pemikiran saya masih berkutat pada anggapan saya yang mungkin keliru, bahwa sebagai guru penggerak ke depan itu akan lebih banyak berinteraksi dengan sesama guru untuk melakukan diskusi tukar pendapat yang notabene saya sebagai guru penggerak harus dapat menjadi narasumber yang dapat memberi solusi pada guru-guru yang menjadi komunitas saya nantinya. Akan tetapi ternyata beberapa hari berjalan ternyata berbeda seperti yang telah dipaparkan begitu jelas oleh instruktur bu Siti Lutfiah ternyata fokus utama adalah siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa.

Baru aku sadari bahwa 9 bulan ke depan saya harus banyak belajar memperdalam ilmu pengetahuan yang tersusun begitu banyak di LMS yang harus saya pelajari berlatih dan terapkan. Disinilah kesadaran diri harus aku perbaiki, untuk selanjutnya belajar lebih fokus, dan harus selalu minta bimbingan dari fasilitator agar tidak salah arah dalam mempelajari materi utama pelatihan ini. 

Dalam mempelajari modul di LMS ternyata bukanlah hal mudah untuk dilakukan, walaupun telah banyak melakukan kegiatan sejenis di LMS sim-pkb. Tapi LMS CGP dengan alur modulnya ternyata butuh pemahaman ekstra. Karena setiap alur dengan model pembelajaran yang berbeda

Dari beberapa kali meeting zoom dengan narasumber, yang selanjutnya masuk pada ruang kolaborasi barulah aku tahu bahwa bagaimana saya harus mengikuti alur-demi alur LMS untuk mempelajari modul. Dengan beberapa kali praktek langsung melaui link yang dibagikan langsung pada chat zoom untuk diikuti dengan model-model aplikasi yang bisa dipakai untuk diskusi, ternyata teknologi memudahkan guru untuk selalu mengembangkan diri. Disinilah aku sadari harus selalu banyak bersyukur bisa diberi kesempatan belajar dengan narasumber di CGP ini untuk belajar lebih baik 9 bulan ke depan. Yang ternyata jika saya terapkan di kelas dengan murid-murid saya tentunya sangat menarik. Ini baru awal, saya berharap selanjutnya saya bisa belajar lebih bagus untuk model-model pembelajaran yang saya percaya saya bisa mengikuti perkembangan teknologi untuk pembelajaran lebih baik nantinya. Pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi ternyata sangat menarik, dan ini yang membuat saya semangat karena di sekolah saya prasana untuk pembelajaran barbasis IT sudah ada dan sudah lama diterapkan oleh teman-teman guru di sekolah. Hanya model-model pembelajaran yang terbaru yang lebih menarik mudah-mudahan bisa saya dapatkan dengan berada di sini di tengah para guru-guru hebat peserta CGP dengan bimbingan dari narasumber profesional. Karena saya percaya narasumber CGP beliau adalah Guru dan atau praktisi pendidikan pilihan di Indonesia. Tidak semua guru atau praktisi pendidikan bisa berada pada posisi itu dengan mudah, akan tetapi melalui proses yang sangat panjang.


Share:

Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Sahabat guru semuanya, perkenankan saya menyampaikan sedikit Refleksi pemikiran besar Ki Hajar Dewantara menurut persepsi saya yang mungkin berbeda dengan pandangan dari sahabat guru semua. Walaupun hanya sedikit mudah-mudahan ada manfaatnya bagi sahabat guru semua.

Mungkin anak jaman sekarang merasa nggak perlu tau siapa Ki Hajar Dewantara, atau mungkin sebagian besar anak muda sekarang nggak kenal siapa itu Ki Hajar Dewantara. Mungkin ada juga yang berfikir apa gunanya ya mempelajari hal-hal kayak gitu? Apa manfaatnya membaca-baca sejarah tokoh tempo dulu? Berguna nggak sih untuk kehidupan jaman sekarang? Jaman now gitu lho… jaman teknologi…? Mungkin ada yang berfikir begitu?

Terus harusnya menurut kamu apa sih yang mesti dipelajari di sekolah? (Jika anda murid) lalu jika anda guru harusnya apa sih yang mesti diajarkan di sekolah jaman now?

Ok mungkin ada baiknya anda lihat saja sebentar tulisan ini, siapa tau bisa memberikan sedikit gambaran pentingnya mempelajari pemikiran besar Ki Hajar Dewantara. Yang pasti juga penting dan bermanfaat bagi kita semua. Karena di tulisan ini saya akan sedikit bercerita akan siapa orang yang paling berjasa bagi pendidikan di negara kita Indonesia.

Sebelum kita bahas tentang filosofinya yang bermanfaat bagi pendidikan di Indonesia, pertama-tama kita bahas dulu orangnya. Siapa sih Ki Hajar Dewantara?

Ki Hajar Dewantara
Kalo lihat foto-foto Ki Hajar Dewantara mungkin dalam benak kita tergambar, Ki Hajar Dewantara itu orang kuno, kolot, orang kraton bangsawan yang mungkin kerjanya mempelajari budi pekerti luhur dari nenek moyangnya orang-orang bangsawan seperti tergambar dalam makna tiga semboyan yang selalu menjadi filosofi pendidikan di Indonesia. Atau mungkin ada yang beranggapan bahwa mengajarkan budi pekerti itu serba kolot, disiplin kaku, salah sedikit dihukum. Lihat saja dari pakaianya dengan pakaian adat jawa lengkap, kalo perempuan juga kebaya lengkap. Dari foto sepertinya ribet kan? Itu persepsi saya karena sekarang untuk mengenakan pakaian adat jawa di hari Kamis itu saja ribet sekali kan? Belum lagi jika yang lihat anak-anak muda jaman sekarang, anak gaul, mungkin tambah nggak terbayangkan.

Kalo kita lihat biografi tokoh-tokoh besar bangsa ini pada zaman kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara ternyata bukanlah tokoh yang seperti itu. Ki Hajar Dewantara masa mudanya adalah anak bangsawan yang genius, dia dapat beasiswa untuk kuliah kedokteran di Batavia, hebat kan? Di zamannya orang bisa sekolah itu belum tentu lho. Ketika kuliah, Karena sifat nasionalismenya yang tinggi di kampus banyak kegiatan dan tulisan beliau yang nuansanya mengkritik keras pemerintahan kolonial Belanda.  Sehingga akhirnya dikeluarkan dari kampus. Setelah dikeluarkan dari kampus apa yang dia lakukan…? terbayang nggak mahasiswa dikeluarkan dari kampus, kalau zaman sekarang tamat sudah, sudah nggak tau mau jadi apa. Ki Hajar Dewantara ternyata tidak, ya memang karena beliau orang jenius. Selanjutnya beliau bekerja sebagai wartawan. Profesi wartawan justru dimanfaatkan oleh beliau dengan sangat cemerlang, semakin keras Ki Hajar Dwantara mengkritik pemerintah Belanda. Akhirnya oleh Belanda beliau dibuang ke Belanda dengan maksud agar tidak menulis yang isinya mengkritik Belanda jika masih berada di tanah air.

Di Belanda beliau malah berkesempatan besar untuk belajar lebih baik. Akses ke kampus dan buku-buku pendidikan hasil pemikiran tokoh-tokoh kelas dunia dapat dengan mudah diakses oleh Ki Hajar Dewantara. Hasil riset-riset terbaru dunia pendidikan dapat dengan mudah beliau akses, beliau dapat pelajari lebih mendalam ketimbang ketika masih di tanah air. Termasuk salah satunya kurikulum sekolah Maria Montesori yang banyak digunakan sekolah-sekolah elit terkenal di seluruh dunia. Hasil pembelajaran beliau dengan otak jeniusnya tersebut kemudian beliau rangkum untuk dibawa pulang ke Indonesia yang selanjutnya dijadikan dasar-dasar filosofis pendidikan di Sekolah Tamansiswa yang beliau dirikan.

Ok sekarang kita fokus ke filosofi pemikiran besar beliau.

Filosofi terkenal yang selalu diterapkan di sekolah adalah “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuru handayani”. Seboyan tersebut sebenarnya adalah cocok untuk filosofi guru, karena memang seharusnya gurulah yang harus menjiwai 3 semboyan itu. Yang akan saya bahas sekarang adalah bagaimana dengan siswa? Apa filosofi dari hasil pemikiran besar Ki Hajar Dewantara bagi siswa? Seperti kita ketahui bahwa pendidikan itu sejatinya adalah harus berpusat pada anak. Fokus utama pendidikan adalah siswa.

Hal utama yang mendasar bagi pendidikan adalah tujuan pendidikan. Apa sebenarnya tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara? Supaya pintar? Dapat nilai bagus? Dapat ijazah, gelar, yang kemudian dapat kerja? Ternyata tidak. Tujuan utama pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah “Memerdekakan manusia”. Apa itu manusia merdeka? Menurut Ki Hajar Dewantara manusia merdeka itu adalah selamat dan bahagia.

Membaca tujuan utama dari pendidikan dari beliau adalah selamat dan bahagia.

Tujuan Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Nah mulai dari sini barulah aku sadar, bahwa sebenarnya hal-hal seperti itu belum saya lakukan di sekolah. Padahal menurut Ki Hajar Dewantara “pendidikan harusnya memerdekakan manusia, menghasilkan manusia yang selamat dan bahagia”. Kira-kira semua orang setelah menyelesaikan sekolahnya tahu nggak ya bagaimana caranya untuk bisa selamat dan bahagia? Lha kalau diajarkan saja tidak di sekolah, bagaimana bisa tahu bagaimana caranya untuk bisa hidup selamat dan bahagia? Disinilah sebagai guru saya menyadari harus mengembalikan konsep dan tujuan utama pendidikan. Dimulai dari kelas saya saat ini. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan itu menuntun, seperti kalau dalam istilah jawa itu tletah artinya bayi itu bukan tidak bisa jalan, tapi orang tua nletah si bayi untuk memulai bisa berjalan. Menuntun itu posisinya di belakang, nletah bayi itu kita berada di belakang, artinya sesuai semboyan tutwuri handayani, menuntun itu membimbing dari belakang, kalo akan jatuh segera dijaga diarahkan dibimbing yang benar agar tidak jatuh. Memberdayakan menguatkan, mendukung, biarkan potensinya yang bagus ditampakkan, untuk kemudian kita fasilitasi agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Itu adalah yang benar harus dilakukan guru. Menuntun segala potensi yang ada pada siswa menuju manusia yang selamat dan bahagia.

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan itu memiliki 3 peran penting yang terkenal dengan semboyan Tri Rahayu yaitu :

Peran Pendidikan Ki Hajar Dewantara

1.  Hamemayu hayuning sarira” Memajukan dan menjaga diri

2.  Hamemayu hayuning bangsa” Memelihara dan menjaga bangsa

3.  Hamemayu hayuning bawono” Memelihara dan menjaga alam

Semua itu terhubung dan semua berkontribusi pada kepentingan yang lebih besar. Semua terhubung dan harus dimulai dari diri kita masing-masing. Memerdekakan satu orang adalah langkah awal memerdekakan satu keluarga. Memerdekakan keluarga adalah langkah awal memerdekakan suatu daerah. Memerdekakan daerah adalah langkah awal memerdekakan bangsa. Semua saling berkontribusi. Kita hidup bukan zamannya zero-sum-game, dimana untuk untung yang lain harus rugi, tidak. Ini adalah zaman dimana kita bisa bahagia bersama tanpa harus mengorbankan orang lain.

Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan itu harus kontinue, konvergen dan konsentris.

Pola Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Kontinue artinya berkelanjutan, belajar itu terus-menerus sepanjang hayat. Ya tentunya berkelanjutan menuju yang lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari yang kemarin. Besuk harus lebih baik dari hari ini. Itulah prinsip keberlanjutan pendidikan, maka jika hari ini kita sama yang kemarin maka rugilah kita.

Konvergen artinya bahwa ilmu itu harus dari berbagai sumber, Ki Hajar Dewantara mengambil konsep-konsep pendidikanya dari berbagai konsep pendidikan tokoh dunia misalnya Maria Montesari, Frobel atau Rabindra Natagore.

Berikutnya adalah konsentris artinya belajar dari luar itu boleh saja tapi jangan lupa disesuaikan dengan identitas dan konteks yang ada di hidup kita masing-masing. Artinya bahwa kita hanya boleh mengambil sumber dari luar jika memang betul itu bermanfaat bagi pencapaian tujuan utama pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan. Walupun itu berasal dari diri sendiri atau lingkungan sendiri tetapi jika memang tidak bermanfaat dalam menunjang pencapaian tujuan utama pendidikan, juga harus dihindarkan.

Demikian sekedar refleksi terhadap pemikiran besar Ki Hajar Dewantara sebagai seorang guru. Mudah-mudahan ke depan bisa meneladani jasa besar beliau terhadap pendidikan di negeri ini dimulai dari kelas dan sekolah saya sendiri.
Share:

Recent Posts