PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA TENTANG PERKALIAN DAN PEMBAGIAN MELALUI PENDEKATAN KELOMPOK TUTOR SEBAYA PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI MUNGGUR
Sunarto
Abstrak: rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah proses pembelajaran, seberapa banyak peningkatan prestasi belajar anak tentang perkalian dan pembagian, serta perubahan perilaku peserta didik melalui pendekatan kelompok dengan tutor sebaya pada siswa kelas IV SD Negeri Munggur. PTK ini dilakukan dua siklus. Terjadi perubahan perilaku belajar dari aspek keaktifan, semangat, kecepatan, kreatif, dan disiplin. Nilai karakter kerja sama, komunikatif, dan percaya diri terlihat baik. Hasil persentase ketuntasan belajar siswa meningkat dari kondisi awal 47,82% menjadi 69,57% di siklus I dan 86,96% pada siklus II, atau pada kondisi akhir mengalami peningkatan sebesar 39,14% dari kondisi awal.
Kata kunci: Tutor Sebaya, Prestasi belajar, Matematika.
PENDAHULUAN
Selama ini sebagian besar siswa masih beranggapan bahwa mata pelajaran Matematika adalah pelajaran yang paling menakutkan atau pelajaran yang dianggap paling sulit. Dari sekian banyak mata pelajaran di Sekolah Dasar menurut kurikulum yang diterapkan, dari tahun ke tahun prestasi yang paling rendah adalah pada mata pelajaran Matematika. Hal ini dapat dilihat beberapa tahun terakhir semua kelas selalu mematok KKM pada mata pelajaran Matematika yang paling rendah dibandingkan mata pelajaran yang lain. Pelajaran Matematika juga merupakan pelajaran yang nilai rata-ratanya paling rendah. Rata-rata mata pelajaran Matematika hanya pada kisaran 5,4 sampai dengan 7,0. Berbagai upaya peningkatan prestasi mata pelajaran Matematika telah banyak dilakukan, akan tetapi hasil yang dicapai belum menunjukan adanya peningkatan. Banyak kendala yang dihadapi guru dalam upaya meningkatkan prestasi siswa pada mata pelajaran Matematika.
Pembelajaran yang berhasil adalah dikuasai materi pembelajaran oleh peserta didik, biasanya dinyatakan dengan nilai. Ada banyak masalah ditemui pada saat proses pembelajaran berlangsung. Diantaranya banyak siswa yang tidak mamperhatikan pada saat guru menerangkan. Ada siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan, atau kalau menjawab tidak sesuai dengan harapan guru. Nilai yang diperoleh siswa pada tes akhir pada setiap pembelajaran rendah. Pada semester kedua ulangan tengah semester tahun 2012, hasil ulangan Matematika menunjukkan rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran. Dari 23 anak di kelas IV SD Negeri Munggur hanya 9 anak yang mendapat nilai tuntas ( di atas KKM 70 ). Hal ini karena pembelajaran yang dilakukan guru kurang memperhatikan model pembelajaran yang bervariasi. Joyce dkk (2011:7) menyatakan bahwa guru yang sukses bukan sekedar penyaji yang karismatik dan persuasif, namun lebih jauh guru yang sukses adalah mereka yang melibatkan siswanya dalam tugas-tugas yang sarat muatan kognitif, sosial dan mengajari mereka bagaimana mengerjakan tugas-tugas tersebut secara produktif. Demikian pula dalam pembelajaran Matematika tentang perkalian dan pembagian, guru memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan.
Berdasarkan deskripsi tersebut, maka diperlukan kegiatan pembelajaran pada aspek perkalian dan pembagian di kelas IV SD Negeri Munggur yang inovatif. Salah satu pembelajaran yang inovatif tersebut adalah penerapan pendekatan pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya. Melalui pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas IV SD Negeri Munggur sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah melalui pendekatan kelompok tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tentang perkalian dan pembagian kelas IV SD Negeri Munggur?
Tujuan penelitian ini adalah untuk: Meningkatkan pemahaman siswa tentang perkalian dan pembagian dengan menerapkan pendekatan tutor sebaya dalam pembelajaran.
Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan 1). Bagi penulis, perbaikan ini dapat meningkatkan kemampuan profesional dalam memperbaiki proses pembelajaran. 2). Bagi siswa SD Munggur pembelajaran dengan memanfaatkan kepandaian teman berguna untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang perkalian dan pembagian. 3). Bagi teman sejawat dapat digunakan sebagai sumber inspirasi dan perbandingan untuk mengambil tindakan dalam menangani kasus pembelajaran yang serupa.
KERANGKA TEORETIS, BERFIKIR DAN HIPOTESIS
Prestasi Belajar
Pengertian prestasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan, dikerjakan, diusahakan dan sebagainya (Badudu dan Zain Sutan Mohammad, 2001:108). Hasil ini dapat dinyatakan dengan kuantitif dan kualitatif. Hasil kuantitatif adalah hasil yang dinyatakan dengan kata-kata, seperti baik, cukup, sedang, kurang dan lain-lain. Sedangkan menurut Sardiman, A.M (2009:46) prestasi adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar.
Menurut Sugihartono, dkk. (2007:74), prestasi belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkunganya. Sedangkan Tulus Tu’u (2004:75) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Selain itu prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan beberapa pe-ngertian prestasi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran secara maksimal dan memuaskan yang dinyatakan dengan angka atau kata-kata.
Prestasi Belajar Siswa Tentang Perkalian dan Pembagian
Prestasi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Anonim, 2007:895) adalah hasil yang telah dicapai dari penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Demikian juga dalam kamus populer prestasi ialah hasil sesuatu yang telah dicapai (Purwodarminto, 1979 : 251)
Sedangkan menurut Sugihar-tono, dkk (2007:130) prestasi belajar adalah hasil pengukuran yang berwujud angka maupun pernyataan yang mencerminkan tingkat penguasaan materi pelajaran bagi para siswa. Sehingga prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa tersebut melalui serangkaian tes dengan menggunakan instrumen penilaian yang sesuai dengan indikator keberhasilan yang diharapkan.
Matematika berasal dari bahasa Yunani mathein atau mathenein yang berarti mempelajari. Akan tetapi ada pendapat lain bahwa diduga Matematika berasal dari bahasa Sansekerta medha atau widya yang berarti kepandaian, ketahuan atau intelegensi (Sri Subarinah, 2006:1).
Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar (SD dan SLTP) dan Pendidikan Menengah (SLTA dan SMK). Matematika sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih untuk menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi serta berpandu pada perkembangan IPTEK. Hal ini menunjukkan bahwa matematika sekolah tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu memiliki objek kejadian yang abstrak serta berpola pikir deduktif konsisten, (Erman Suherman, 2003:55)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Anonim, 2007:637) Matematika diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang bilangan, hubungan antar bilangan dengan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian mengenai bilangan. Bilangan-bilangan dalam Matematika banyak macamnya, diantaranya bilangan rasional, bilangan bulat, bilangan cacah, bilangan asli, bilangan genap, bilangan ganjil dan lain-lain. Matematika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada di dalamnya. Hakekatnya belajar Matematika adalah belajar konsep, struktur konsep dan mencari hubungan antar konsep dan strukturnya (Sri Subarinah, 2006:1).
Perkalian dan pembagian adalah materi dasar konsep di dalam mata pelajaran Matematika yang diajarkan pada seluruh jenjang sekolah. Operasi hitung perkalian dan pembagian telah diajarkan kepada siswa mulai dari tingkat dasar (SD), maka dari itu dapat dikatakan bahwa penguasaan materi Matematika adalah termasuk di dalamnya penguasaan materi perkalian dan pembagian.
Berdasarkan pengertian yang dikemukakan para ahli di atas, maka dapat dikatakan bahwa prestasi belajar Matematika adalah penguasaan materi yang dicapai siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Pendekatan dalam Pembelajaran
Interaksi dalam pembelajaran adalah bagaimana cara guru dapat meningkatkan motivasi belajar dari siswa. Hal ini berkaitan dengan strategi apa yang dipakai oleh guru, bagaimana guru melakukan pendekatan terhadap siswanya. Dalam sebuah pembelajaran yang baik guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator. Dalam peranannya sebagai pembimbing, guru berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Guru sebagai fasilitator berusaha memberikan fasilitas yang baik melalui pendekatan yang dilakukan. Proses interaksi pem-belajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar pada siswa ialah bagaimana cara guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan karakter pembelajaran.
Pendekatan (approach) pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan sisiwa. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan juga sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru melakukan pendekatan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran, dan Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru menjadi subjek utama dalam proses pembelajaran.
Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar pastilah guru menggunakan pendekatan pembelajaran, salah satunya ialah pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan pelu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal ini disadari bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo secius, yakni makhluk yang berkecendrungan untuk hidup bersama.
Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Tentu saja sikap ini pada hal-hal yang baik saja. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem dalam mata rantai kehidupan semua makhluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu.
Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan. Tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif pun terjadi dikelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik yang aktif, kreatif, dan mandiri.
Ketika guru akan menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode yang akan dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada anak didik memang cocok didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu, pendekatan kelompok tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan hah-hal yang ikut mempengaruhi penggunaannya.
Dalam pengelolaan kelas, terutama yang berhubungan dengan penempatan anak didik, pendekatan kelompok sangat diperlukan . Perbedaan individual anak didik, pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan pendekatan kelompok.
Pendekatan Kelompok Tutor Sebaya
Pendekatan Tutor Sebaya sejatinya adalah pendekatan kelompok dengan memanfaatkan teman dalam kelompoknya sebagai sumber belajar siswa. Tentu saja ada beberapa hal harus dilakukan guru dalam menerapkan pendekatan ini. Terutama ketika teman sebaya dijadikan sumber belajar bagi siswa. Diantara syarat yang bisa dipakai guru untuk memilih siswa sebagai sumber belajar siswa adalah : 1). Siswa memiliki kemampuan akademik yang lebih jika dibandingkan dengan mayoritas siswa di kelasnya. 2). Memiliki kemampuan berbicara yang lebih baik dari teman-teman sekelasnya. 3). Memiliki kemampuan bersosialisasi dengan baik. 4). Menguasai materi yang sedang diajarkan oleh guru.
Menurut Kuswaya Wihardit “Pembelajaran tutor sebaya adalah pembelajaran dimana siswa yang pandai membantu belajar siswa lainya dalam tingkat kelas yang sama”. Lebih lanjut menurut Miller yang telah dikutip oleh Aria Djalil (1997;3;34) “Setiap saat murid memerlukan bantuan dari murid lainnya dan murid dapat belajar dari murid lainnya”. Jan Collingwood juga berpendapat seperti kutipan Aria Djalil (1991;19) bahwa “Anak memperoleh pengetahuan dan ketrampilan karena dia bergaul dengan teman lainnya”.
Pada pembelajaran Perkalian dan pembagian kelas IV, Guru dapat memilih salah satu pendekatan pembelajaran kelompok yaitu dengan tutor sebaya dalam kelompok-kelompok belajar. Akan tetapi dalam penerapannya dalam pembelajaran, agar memperoleh hasil yang baik yaitu siswa memahami materi dengan maksimal perlu memperhatikan langkah-langkah yang benar agar pembelajaran lebih bermakna.
Menurut Hisyam Zaini dalam kutipan Amin Suyitno (2004;34), untuk menerapkan pendekatan kelompok dengan Tutor Sebaya, agar berhasil dengan baik perlu memperhatikan langkah-langkah pembelajarannya adalah : 1). Pilihlah materi yang dapat dipelajari siswa secara mandiri. 2). Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yaitu dengan menyebar siswa yang pandai ke dalam kelompok-kelompok yang akan bertindak sebagai tutor sebaya. 3). Masing-masing kelompok diberi tugas-tugas yang dalam mengerjakan tugasnya, siswa mendapat bimbingan tutornya. 4). Siswa diberi waktu yang cukup untuk persiapan. 5). Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan hasil dari tugas yang diberikan guru. Guru bertindak sebagai sebagai narasumber utama. 6). Setelah kelompok menyampaikan tugasnya secara berurutan, guru memberikan kesimpulan dan klarifikasi pemahaman siswa yang perlu diluruskan.
Mata pelajaran Matematika adalah termasuk mata pelajaran muatan nasional, yaitu pelajaran yang wajib dipelajari di semua jejang sekolah dasar. Efektifitas pembelajaran Matematika di sekolah dasar masih banyak menemui hambatan. Terbukti bahwa mata pelajaran Matematika adalah termasuk yang ditakuti oleh sebagian besar siswa. Prestasi yang rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain menunjukkan bahwa mata pelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa.
Sedangkan pembelajaran dengan pendekatan kelompok tutor sebaya merupakan bentuk pembelajaran yang efektif dan efisien, karena pada kenyataanya dalam pembelajaran sehari-hari tidak sedikit siswa cenderung lebih memahami bahasa teman sebayanya dalam belajar. Hal ini apabila guru mengelola dengan baik akan lebih mendukung suksesnya pencapaian peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.
Kerangka Berpikir
Hasil belajar dan proses belajar perkalian maupun pembagian yang diharapkan belum tercapai secara optimal, sebenarnya materi perkalian dan pembagian merupakan salah satu materi konsep pada Mata Pelajaran Matematika, tetapi persepsi siswa terlebih dahulu mengatakan bahwa mata pelajaran Matematika merupakan Mata Pelajaran yang sangat sulit dan menakutkan. Hal ini terjadi karena pada kenyataanya proses pembelajaran Matematika terlihat sangat membosankan bagi siswa. Proses pembelajaran Matematika dengan penjelasan guru secara klasikal di papan tulis dengan satu per satu contoh pengerjaan soal dengan siswa hanya memperhatikan secara bersama-sama memungkin-kan siswa kurang memahaminya. Ditambah lagi jika siswa terlihat sangat sulit mengerjakan soal karena kurang memahami bahasa penjelasan guru yang kadang dengan nada marah karena banyak siswa yang tidak juga memahami walaupun sudah berulang kali dijelaskan guru pada materi yang sama.
Pendekatan kelompok dengan Tutor Sebaya ini diharapkan dapat mengatasi kesulitas siswa memahami bahasa penjelasan guru. Bahasa teman sebaya yang dipilih dari teman-teman satu kelas yang paling pinter dalam mata pelajaran Matematika, dengan model pembelajaran kelompok-kelompok kecil memungkinkan siswa lebih memahami materi pelajaran perkalian dan pembagian. Materi perkalian dan pembagian yang dikemas dengan sederhana, melalui penjelasan dari teman yang dipilih terpandai di masing-masing kelompok, memungkin-kan mudah dipahami oleh semua siswa di kelompoknya. Kegiatan pembe-lajaran akan lebih efektif karena semua siswa akan belajar secara bersama-sama di kelompoknya. Sehingga pembelajaran akan lebih menye-nangkan bagi siswa. menjadikan pembelajaran pada Mata Pelajaran Matematika dapat lebih menarik, pembelajaran menjadi lebih interaktif, kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan, sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
Dilihat dari pentingnya pendekatan pembelajaran ini maka diharapkan hasil belajar dan proses belajar Matematika sesuai dengan tujuan yang diinginkan akan tercapai , maka guru perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang berbagai macam metode pembelajaran inovatif yang mampu mengikat konsentrasi anak dalam belajar yang disesuaikan dengan kesenangan belajar anak agar lebih bervariasi dalam proses belajar mengajar.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, peneliti berasumsi bahwa: 1) penerapan pendekatan pembe-lajaran kelompok Tutor Sebaya diduga meningkatkan aktivitas belajar peserta didik, 2) Pendekatan pembelajaran Kelompok Tutor Sebaya diduga efektif untuk merubah perilaku belajar peserta dalam pembelajaran perkalian dan pem-bagian, dan 3) penerapan pende-katan pembelajaran Kelompok Tutor Sebaya diduga efektif meningkatkan prestasi belajar peserta didik kelas IV SD Negeri Munggur semester 2 tahun pelajaran 2013/2014.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2013/2014. Masing-masing siklus dilakukan kegiatan pembelajaran sebanyak dua kali pertemuan. Siklus 1 dilaksanakan pada Senin 9 September 2014 dan Senin 16 September 2014. Sedangkan siklus 2 dilaksanakan pada hari Senin, 23 September 2014 dan Senin 7 Oktober 2014.
Subjek penelitian adalah penguasaan pengerjaan operasi hitung perkalian dan pembagian peserta didik kelas IV SD Negeri Munggur tahun pelajaran 2013/2014. Adapun sumber data dari penelitian ini: 1) peserta didik yang jumlahnya sebanyak 23 siswa, yang terdiri atas 15 peserta didik perempuan dan 8 peserta didik laki- laki, 2) guru kelas, dan teman sejawat.
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data berbentuk tes dan nontes. Tes digunakan untuk mengetahui penguasaan operasi hitung perkalian dan pembagian peserta didik. Teknik nontes berupa observasi dengan lembar observasi dan catatan harian digunakan untuk menilai aktivitas, keaktifan, dan perubahan tingkah laku peserta didik selama kegiatan dilakukan.
Analisis data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk analisis kualitatif dengan metode pemaparan secara deskriptip komparatif, yakni mendeksripsikan semua temuan dalam penelitian disertai dengan data-data kuantitatif yang dianalisis secara sederhana (persentase).
Indikator kinerja penelitian ini adalah: (1) adanya peningkatan perolehan nilai rata-rata ulangan harian dari 47,82% menjadi minimal rata-rata 86,96% (2) perubahan perilaku peserta didik dari tidak aktif menjadi aktif dalam pembelajaran perkalian dan pembagian dengan menerapkan pendekatan pembelajar-an kelompok tutor sebaya, dan 3) tingkat ketuntasan minimal (KKM) dari yang lulus KKM 70 sebanyak 11 peserta didik (47,82%) menjadi sedikitnya 20 peserta didik (86,96%).
Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Munggur Kec. Andong. Penelitian ini penulis laksanakan berawal ketika pertama kali mengajarkan materi perkalian dan pembagian. Di dalam proses belajar mengajar tersebut guru mengajar dengan mempersiapkan RPP dengan strategi pembelajaran yang menggunakan metode ceramah saja, sesekali melakukan tanya jawab dan menyuruh salah satu siswa untuk mengerjakan perkalian di papan tulis.
Perbaikan pembelajaran terletak pada pendekatan pembelajaran, dilakukan pada siklus 1 dengan tahapan : 1) Guru memberi contoh mengerjakan perkalian dengan penjumlahan berulang di papan tulis, 2) Selanjutnya siswa dibentuk menjadi 4 kelompok dengan 1 orang siswa yang terpandai untuk menjadi tutor dalam kelompoknya, 3) Anggota kelompok yang lain mengerjakan soal perkalian sesuai dengan penjelasan tutor masing-masing kelompok dengan soal yang sama dengan yang telah tutor masing-masing kelompok telah jelaskan, 4) Semua anggota kelompok mengerjakan soal latihan yang ditulis di papan tulis di kelompok masing-masing dengan bimbingan tutor, 5) Hasil mengerjakan soal latihan dengan bimbingan tutor kemudian dibahas secara bersama-sama dengan kelompok lain dengan arahan guru, 6) Kegiatan ini diakhiri dengan mengerjakan soal sebagai uji kompetensi bagi semua siswa.
Perbaikan siklus 2 terletak pada penentuan peserta didik sebagai anggota masing-masing kelompok, yaitu dengan memperhatikan tingkat pemahaman masing-masing siswa. Sehingga pembelajaran diharapkan akan berjalan lebih lancar karena dengan tingkat pemahaman yang hampir sama masing-masing kelompok menutup kemungkinan terdapat kelompok tidak jalan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBA-HASANNYA
Hasil Penelitian
Kondisi awal peserta didik kelas IV SD Negeri Munggur semester 2 tahun pelajaran 2013/2014 adalah peserta didik kurang memiliki pemahaman tentang operasi perkalian dan pembagian secara benar, terbukti dengan banyaknya peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan tidak bersemangat. Bahkan ada beberapa siswa tidak mengerjakan soal-soal latihan yang ditulis guru di papan tulis. Hasil evaluasi yang dilaksanakan di akhir pembelajaran juga menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang baru disampaikan sangat rendah. Pembelajaran dilakukan dengan strategi pembelajaran yang menggunakan metode ceramah saja, sesekali melakukan tanya jawab dan menyuruh salah satu siswa untuk mengerjakan perkalian di papan tulis.
Dalam setiap pembelajaran mata pelajaran Matematika nilai siswa dalam mengerjakan tugas latihan dari guru selalu rendah di bawah KKM yang telah ditetapkan yaitu 70,00. Dari 23 siswa kelas IV terdapat 12 anak bernilai di bawah KKM. Bahkan setiap guru memberikan tugas rumah selalu ada anak yang tidak masuk karena takut belum mengerjakan tugas Matematika pada minggu sebelumnya. Dari sinilah guru berusaha memperbaiki cara mengajar agar siswa tidak lagi melakukan hal-hal seperti pembelajaran-pembelajaran sebelumnya.
Gambar. 1
Kondisi Awal Peserta Didik pasif dan tiduran dalam pembelajaran
Data nilai peserta didik yang diperoleh menunjukkan kondisi awal peserta didik memiliki kemampuan mengerjakan operasi hitung perkalian yang rendah. Kondisi awal siswa dapat dilihat pada tabel hasil belajar berikut;
Tabel 1.
Analisis Hasil Belajar Siswa tentang Pembagian dan Perkalian Kondisi Awal.
No | Nilai ( x ) | Frekuensi ( y ) | Jumlah ( f * x ) | Prosentase Ketuntasan |
1 | 100 | 0 | 0 | Tuntas = 11 x 100% 23
= 47,82 % |
2 | 90 | 2 | 180 |
3 | 80 | 9 | 720 |
|
|
|
|
4 | 70 | 3 | 210 | Belum Tuntas = 12 x 100% 23
= 52,17 % |
5 | 60 | 2 | 120 |
6 | 50 | 4 | 200 |
7 | 40 | 3 | 120 |
8 | 30 | 0 | 0 |
9 | 20 | 0 | 0 |
10 | 10 | 0 | 0 |
Jumlah | 23 | 1550 |
|
Rata-rata |
| 67,39 |
|
Berdasarkan nilai hasil tugas yang diberikan guru pada materi perkalian diketahui bahwa peserta didik yang belum dapat mencapai kriteria ketuntasan minimal (70) masih sebanyak 12 peserta didik (52,17%) dari jumlah peserta didik seluruhnya 23. Peserta didik yang mencapai tingkat ketuntasan minimal sebanyak 11 peserta didik (47,82%) dari jumlah peserta didik seluruhnya. Nilai rata-rata kelas peserta didik 67,39 dengan nilai paling tinggi 90 dan nilai paling rendah adalah 40.
Tabel 2.
Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Peserta Didik Siklus Awal
Responden 23 | Aspek yang Diamati |
Memperhatikan | Mencatat | Kerjasama | Mengerjakan Tugas |
Skor yang diperoleh | 67 | 66 | 59 | 66 |
Skor Mak | 92 | 92 | 92 | 92 |
Persentase | 72,83 | 71,74 | 64,13 | 71,74 |
Analisis | Cukup | Cukup | Kurang | Cukup |
Berdasarkan tabel tersebut dapat dipaparkan bahwa aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran kurang bersemangat, kurang menarik. Ada beberapa anak justru tidak memperhatikan penjelasan guru, tidak mencatat materi yang penting untuk diingat, tidak ada kerjasama dengan teman yang lain dalam usaha memahami materi dan juga ada siswa yang bahkan tidak mengerjakan soal latihan.
Hasil Penelitian Siklus 1
Pembelajaran dengan Belajar Kelompok Tutor Sebaya.
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dideskripsikan, peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) perbaikan. Setelah RPP disusun, maka kegiatan selanjutnya adalah membentuk siswa menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin oleh 4 siswa yang paling tinggi prestasinya dibidang Matematika.
Pelaksanaan tindakan siklus pertama ini dilakukan pada hari Senin tanggal 9 September dan 16 September 2013. Kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya ini dilakukan di dalam kelas oleh guru kelas sebagai peneliti dan teman sejawat untuk berkolaborasi.
Aktivitas proses kegiatan pembelajaran siklus 1 dapat dilihat dalam gambar berikut ini ;
Gambar 2.
Siswa Mendengarkan cara belajar kelompok tutor sebaya
Gambar 3.
Ketua kelompok menjadi Tutor bagi teman kelompoknya Penjelasan Tutornya
Pembelajaran dari awal sampai akhir dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah dijelaskan. Pada akhir pembelajaran dilakukan ulangan harian untuk mengetahui keber-hasilan tindakan siklus 1.
Peningkatan Pemahaman Siswa tentang Perkalian dan Pembagian.
Hasil belajar pada pembe-lajaran perkalian dan pembagian dengan model pembelajaran kelom-pok dengan Tutor Sebaya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut;
Tabel 3.
Analisis Hasil Belajar Siswa tentang Pembagian dan Perkalian Siklus 1
No | Nilai ( x ) | Frekuensi ( y ) | Jumlah ( f * x ) | Prosentase Ketuntasan |
1 | 100 | 0 | 0 | Tuntas = 16 x 100% 23
= 69,57 % |
2 | 90 | 4 | 360 |
3 | 80 | 12 | 960 |
|
|
|
|
4 | 70 | 3 | 210 | Belum Tuntas = 7 x 100% 23
= 30,43 % |
5 | 60 | 2 | 120 |
6 | 50 | 2 | 100 |
7 | 40 | 0 | 0 |
8 | 30 | 0 | 0 |
9 | 20 | 0 | 0 |
10 | 10 | 0 | 0 |
Jumlah | 23 | 1750 |
|
Rata-rata |
| 76,09 |
|
Berdasarkan tabel tersebut hasil belajar siswa meningkat. Hasil tindakan dalam siklus pertama menunjukkan bahwa sebanyak 16 (69,57%) siswa mencapai ketuntasan dalam pembelajaran perkalian dan pembagian, dan 7 (30,43%) siswa masih mengalami tidak tuntas. Rata-rata kelas sebesar 76,09, nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 40.
Perubahan Perilaku Belajar Peserta didik
Hasil pengamatan keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran Matematika tentang perkalian dan pembagian dalam siklus 1 dapat dilihat dalam tabel 3 berikut.
Tabel 4
Analisis Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Peserta Didik Siklus 1
Responden 23 | Aspek yang Diamati |
Memperhatikan | Mencatat | Kerjasama | Mengerjakan Tugas |
Skor yang diperoleh | 72 | 71 | 76 | 78 |
Skor Mak | 92 | 92 | 92 | 92 |
Persentase | 78 | 77 | 83 | 85 |
Analisis | Baik | Baik | Baik | Baik |
Berdasarkan tabel tersebut dapat dipaparkan bahwa terjadi perubahan perilaku belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kelompok tutor sebaya, dari yang kurang aktif menjadi aktif, kurang semangat menjadi semangat.
Refleksi Siklus 1
Refleksi hasil pembelajaran kelompok dengan Tutor Sebaya pada materi perkalian dan pembagian ini, dapat dikemukakan beberapa kekurangan yang dapat digunakan sebagai acuan untuk kegiatan siklus berikutnya. Kelemahan pada siklus pertama antara lain: 1) Peserta didik masih sering ragu ketika mengerjakan tugas latihan soal, 2) peserta didik masih belum tepat dalam mengerjakan soal latihan, 3) peserta didik masih sulit mengerjakan soal-soal latihan pengerjaan perkalian dan pembagian.
Kelebihan pada siklus 1 ini adalah: adanya peningkatan semanagt belajar peserta didik sehingga meningkatkan pemahaman tentang perkalian dan pembagian. Nilai rata-rata 76,09 pada siklus 1, hal ini berarti ada peningkatan sebesar 6,73. Peningkatan hasil belajar ini karena pembelajaran Matematika pada materi menulis perkalian dan pembagian dilakukan dengan memanfaatkan model pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya. Pembelajaran ini masih perlu ditingkatkan karena indikator kinerja belum tercapai.
Hasil Penelitian Siklus 2
Proses Pembelajaran kelompok dengan Tutor Sebaya.
Berdasarkan refleksi hasil pembelajaran siklus 1, peneliti menyusun RPP perbaikan, selanjutnya membentuk siswa dalam kelompok belajar dengan tutor yang telah dipilih merupakan siswa-siswa yang berkemampuan paling bagus di kelas dan di masing-masing kelompok.
Pelaksanaan tindakan siklus 2 ini dilakukan pada hari Senin tanggal 23 September 2013 untuk pertemuan pertama, dan pertemuan ke dua dilaksanakan hari Senin tanggal 7 September 2013. Kegiatan penelitian ini dilakukan di dalam kelas oleh guru kelas sebagai peneliti dan teman sejawat untuk berkolaborasi. Aktivitas proses kegiatan pembelajaran siklus 2 dapat dilihat dalam gambar berikut ini;
Gambar 4.
Guru membimbing kelompok belajar kelompok tutor sebaya
Gambar 5.
Ketua kelompok menjadi Tutor bagi teman kelompoknya
Pembelajaran kelompok de-ngan tutor sebaya pada siklus 2 dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah diuraikan pada bab III. Setelah pertemuan kedua, dilakukan ulangan harian untuk mengetahui keberhasilan tindakan yang diberikan.
Peningkatan Pemahaman Siswa pada Perkalian dan Pembagian.
Hasil pembelajaran materi perkalian dan pembagian dengan model pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ;
Tabel 5.
Analisis Hasil Belajar Siswa tentang Pembagian dan Perkalian Siklus 2
No | Nilai ( x ) | Frekuensi ( y ) | Jumlah ( f * x ) | Prosentase Ketuntasan |
1 | 100 | 4 | 400 | Tuntas = 20 x 100% 23
= 86,96 % |
2 | 90 | 4 | 360 |
3 | 80 | 12 | 960 |
|
|
|
|
4 | 70 | 1 | 70 | Belum Tuntas = 3 x 100% 23 = 13,04 % |
5 | 60 | 2 | 120 |
6 | 50 | 0 | 0 |
7 | 40 | 0 | 0 |
8 | 30 | 0 | 0 |
9 | 20 | 0 | 0 |
10 | 10 | 0 | 0 |
Jumlah | 23 | 1910 |
|
Rata-rata |
| 83,04 |
|
Berdasarkan tabel tersebut hasil belajar siswa meningkat. Hasil tindakan dalam siklus 2 menunjukkan bahwa sebanyak 20 (86,96%) siswa mencapai ketuntasan dalam pembelajaran perkalian dan pembagian, dan 3 (13,04%) siswa masih mengalami tidak tuntas. Rata-rata kelas sebesar 83,04, nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60.
Perubahan Perilaku Belajar Peserta didik
Hasil pengamatan keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran Matematika tentang perkalian dan pembagian dalam siklus 2 dapat dilihat dalam tabel 4 berikut.
Tabel 6.
Analisis Hasil Pengamatan Terhadap Aktivitas Peserta Didik Siklus 2
Responden 23 | Aspek yang Diamati |
Memperhati-kan | Mencatat | Kerjasama | Mengerjakan Tugas |
Skor yang diperoleh | 74 | 74 | 77 | 85 |
Skor Mak | 92 | 92 | 92 | 92 |
Persentase | 80 | 80 | 84 | 92 |
Analisis | Baik | Baik | Baik | Baik |
Berdasarkan tabel tersebut dapat dipaparkan bahwa pembelajaran perkalian dan pembagian dengan model pembelajaran kelompok tutor sebaya, nilai-nilai karakter yang ditanamkan pada peserta didik mulai dari kerjasama, komunikatif, dan percaya diri terlihat baik dan baik sekali.
Refleksi Siklus 2
Refleksi hasil pembelajaran dengan model pembelajaran kelompok tutor sebaya materi perkalian dan pembagian pada siklus 2 ini adalah: adanya peningkatan semangat belajar peserta didik sehingga meningkatkan pemahaman tentang perkalian dan pembagian dengan rata-rata kelas menjadi 83,04. Hal ini berarti ada peningkatan sebesar 6,95 dari siklus 1. Peningkatan hasil belajar ini karena pembelajaran Matematika pada materi perkalian dan pem-bagian dilakukan dengan meman-faatkan model pembelajaran kelompok tutor sebaya. Pembela-jaran ini mencapai indikator kinerja, yakni rata-rata kelas lebih dari 75% dan tingkat pencapaian KKM mencapai 86,96% dari jumlah siswa.
Pembahasan Hasil Penelitian
Proses Pembelajaran Perkalian dan Pembagian dengan Model Pembelajaran Kelompok dengan Tutor Sebaya.
Pembelajaran dengan mene-rapkan model pembelajaran kelom-pok tutor sebaya di kelas V SD Negeri Munggur, dengan materi perkalian dan pembagian, menunjukkan aktivitas belajar peserta didik yang meningkat, peru-bahan perilaku belajar peserta didik, serta pemahaman tentang perkalian dan pembagian yang meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijono (2012:54) bahwa pembelajaran kooperatif atau kolaboratif dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa secara kelompok maupun individu.
Pembelajaran kelompok tutor sebaya, ternyata dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik. Peserta didik yang biasanya perhatiannya kurang, tampak menjadi lebih antusias pada pembelajaran ini. Demikian pula peserta didik yang sudah mulai jenuh dengan pembelajaran yang monoton dan tidak bervariasi, kembali lebih berkonsentrasi dan motivasi belajar peserta didik untuk materi perkalian dan pembagian dalam pembelajaran ini karena dengan model pembelajaran tutor sebaya peserta didik yang biasanya melakukan kegiatan pembelajaran secara individu dilakukan secara kelompok (kolaboratif) dengan memanfaatkan media. Hal ini senada dengan manfaat dari media, menurut Hamalik (2000:108) antara lain adalah : 1) menarik minat, 2) member gambaran yang jelas, 3) mempunyai tinjauan yang luas dan 4) mendorong kreativitas peserta didik.
Berdasarkan deskripsi tersebut, maka hipotesis yang diajukan diterima, yakni proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik terbukti adanya peningkatan keaktifan, semangat, ketepatan, kreatifitas, dan disiplin dalam proses pembelajaran kelompok tutor sebaya.
Pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya pada mata pelajaran Matematika yang dilakukan, terlihat bahwa peserta didik belajar dengan antusias dan semangat yang tinggi, sehingga tujuan yang diharapkan tercapai dan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter sesuai dengan program pemerintah secara eksplisit maupun emplisit dapat diterapkan. Maka dari itu pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya ini dapat mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan dan dapat mencapai dampak pengiring yang diharapkan yanng berupa nilai-nilai pendidikan karakter. Hal ini senada dengan pendapat dari Joyce (2011:8) yang menyatakan bahwa model pembelajaran yang efektif selain mencapai tujuan instruksional juga dapat merumuskan dampak pengiring yang akan ditanamkan pada anak.
Berkaitan dengan pendapat tersebut, maka penggunaan model pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya, memang dapat menarik minat peserta didik untuk belajar dan memahami materi perkalian dan pembagian, sehingga peserta didik mempunyai tinjauan yang luas dalam menyelesaikan masalah mulai dari permasalahan yang mudah dan sederhana hingga yang kompleks. Dengan adanya keuntungan-keuntungan dari pemanfaatan model pembelajaran kelompok tutor sebaya ini, maka hipotesis yang dikemukakan diterima, yakni pembelajaran dengan memanfaatkan model pembelajaran kelompok tutor sebaya pada mata pelajaran Matematika tetang perkalian dan pembagian terbukti dapat mengubah perilaku belajar peserta didik kelas IV SD Negeri Munggur, semester 2 tahun pelajaran 2013/2014.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya pada materi perkalian dan pembagian dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V SD Negeri Munggur semester 2 tahun pelajaran 2013/2014. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar pada masing-masing aspek tersebut di setiap siklusnya. Model pembelajaran kelompok tutor sebaya dapat meningkatkan perilaku belajar peserta didik menjadi lebih semangat, aktif, kreatif, dan disiplin. Juga dapat menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter kerjasama, komunikatif, dan rasa percaya diri.
Model pembelajaran kelompok tutor sebaya dapat dijadikan sebagai alternatif bagi guru dalam memilih strategi pembelajaran yang bervariasi sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada siswa dalam proses pembelajaran. Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut dengan perubahan strategi pada pembelajaran kelompok yang lebih bervariasi sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar serta kemampuan kerjasama siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek, (Jakarta; Rineka Cipta, 1998)
Djalil Aria dkk, Pembelajaran Kelas Rangkap, (Jakarta; Depdikbud, 1977)
Erman Suherman, dkk 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Konteporer, Bandung, UPI
Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Citra Adi Karya.
Hartono, Statistik untuk Penelitian, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2004)
IGAK Wardani dkk . Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta : Universitas Terbuka ; 2000)
Joyce, Bruce. Marsha, Weil. Emily, Calhoun. 2011. Models of Teaching.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kemendiknas. 2010.Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kemendinas.
Khamim, Supodo, Pintar Matematika 5, (Jakarta; Cipta Prima Budaya, 2006)
Koesoema, Doni. 2010. Pendidikan Karakter Startegi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grafindo.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung; Remaja Rosda Karya, 1990. Hal 5.
Purwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta; Balai Pustaka, 1979)
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2003)
Sri Subarinah, Inovasi Pembelajaran Matematika SD, (Jakarta : DepDikNas, 2006), hlm. 1.
Sugihartono dkk Psikologi Pendidikan Tahun 2007. UNY Press.
Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suyitno Amin, Dasar-Dasar Proses Pembelajaran Matematika, Bahan Ajar S1 Program Studi Pendidikan Semarang : (UNES 2004)
Suyitno Amin, Dasar-Dasar Proses Pembelajaran Matematika, Bahan Ajar S1 Program Studi Pendidikan Semarang : (UNES 2004)
Tu’u Tulus, Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, Jakarta, PT. Grasindo, 2004.
Wina Putra U.S. Suciati Irawan P Stratei Belajar Mengajar. (Jakarta : Universitas Terbuka. ; 1997)
Zaenal A Mulyono A Tes dan Asesmen di SD. (Jakarta : Universitas Terbuka ; 2003)