Sahabat guru semuanya, perkenankan saya menyampaikan
sedikit Refleksi pemikiran besar Ki Hajar Dewantara menurut persepsi saya yang
mungkin berbeda dengan pandangan dari sahabat guru semua. Walaupun hanya
sedikit mudah-mudahan ada manfaatnya bagi sahabat guru semua.
Mungkin anak jaman sekarang merasa nggak perlu tau
siapa Ki Hajar Dewantara, atau mungkin sebagian besar anak muda sekarang nggak
kenal siapa itu Ki Hajar Dewantara. Mungkin ada juga yang berfikir apa gunanya
ya mempelajari hal-hal kayak gitu? Apa manfaatnya membaca-baca sejarah tokoh
tempo dulu? Berguna nggak sih untuk kehidupan jaman sekarang? Jaman now gitu
lho… jaman teknologi…? Mungkin ada yang berfikir begitu?
Terus harusnya menurut kamu apa sih yang mesti
dipelajari di sekolah? (Jika anda murid) lalu jika anda guru harusnya apa sih
yang mesti diajarkan di sekolah jaman now?
Ok mungkin ada baiknya anda lihat saja sebentar
tulisan ini, siapa tau bisa memberikan sedikit gambaran pentingnya mempelajari
pemikiran besar Ki Hajar Dewantara. Yang pasti juga penting dan bermanfaat bagi
kita semua. Karena di tulisan ini saya akan sedikit bercerita akan siapa orang
yang paling berjasa bagi pendidikan di negara kita Indonesia.
Sebelum kita bahas tentang filosofinya yang
bermanfaat bagi pendidikan di Indonesia, pertama-tama kita bahas dulu orangnya.
Siapa sih Ki Hajar Dewantara?
Kalo lihat foto-foto Ki Hajar Dewantara mungkin
dalam benak kita tergambar, Ki Hajar Dewantara itu orang kuno, kolot, orang
kraton bangsawan yang mungkin kerjanya mempelajari budi pekerti luhur dari
nenek moyangnya orang-orang bangsawan seperti tergambar dalam makna tiga semboyan
yang selalu menjadi filosofi pendidikan di Indonesia. Atau mungkin ada yang
beranggapan bahwa mengajarkan budi pekerti itu serba kolot, disiplin kaku,
salah sedikit dihukum. Lihat saja dari pakaianya dengan pakaian adat jawa
lengkap, kalo perempuan juga kebaya lengkap. Dari foto sepertinya ribet kan?
Itu persepsi saya karena sekarang untuk mengenakan pakaian adat jawa di hari
Kamis itu saja ribet sekali kan? Belum lagi jika yang lihat anak-anak muda
jaman sekarang, anak gaul, mungkin tambah nggak terbayangkan.
Kalo kita lihat biografi tokoh-tokoh besar bangsa
ini pada zaman kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara ternyata bukanlah
tokoh yang seperti itu. Ki Hajar Dewantara masa mudanya adalah anak bangsawan
yang genius, dia dapat beasiswa untuk kuliah kedokteran di Batavia, hebat kan?
Di zamannya orang bisa sekolah itu belum tentu lho. Ketika kuliah, Karena sifat
nasionalismenya yang tinggi di kampus banyak kegiatan dan tulisan beliau yang
nuansanya mengkritik keras pemerintahan kolonial Belanda. Sehingga akhirnya dikeluarkan dari kampus. Setelah
dikeluarkan dari kampus apa yang dia lakukan…? terbayang nggak mahasiswa
dikeluarkan dari kampus, kalau zaman sekarang tamat sudah, sudah nggak tau mau
jadi apa. Ki Hajar Dewantara ternyata tidak, ya memang karena beliau orang
jenius. Selanjutnya beliau bekerja sebagai wartawan. Profesi wartawan justru
dimanfaatkan oleh beliau dengan sangat cemerlang, semakin keras Ki Hajar
Dwantara mengkritik pemerintah Belanda. Akhirnya oleh Belanda beliau dibuang ke
Belanda dengan maksud agar tidak menulis yang isinya mengkritik Belanda jika
masih berada di tanah air.
Di Belanda beliau malah berkesempatan besar untuk
belajar lebih baik. Akses ke kampus dan buku-buku pendidikan hasil pemikiran
tokoh-tokoh kelas dunia dapat dengan mudah diakses oleh Ki Hajar Dewantara. Hasil
riset-riset terbaru dunia pendidikan dapat dengan mudah beliau akses, beliau
dapat pelajari lebih mendalam ketimbang ketika masih di tanah air. Termasuk
salah satunya kurikulum sekolah Maria Montesori yang banyak digunakan
sekolah-sekolah elit terkenal di seluruh dunia. Hasil pembelajaran beliau
dengan otak jeniusnya tersebut kemudian beliau rangkum untuk dibawa pulang ke
Indonesia yang selanjutnya dijadikan dasar-dasar filosofis pendidikan di
Sekolah Tamansiswa yang beliau dirikan.
Ok sekarang kita fokus ke filosofi pemikiran besar
beliau.
Filosofi terkenal yang selalu diterapkan di sekolah
adalah “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuru handayani”.
Seboyan tersebut sebenarnya adalah cocok untuk filosofi guru, karena memang
seharusnya gurulah yang harus menjiwai 3 semboyan itu. Yang akan saya bahas
sekarang adalah bagaimana dengan siswa? Apa filosofi dari hasil pemikiran besar
Ki Hajar Dewantara bagi siswa? Seperti kita ketahui bahwa pendidikan itu
sejatinya adalah harus berpusat pada anak. Fokus utama pendidikan adalah siswa.
Hal utama yang mendasar bagi pendidikan adalah
tujuan pendidikan. Apa sebenarnya tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara?
Supaya pintar? Dapat nilai bagus? Dapat ijazah, gelar, yang kemudian dapat
kerja? Ternyata tidak. Tujuan utama pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara
adalah “Memerdekakan manusia”. Apa itu manusia merdeka? Menurut Ki Hajar
Dewantara manusia merdeka itu adalah selamat dan bahagia.
Membaca tujuan utama dari pendidikan dari beliau
adalah selamat dan bahagia.

Nah mulai dari sini barulah aku sadar, bahwa sebenarnya
hal-hal seperti itu belum saya lakukan di sekolah. Padahal menurut Ki Hajar
Dewantara “pendidikan harusnya memerdekakan manusia, menghasilkan manusia yang
selamat dan bahagia”. Kira-kira semua orang setelah menyelesaikan sekolahnya
tahu nggak ya bagaimana caranya untuk bisa selamat dan bahagia? Lha kalau
diajarkan saja tidak di sekolah, bagaimana bisa tahu bagaimana caranya untuk
bisa hidup selamat dan bahagia? Disinilah sebagai guru saya menyadari harus
mengembalikan konsep dan tujuan utama pendidikan. Dimulai dari kelas saya saat
ini. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan itu menuntun, seperti kalau dalam
istilah jawa itu tletah artinya bayi itu bukan tidak bisa jalan, tapi orang tua
nletah si bayi untuk memulai bisa berjalan. Menuntun itu posisinya di belakang,
nletah bayi itu kita berada di belakang, artinya sesuai semboyan tutwuri
handayani, menuntun itu membimbing dari belakang, kalo akan jatuh segera dijaga
diarahkan dibimbing yang benar agar tidak jatuh. Memberdayakan menguatkan,
mendukung, biarkan potensinya yang bagus ditampakkan, untuk kemudian kita
fasilitasi agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Itu adalah yang benar harus
dilakukan guru. Menuntun segala potensi yang ada pada siswa menuju manusia yang
selamat dan bahagia.
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan itu memiliki 3
peran penting yang terkenal dengan semboyan Tri Rahayu yaitu :
1. “Hamemayu
hayuning sarira” Memajukan dan menjaga diri
2. “Hamemayu
hayuning bangsa” Memelihara dan menjaga bangsa
3. “Hamemayu
hayuning bawono” Memelihara dan menjaga alam
Semua itu terhubung dan semua berkontribusi pada
kepentingan yang lebih besar. Semua terhubung dan harus dimulai dari diri kita
masing-masing. Memerdekakan satu orang adalah langkah awal memerdekakan satu
keluarga. Memerdekakan keluarga adalah langkah awal memerdekakan suatu daerah.
Memerdekakan daerah adalah langkah awal memerdekakan bangsa. Semua saling
berkontribusi. Kita hidup bukan zamannya zero-sum-game, dimana untuk untung
yang lain harus rugi, tidak. Ini adalah zaman dimana kita bisa bahagia bersama
tanpa harus mengorbankan orang lain.
Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan itu harus
kontinue, konvergen dan konsentris.
Kontinue artinya berkelanjutan, belajar itu
terus-menerus sepanjang hayat. Ya tentunya berkelanjutan menuju yang lebih
baik. Hari ini harus lebih baik dari yang kemarin. Besuk harus lebih baik dari
hari ini. Itulah prinsip keberlanjutan pendidikan, maka jika hari ini kita sama
yang kemarin maka rugilah kita.
Konvergen artinya bahwa ilmu itu harus dari berbagai
sumber, Ki Hajar Dewantara mengambil konsep-konsep pendidikanya dari berbagai
konsep pendidikan tokoh dunia misalnya Maria Montesari, Frobel atau Rabindra
Natagore.
Berikutnya adalah konsentris artinya belajar dari
luar itu boleh saja tapi jangan lupa disesuaikan dengan identitas dan konteks
yang ada di hidup kita masing-masing. Artinya bahwa kita hanya boleh mengambil
sumber dari luar jika memang betul itu bermanfaat bagi pencapaian tujuan utama
pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan. Walupun itu berasal dari diri
sendiri atau lingkungan sendiri tetapi jika memang tidak bermanfaat dalam
menunjang pencapaian tujuan utama pendidikan, juga harus dihindarkan.
Demikian sekedar refleksi
terhadap pemikiran besar Ki Hajar Dewantara sebagai seorang guru. Mudah-mudahan
ke depan bisa meneladani jasa besar beliau terhadap pendidikan di negeri ini
dimulai dari kelas dan sekolah saya sendiri.