Salah satu pemikiran besar Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan adalah pendidikan merupakan upaya memerdekakan manusia baik secara lahiriyah maupun secara btiniah. Oleh karenanya sebagai seorang guru dan juga seorang pendidik kita dalam melaksanakan pembelajaran harus senantiasa menimplementasikan pemikiran besar Ki Hajar Dewantara tersebut yaitu memerdekakan peserta didik. Pertanyaannya adalah sebagai seorang guru apakah kita telah memerdekakan anak didik kita dalam setiap proses pembelajaran?
Mendidik menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang dimiliki anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Artinya bahwa mendidik itu menuntun seluruh bakat yang dimiliki anak sesuai kodratnya menuju perkembangan dan pertumbuhan menuju tumbuh kembang yang sesuai dengan bakat dan minat anak masing-masing.
Jika dahulu kita mengenal teori “tabularasa” yang dicetuskan oleh John Locke, yang menatakan bahwa seorang anak lahir diibaratkan kertas kosong, tinggal orang dewasa mau menulisi seperti apa. Baik atau buruknya perkembangan anak terserah orang dewasa yang mewarnainya.
Teori tabularasa John Locke terbantahkan oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara, yaitu bahwa seorang anak terlahir telah memiliki bakat atau kodrat yang masih samar-samar. Tugas guru adalah menebalkan bakat samar-samar tersebut hingga seorang anak menemukan bakatnya setelah dewasa secara maksimal. Jika teori “tabularasa” itu kertas kosong maka dengan diwarnai oleh orang dewasa yang sama maka ketika dewasa berada pada bakat yang sama tanpa perbedaan. Akan tetapi ternyata ketika dewasa anak tumbuh kembang dengan bakat yang berbeda-beda. Sehingga benar apa yang menjadi pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa orang dewasa (dalam hal ini guru) tugas utamanya adalah menuntun, memfasilitasi anak untuk semaksimal mungkin tumbuh dan berkembang sesuai bakat masing-masing, dan tidak mungkin akan tumbuh dan berkembang dalam satu bakat yang sama pada seluruh peserta didik.
Ki Hajar Dewantara menganalogikan proses pendidikan sebagaimana petani yang bercocok tanam. Dengan berbagai macam benih yang akan ditanam, ada padi, jagung kedelai dan sebagainya. Seorang petani hanya bisa menuntun dalam arti merawat tanaman padi dengan bercocok tanam, memberi pupuk, membasmi hama yang mengganggu sesuai ilmu menanam padi. Meskipun pertumbuhan padi dapat diusahakan lebih baik dengan ilmu-ilmu tentang tanaman yang terbaru, tetapi petani tidak dapat mengubah kodratnya padi. Misalnya petani berharap menanam padi panen jagung, atau merawat tanaman jagung layaknya menanam padi pasti tidak akan bisa, dan tidak akan pernah terjadi. Begitulah seorang pendidik dengan segala kemampuannya menuntun peserta didik sesuai bakat dan minat anak. Tugas guru yang utama adalah memfasilitasi siswa, menuntun siswa untuk tumbuh berkembang sesuai dengan bakat yang telah menjadi takdirnya sejak dilahirkan. Seluruh siswa tidak bisa dipaksa untuk tumbuh dan berkembang dengan model yang sama. Misalnya seluruh siswa diharuskan menjadi pemain bola semua, tidak akan bisa, karena siswa kan tumbuh sesuai dengan bakat dan minat masing-masih. Ada yang memiliki bakat bermain bola, ada yang berbakat di bidang seni, ada yang berbakat pada ilmu pengetahuan eksakta dan lain sebagainya bakat yang sesuai sebanyak siswa. Tugas guru menuntun siswa sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh masing-masing siswa secara maksimal.
Selain itu, sebagai guru sekaligus sebagai seorang pendidik harus dapat mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang berpihak pada anak. Seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada anak”. Maksud dari ungkapan beliau adalah bahwa sebagai seorang pendidik harus dengan tulus ihklas mendidik siswa, tidak boleh menuntut apapun, hanya berusaha mendidik anak agar mencapai kebahagiaan hidup sebagai manusia dan masyarakat.
Merdeka belajar artinya bahwa sebagai seorang guru juga merupakan pendidik selain harus menuntun kodrat anak sesuai dengan bakat dan minatnya, juga harus mampu menuntun menumbuhkan budi pekerti yang baik siswa menuju manusia yang berahklak mulia. Ki Hajar Dewantara menumbuhkan budi pekerti siswa dengan cara menerapkan pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran meliputi “Hablumminallah yaitu bagaimana sikap manusia terhadap Tuhannya, dan “Hablumminannas” yaitu bagaimana hubungannya sikapnya dengan sesama manusia. Ditambah Ki Hajar Dewantara juga menanamkan pendidikan karakter kebangsaan agar siswa memiliki kepribadian yang khas serta jiwa bela negara dan cinta tanah air.
Dalam mensukseskan pendidikan dengan “merdeka belajar”, Ki Hajar Dewantara menerapkan tripusat pendidikan yang meliputi : 1) pendidikan di lingkungan keluarga. 2) pendidikan di sekolah dan 3) di lingkungan masyarakat. Yang pertama dan yang paling utama adalah penanaman pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Disinilah kunci utama pendidikan karakter pada anak. Dengan kasih sayang yang tulus dari keluarga tanpa pamrih, hanya memberi tanpa berharap menerima merupakan faktor utama penanaman karakter, watak dasar pada anak yang sangat berpengaruh pada pendidikan selanjutnya. Yang kedua adalah penyelenggaraan pendidikan di sekolah, yang secara formal sekolah diserahi tanggung jawab untuk mendidik putra-putrinya di sekolahan. Dengan segala fasilitas di sekolah orang tua berharap atas keberhasilan pendidikan putra-putrinya. Guru dengan profesionalisme yang diperoleh dari pendidikan yang telah ditempuh memiliki tanggung jawab yang besar untuk misi lembaga pendidikan yang diberikan tanggung jawab padanya untuk mengelola. Yang terakhir yang ketiga adalah di lingkungan masyarakat, adalah merupakan lingkungan di mana peserta didik bersosialisasi, bergaul dan bermain. Lingkungan masyarakat sangat berperan dalam mendukung keberhasilan pendidikan karakter bagi peserta didik, karena intensitas waktu bersama dengan lingkungan masyarakat sangat banyak. Sehingga dukungan masyarakat dalam keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan juga sangat diharapkan.
Ke depan sebagai harus mampu menjalin hubungan baik dengan orang tua/wali murid dan masyarakat. Karena pendidikan karakter tidak bisa hanya menitik beratkan pada proses di sekolah. Akan tetapi pengertian dan peran serta orang tua dengan dukungan masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar