• Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Artikel Pendidikan Pengembangan Kapabilitas Guru di Era Digital.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantara

Salah satu pemikiran besar Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan adalah pendidikan merupakan upaya memerdekakan manusia baik secara lahiriyah maupun secara btiniah. Oleh karenanya sebagai seorang guru dan juga seorang pendidik kita dalam melaksanakan pembelajaran harus senantiasa menimplementasikan pemikiran besar Ki Hajar Dewantara tersebut yaitu memerdekakan peserta didik. Pertanyaannya adalah sebagai seorang guru apakah kita telah memerdekakan anak didik kita dalam setiap proses pembelajaran?

Mendidik menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang dimiliki anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Artinya bahwa mendidik itu menuntun seluruh bakat yang dimiliki anak sesuai kodratnya menuju perkembangan dan pertumbuhan menuju tumbuh kembang yang sesuai dengan bakat dan minat anak masing-masing. 

Jika dahulu kita mengenal teori “tabularasa” yang dicetuskan oleh John Locke, yang menatakan bahwa seorang anak lahir diibaratkan kertas kosong, tinggal orang dewasa mau menulisi seperti apa. Baik atau buruknya perkembangan anak terserah orang dewasa yang mewarnainya.

Teori tabularasa John Locke terbantahkan oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara, yaitu bahwa seorang anak terlahir telah memiliki bakat atau kodrat yang masih samar-samar. Tugas guru adalah menebalkan bakat samar-samar tersebut hingga seorang anak menemukan bakatnya setelah dewasa secara maksimal. Jika teori “tabularasa” itu kertas kosong maka  dengan diwarnai oleh orang dewasa yang sama maka ketika dewasa berada pada bakat yang sama tanpa perbedaan. Akan tetapi ternyata ketika dewasa anak tumbuh kembang dengan bakat yang berbeda-beda. Sehingga benar apa yang menjadi pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa orang dewasa (dalam hal ini guru) tugas utamanya adalah menuntun, memfasilitasi anak untuk semaksimal mungkin tumbuh dan berkembang sesuai bakat masing-masing, dan tidak mungkin akan tumbuh dan berkembang dalam satu bakat yang sama pada seluruh peserta didik.

Ki Hajar Dewantara menganalogikan proses pendidikan sebagaimana petani yang bercocok tanam. Dengan berbagai macam benih yang akan ditanam, ada padi, jagung kedelai dan sebagainya. Seorang petani hanya bisa menuntun dalam arti merawat tanaman padi dengan bercocok tanam, memberi pupuk, membasmi hama yang mengganggu sesuai ilmu menanam padi. Meskipun pertumbuhan padi dapat diusahakan lebih baik dengan ilmu-ilmu tentang tanaman yang terbaru, tetapi petani tidak dapat mengubah kodratnya padi. Misalnya petani berharap menanam padi panen jagung, atau merawat tanaman jagung layaknya menanam padi pasti tidak akan bisa, dan tidak akan pernah terjadi. Begitulah seorang pendidik dengan segala kemampuannya menuntun peserta didik sesuai bakat dan minat anak. Tugas guru yang utama adalah memfasilitasi siswa, menuntun siswa untuk tumbuh berkembang sesuai dengan bakat yang telah menjadi takdirnya sejak dilahirkan. Seluruh siswa tidak bisa dipaksa untuk tumbuh dan berkembang dengan model yang sama. Misalnya seluruh siswa diharuskan menjadi pemain bola semua, tidak akan bisa, karena siswa kan tumbuh sesuai dengan bakat dan minat masing-masih. Ada yang memiliki bakat bermain bola, ada yang berbakat di bidang seni, ada yang berbakat pada ilmu pengetahuan eksakta dan lain sebagainya bakat yang sesuai sebanyak siswa. Tugas guru menuntun siswa sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh masing-masing siswa secara maksimal.

Selain itu, sebagai guru sekaligus sebagai seorang pendidik harus dapat mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang berpihak pada anak. Seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada anak”. Maksud dari ungkapan beliau adalah bahwa sebagai seorang pendidik harus dengan tulus ihklas mendidik siswa, tidak boleh menuntut apapun, hanya berusaha mendidik anak agar mencapai kebahagiaan hidup sebagai manusia dan masyarakat.

Merdeka belajar artinya bahwa sebagai seorang guru juga merupakan pendidik selain harus menuntun kodrat anak sesuai dengan bakat dan minatnya, juga harus mampu menuntun menumbuhkan budi pekerti yang baik siswa menuju manusia yang berahklak mulia. Ki Hajar Dewantara menumbuhkan budi pekerti siswa dengan cara menerapkan pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran meliputi “Hablumminallah yaitu bagaimana sikap manusia terhadap Tuhannya, dan “Hablumminannas” yaitu bagaimana hubungannya sikapnya dengan sesama manusia. Ditambah Ki Hajar Dewantara juga menanamkan pendidikan karakter kebangsaan agar siswa memiliki kepribadian yang khas serta jiwa bela negara dan cinta tanah air.

Dalam mensukseskan pendidikan dengan “merdeka belajar”, Ki Hajar Dewantara menerapkan tripusat pendidikan yang meliputi : 1) pendidikan di lingkungan keluarga. 2) pendidikan di sekolah dan 3) di lingkungan masyarakat. Yang pertama dan yang paling utama adalah penanaman pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Disinilah kunci utama pendidikan karakter pada anak. Dengan kasih sayang yang tulus dari keluarga tanpa pamrih, hanya memberi tanpa berharap menerima merupakan faktor utama penanaman karakter, watak dasar pada anak yang sangat berpengaruh pada pendidikan selanjutnya. Yang kedua adalah penyelenggaraan pendidikan di sekolah, yang secara formal sekolah diserahi tanggung jawab untuk mendidik putra-putrinya di sekolahan. Dengan segala fasilitas di sekolah orang tua berharap atas keberhasilan pendidikan putra-putrinya. Guru dengan profesionalisme yang diperoleh dari pendidikan yang telah ditempuh memiliki tanggung jawab yang besar untuk misi lembaga pendidikan yang diberikan tanggung jawab padanya untuk mengelola. Yang terakhir yang ketiga adalah di lingkungan masyarakat, adalah merupakan lingkungan di mana peserta didik bersosialisasi, bergaul dan bermain. Lingkungan masyarakat sangat berperan dalam mendukung keberhasilan pendidikan karakter bagi peserta didik, karena intensitas waktu bersama dengan lingkungan masyarakat sangat banyak. Sehingga dukungan masyarakat dalam keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan juga sangat diharapkan.

Ke depan sebagai harus mampu menjalin hubungan baik dengan orang tua/wali murid dan masyarakat. Karena pendidikan karakter tidak bisa hanya menitik beratkan pada proses di sekolah. Akan tetapi pengertian dan peran serta orang tua dengan dukungan masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah.


Share:

ALUR KERANGKA MERDEKA BELAJAR

Profil Pelajar Pancasila

Mendesain Kerangka Pembelajaran sesuai dengan Pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Profil Pelajar Pancasila dalam kerangka ‘Merdeka Belajar “salah satunya adalah Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia.

 

     1.  Tujuan Utama Profil Pelajar Pancasila

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

 

     2.  Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila yang dipilih :

Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia

 

Alasan memilih profil pelajar Pancasila

Karena beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia merupakan dasar dari dari semua profil pelajar Pancasila lainnya

Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia memiliki lima elemen kunci antara lain:

a. akhlak beragama

b. akhlak pribadi

c. akhlak kepada manusia

d. akhlak kepada alam

e. akhlak bernegara

 

     3.  Potensi yang dimiliki sekolah dan kelas untuk mendukung “Merdeka Belajar”

a.   Siswa yang semangat dengan potensi yang dimiliki

b.  Sekolah yang mendukung kemajuan pendidikan

c.   Dukungan orang tua dan lingkungan masyarakat

d.  Sarana dan prasarana pendukung KBM

e.   Memiliki kompetensi tentang norma-norma yang berlaku di lingkungan anak

f.    Memiliki kemampuan dalam bidang Ketuhanan YME yang sesuai dengan agama masing-masing.

 

     4.  Kompetensi Pelajar Pancasila

a.   Mengerti dan memahami serta mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

b.  Mengenali diri sendiri atas kelebihan dan kekurangannya untuk menggali potensi dan mengembangkan kemampuannya.

c.   Menghargai sesame teman dan menghormati guru

d.  Peduli terhadap lingkungan dan budaya sekolah

e.   Mengikuti upacara dan kegiatan hari besar nasional

 

     5.  Indikator Ketercapaian

Alur kerangka ‘Merdeka Belajar’ dapat dirancang diantaranya‘Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila’ Kompetensi Pelajar Pancasila dengan menunjukan Kemampuan menjalankan syariat agama masing-masing, menunjukkan perilaku yang berakhlak baik, dengan Indikator Ketercapaian :

a.   Peserta didik diharapkan dapat memgerti dan memahami serta mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

b.  Peserta didik diharapkan dapat mengenali diri sendiri atas kelebihan dan kekurangannya untuk menggali potensi dan mengembangkan kemampuannya.

c.   Peserta didik diharapkan dapat menghargai sesama teman dan menghormati guru baik disekolah maupun di luar sekolah

d.  Peserta didik diharapkan dapat peduli terhadap kebersihan lingkungan dan budaya sekolah

e.   Peserta didik diharapkan dapat aktif mengikuti upacara bendera setiap hari senin dan kegiatan-kegiatan hari besar nasional baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun masyarakat

 

     6.  Elaborasi pelaksanaan konkret di sekolah dan di kelas

Pelaksanaan secara konkret di sekolah yang dapat dilakukan untuk mencapai profil pelajar Pancasila diantaranya :  

a.   Melakukan pembiasaan yang menguatkan pendidikan karakter di sekolah baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler dengan pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, menghafal asmaul husna dan hafalan surat-surat pendek. Sedangkan ekstrakurikuler dengan tambahan pelajaran BTA dan kaligrafi.

b.  Shalat dhuhur bejamaah, infaq setiap hari Jumat, dan memperingati hari besar keagamaan

c.   Selalu bertutur kata yang santun dan berpakain sopan, menghargai sesama teman, dan menghormati guru

d.  Mengucapkan salam ketika bertemu teman atau guru

e.   Menjenguk teman apabila ada yang sakit, dan mendoakannya

f.    Melaksanakan piket setiap hari untuk membersihkan ruang kelas dan lingkungan serta membuang sampah pada tempatnya

g.   Membuat jadwal kegiatan yang dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan

h.  Bekerja sama dan berkolaborasi dengan semua pihak (guru, sekolah, orangtua siswa, dan masyarakat)

 

     7.  Pihak yang terlibat dalam elaborasi

a.   Peran giuru :

sebagai seorang pendidik, guru menjadi teladan bagi anak didik.Guru agama memilikin program khusus siswa dalam meningkatkan keagamaan mereka (shlat berjamaah, pesantren kilat, hari besar keagamaan). Guru dan semua fihak sekolah dapat mengajak orang tua diskusi diawal tahun pelajaran untuk berkolaborasi dalam meningkatkan kecerdasan karakter anak.

 

b.  Peran Sekolah

Sekolah menyediakan fasilitas tempat ibadah yang memadai

 

c.   Peran orang tua :

Orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak-anak dan berperan utama dalam pembentukan dasar-dasar kepribadian, kemampuan berfikir, kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan bersosialisasi

 

d.  Peran masyarakat

Bekerjasama ikut memberikan contoh kegiatan-kegiatan keagamaan dan mengawasi anak untuk menerapkan sikap-sikap keragamannya dalam kehidupan sehari-hari.


Contoh Alur Kerangka Merdeka Belajar dalam bentuk ppt bisa anda lihat disini : drive 1.1.a.5. Ruang Kolaborasi

Share:

Prota Tematik K-13 Kelas 3

Prota Tematik K-13 Kelas 3, adalah merupakan rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran selama satu tahun untuk mencapai seluruh kompetensi dasar (KD) dalam satu tahun yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Program Tahunan (Prota) merupakan dokumen administrasi persiapan Pembelajaran yang harus dibuat oleh guru sebelum mengajar. Hal ini penting dilakukan oleh setiap guru agar pembelajaran yang dilakukan berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Terarah, sistematis sesuai cakupan materi Pembelajaran selama satu tahun.

Prota Tematik K-13 Kelas 3 disusun guru harus berpedoman pada Permendikbud No 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Prota sendiri sendiri merupakan program perencanaan Pembelajaran yang harus disusun oleh guru dalam satu tahun. Prota Tematik K-13 Kelas 3 dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran terprogram secara berurutan, sistematis dalam satu tahun. Agar lebih mudah menyusun Program Tahunan (Prota) ada baiknya mengikuti langkah-langkah penyusunan berikut :

1.       .Membuat Pemetaan Kompetensi Dasar (KD) sesuai silabus masing-masing kelas.

2.     Periksa dengan teliti Kalender pendidikan yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan di Propinsi masing-masing. Dimana kalender pendidikan merupakan pedoman pelaksanaan proses belajar mengajar bagi Semua jenjang pendidikan

3.      Melakukan analisis hari efektif, hari libur nasional dan hari besar lainya sesuai kaldik, hari jeda semester.

4.     Melakukan perhitungan minggu efektif dengan cara :

a.      Hitung Jumlah minggu dalam 1 tahun

b.     Menentukan Jumlah minggu efektif selama 1 tahun

c.      Menghitung Jumlah jam efektif dengan cara Jumlah minggu efektif dikalikan dengan Jumlah jam efektif dalam seminggu

5.     Menyusun reencana alokasi waktu perminggu ke dalam Kompetensi Dasar (KD) dalam setahun. Dalam menentukan alokasi waktu dengan memperhatikan kompleksitar materi setiap KD, Jumlah jam pelajaran sesuai Jadwal dan struktur Kurikulum 2013.

 

Untuk memudahkan Bapak/Ibu guru dalam mencari referensi pembuatan Prota Tematik yang sesuai dengan Permendikbud No 22 Tahun 2016, di sini kami memberikan contoh Prota Tematik K-13 Kelas 3 secara lengkap sesuai dengan silabus dan pemetaan KD dalam 1 tahun.

 

Berikut adalah Prota Tematik K-13 Kelas 3 Tahun Pelajaran 2020/2021 :




Prota Tematik K-13 Kelas 3 dalam bentuk excel lengkap dengan cover bisa diambil melalui link berikut :

Prota Tematik K-13 Kelas 3

 

Share:

Pengembangan Kapabilitas Guru Era Digital

Mengembangkan Kapabilitas Guru Era Digital

Meningkatkan kesadaran pentingnya terus mengembangkan kapabilitas diri guru di era digital sekarang menjadi keharusan bagi seorang guru. Jika tidak maka bersiaplah untuk tereliminasi oleh zaman. Pengembangan guru yang berkualitas guna menunjang pembentukan pendidikan bermutu tidak sebatas bergantung pada program pendidikan guru yang ditempuh dan linieritas ijazah. Pengembangan kualitas guru sesungguhnya adalah terletak pada kemauan dan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya ketika telah menduduki jabatan sebagai guru. Minimal ada lima kapabilitas yang harus terus menerus dibangun guru dalam rangka mengembangkan kualitasnya (Darling-Hammond. et.al. ,1999; Nicholss, G., 2002, dan Lang dan Evans, 2006). Kelima kapabilitas tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Kapabilitas pertama yang harus terus dibangun guru adalah konten pengetahuan yang diajarkan. Kapabilitas ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk terus mengembangkan dirinya dengan meningkatkan penguasaan konten pengetahuan secara terus menerus sehingga pengetahuan yang dimilikinya akan senantiasa berkembang dan uptodate. Kapabilitas ini juga berhubungan dengan kemampuan guru dalam memahami kurikulum yang berlaku sehingga proses pembelajaran yang dilaksanakannya benar-benar berorientasi pada kurikulum terbaru. Selain itu, kapabilitas ini berkaitan erat dengan kemampuan guru untuk senantiasa berpikir kritis memaknai setiap materi ajar sehingga akan mampu memperluas pengetahuan siswa dan mampu merestrukturisasi pengetahuan agar sejalan dengan potensi dan kebutuhan siswa. Melalui pengembangan kapabilitas ini jelaslah sosok guru yang berkualitas bukanlah sebuah impian belaka.

2. Kapabilitas kedua adalah tingkat konseptualisasi. Kapabilitas ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk mengidentifikasi wilayah pengembangan dirinya sehingga guru akan mampu secara terus menerus meningkatkan kompetensi yang dimilikinya. Kapabilitas ini juga berhubungan pula dengan kemampuan guru dalam menerapkan konsep dan ide-ide kreatifnya dalam setiap proses pembelajaran. Lebih lanjut, kapabilitas ini mempersyaratkan kemampuan guru untuk membuat desain rencana pengembangan professional dirinya secara tepat guna dan berhasil guna. Melalui desain rencana pengembangan professional yang dibuat guru, guru akan mampu merencanakan berbagai aktivitas pengembangan diri sehingga mitos guru adalah individu statis akan tertepiskan.

3. Kapabilitas yang ketiga berhubungan dengan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Guru yang kapabel adalah guru yang senantiasa memilih pendekatan, model, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat sesuai materi dan karakteristik siswa. Melalui pemilihan strategi pembelajaran yang tepat inilah guru lebih jauh diharapkan mampu mengelola kelas dengan inovatif sehingga berbagai tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Sejalan dengan kenyataan ini, guru harus secara berkesinambungan meningkatkan pengetahuannya tentang berbagai strategi pembelajaran terkini sehingga guru tidak hanya terpaku menggunakan satu jenis strategi pembelajaran.

4. Kapabilitas keempat adalah komunikasi interpersonal. Kapabilitas ini berhubungan dengan kemampuan guru dalam menjalin komunikasi dengan siswa sehingga guru akan benar-benar memahami karakteristik siswa dan mengetahui kebutuhan siswa. Selain kemampuan berkomunikasi dengan siswa, kapabilitas ini berkenaan juga dengan kemampuan guru berkomunikasi dengan seluruh unsur sekolah dan orang tua siswa. Melalui berbagai jenis komunikasi ini guru diharapkan mampu memainkan peran pentingnya dalam mencetak lulusan yang unggul.

5. Kapabilitas kelima adalah ego. Kapabilitas ini berhubungan dengan usaha mengetahui diri sendiri dan usaha membangun responsibilitas diri terhadap lingkungan. Hal ini berarti guru yang kapabel adalah guru yang memperhatikan diri sendiri dan orang lain, merespons positif segala bentuk masukan yang dia terima, bersikap objektif, membantu orang lain untuk berkembang, berpikir positif, dan senantiasa meningkatan self esteem. Melalui pengembangan lima kapabilitas ini diharapkan guru akan mampu merefleksi diri sehingga kompetensinya akan senantiasa berkembang. Berbagai kapabilitas yang telah dikemukakan tersebut pada prinsipnya merupakan wilayah pengembangan guru yang harus secara terus-menerus dikembangkan. Melalui kepemilikan dan pengembangan kelima kapabilitas tersebut, guru akan mampu memiliki kemampuan teknis dalam melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan merefleksi kritis kinerjanya sebagai wujud nyata sosok guru yang berkualitas.

Ketika terjadi masa pandemi COVID-19 membuka kesadaran setiap guru bagaimana harus tetap bekerja mendidik dan mengajar sedangkan sekolah ditutup sebagai antisipasi penyebaran virus COVID-19 akan tetapi pembelajaran harus tetap berjalan. Sehingga sebagai guru tidak mungkin akan membiarkan siswa berdiam diri di rumah dalam waktu yang tidak bisa diketahui kapan berakhir. Sekarang jamannya teknologi hampir semua siswa menggunakan HP, masa pandemi membuka kesadaran semua bahwa proses pembelajaran harus tetap berjalan walaupun antara guru dan siswa tidak bisa bertemu di kelas. Guru harus mampu mengkuti perkembangan teknologi, dan memanfaatkannya dalam proses pembelajaran dengan moda daring. Penguasaan teknologi untuk kepentingan pembelajaran semakin berkembang, sehingga guru harus terus meningkatkan kemampuan mempelajari dan menguasai konten-konten pembelajaran dan terus dikembangkan untuk menunjang pembelajaran.

Sebagai guru secara pribadi Upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan kapabilitas diri, profesionalisme diri agar memiliki kompetensi profesi sesuai dengan tugas pokok antara lain :

1. Mengikuti diklat fungsional yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan atau lembaga lain yang linier dengan tupoksi guru. Utamanya kegiatan yang diselenggarakan Dirjen GTK melalui simpkb mengikuti bimtek atau diklat secara daring dan luring.

2. Mengikuti kegiatan kolektif guru dalam bentuk KKG sebagai wadah memecahkan berbagai masalah dan tukar pendapat hal-hal yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi guru di sekolah

3. Mengikuti forum ilmiah guru misalnya seminar/webinar atau lokakarya

4. Menulis, kegiatan menulis sangat bermanfaat bagi guru sebagai sarana menuangkan ide atau gagasan tentang pendidikan, baik tulisan ringan di bloger maupun tulisan yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah guru.

Sedangkan Upaya yang semestinya dilakukan untuk membangun kesadaran pengembangan diri di lingkungan sekolah meliputi :

1. Memberikan pengertian dan pemahaman bahwa sebagai guru di era digital yang mana dengan tehnologi perkembangan dunia dalam segala hal dapat diakses dengan cepat oleh semua orang, tidak terkecuali siswa kita di sekolah. Maka jika guru tidak secara responsif mengikuti maka akan dahului murid. Jika yang diakses murid berupa berbagai hal yang positif maka baik bagi siswa, tapi jika mengarah pada hal yang negatif, sebagai guru harus bisa mencegahnya. Maka dari itu guru harus responsif terhadap perkembangan teknologi yang menunjang tugas pokok dan fungsi guru

2. Memotivasi pada teman-teman guru agar mengikuti seluruh program pemerintah kaitanya dengan pendidikan melalui Dirjen GTK dengan kegiatan-kegiatan yang bisa diikuti oleh guru melalui akun masing-masing untuk pengembangan diri

3. Memberikan contoh-contoh dampak positif bagi guru yang secara aktif responsif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan maupun Dirjen GTK untuk kemajuan dan karir guru utamanya untuk inovasi pembelajaran.

Dari berbagai macam upaya baik secara individu maupun secara kelompok di sekolah diharapkan semua guru aktif mengikuti kegiatan Bimtek/Diklat yang diselenggarakan Dinas Pendidikan maupun Dirjen GTK secara baik sehingga ke depan guru tidak lagi GAPTEK, menjadi guru yang profesional responsif terhadap perkembangan jaman yang berdampak pada kualitas pembelajaran guru di kelas yang inovatif dan kreatif menuju kemajuan yang diharapkan.



Share:

Recent Posts