Tugas Modul 3.1.a.9. Koneksi Antar Materi-Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Tugas Modul 3.1.a.9. Koneksi Antar Materi

Setiap tanggal 2 Mei akan selalu diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Tahukah anda kenapa tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari pendidikan nasional? Tanggal 2 Mei 1889 merupakan hari kelahiran pahlawan nasional dengan nama asli R.M Suwardi Suryaningrat. Beliau merupakan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi sejak zaman kolonial Belanda. Beliau dilahirkan dari keluarga ningrat di kraton Yogyakarta.

Ki Hadjar Dewantara mengatakan, "Kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu 'dipelopori', atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri."

Maksud dari pernyataan Ki Hadjar Dewantara tersebut dengan jelas menunjukkan apa yang seharusnya lahir dari proses pendidikan, yakni agar anak-anak mampu berpikir sendiri. Sehingga siswa diharapkan menjadi orisinal dalam berpikir dan bertindak.

Bapak Pendidikan Nasional ini beranggapan bahwa tolok ukur keberhasilan sebuah pendidikan adalah ketika anak mampu mengenali tantangan yang ada di depannya dan tahu bagaimana seharusnya mereka mengatasinya.
Berikut pertanyaan-pertanyaan pemantik yang bisa disampaikan di sini untuk mengarahkan keterkaitan dengan materi modul-modul sebelumnya.

1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh pencetus Patrap Triloka dalam dunia pendidikan.

Patrap Triloka adalah sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) selaku pendiri organisasi pergerakan nasional Indonesia yaitu Taman Siswa. 

Terdapat tiga unsur penting dalam Patrap Triloka, yaitu: (1) Ing ngarsa sung tuladha (2) Ing madya mangun karsa (3) Tut wuri handayani.

1) Ing ngarsa sung tuladha, artinya bahwa seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran haruslah memberikan contoh, suri tauladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya (utamanya pada siswa). Guru harus memiliki pribadi yang baik sesuai dengan tuntunan agama yang diyakini, serta norma yang berlaku di masyarakat dimana dia tinggal, sikap dan pribadi guru tersebut kemudian terefleksikan dalam keteladanan setiap mengambil keputusan terhadap murid-murid dan orang-orang di sekitarnya. Bisa dikatakan bahwa itulah prinsip pertama yang harus dimiliki oleh seorang guru. Keteladanan menjadi sebuah hal utama karena akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya terhadap dirinya. Seperti halnya filosofi bahwa guru harus bisa digugu dan ditiru, digugu (artinya dapat dipercaya setiap perkataanya) dan ditiru setiap tindak-tanduk (tingkah lakunya).

2) Ing madya mangun karsa artinya guru sebagai pemimpin pembelajaran harus bisa bekerja sama dengan orang yang dididiknya (murid). Sehingga pembelajaran yang dilakukan akan terasa mudah atau ringan dan akan semakin mempererat hubungan antara guru dengan murid, namun tidak melanggar kode etik guru. Guru diharapkan mampu menjadi rekan sekaligus sebagai pengganti orang tua murid di sekolah, sehingga guru mampu mengetahui kebutuhan belajar murid. Salah satu kebutuhan belajar murid adalah keterampilan mengambil keputusan. Karena itu dengan ing madya mangun karsa guru dapat melakukan coaching terhadap para muridnya dalam mengambil setiap keputusan, termasuk keputusan yang mengandung unsur dilema etika yang dihadapi para murid. Dengan demikian potensi murid menjadi lebih berkembang sehingga mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat bagi dirinya dan berdampak positif di masa yang akan datang.

3)Tut wuri handayani artinya guru sebagai pemimpin pembelajaran harus bisa mendorong seluruh siswa untuk maju dan berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya. Memberikan ilmu-ilmu dan bekal-bekal yang akan menambah wawasan dan pengetahuan bagi murid. Inilah fungsi seorang guru sebagai coach dan motivator, ia mampu mendorong murid untuk terus berkembang dan maju serta mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Sebagai pendidik, harus harus menyadari bahwa setiap anak membawa kodratnya masing-masing. Guru hanya perlu menuntun segala yang ada pada diri anak, mengarahkan dan memberi dorongan supaya dapat berproses dan berkembang sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Dalam proses menuntun, anak diberi kebebasan, agar dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar, dalam hal ini guru sebagai pemimpin pembelajaran memberikan tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah yang berdampak negatif bagi siswa, maka guru harus mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, berpihak pada murid serta bijaksana, dengan menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema etika dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Di era digital sekarang, setelah lebih dari satu abad sang tokoh pencetus patrap triloka telah tiada, azas-azas dasar pendidikan tersebut harus tetap tertanam dalam jiwa masing-masing pendidik di negeri ini.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai yang harus tertanam dalam diri seorang pendidik adalah nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, gotong-royong serta nilai kebaikan lainnya. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai utama yang kita hargai dalam kehidupan dan sangat berpengaruh pada pembentukkan karakter , perilaku dan membimbing dalam kita mengambil suatu keputusan. Sebagai Guru Penggerak, tentu harus ada beberapa nilai yang dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Untuk bisa mengambil keputusan yang tepat diperlukan nilai atau prinsip, pendekatan, dan langkah-langkah yang benar sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko paling minimal bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan/keberpihakan pada anak didik kita. Untuk membuat suatu keputusan berbasis etika, diperlukan kesamaan visi, budaya dan nilai yang dianggap penting dari suatu institusi sehingga menjadi prinsip dasar acuan yang lebih jelas.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Pembimbingan oleh fasilisator dan pengajar praktik telah membantu saya untuk berlatih mengevaluasi keputusan-keputusan yang telah saya ambil sebelumnya. Apakah keputusan yang saya ambil tersebut sudah berpihak kepada murid? Apakah sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal? Apakah keputusan yang saya ambil bermanfaat untuk banyak orang? Dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara proporsional?
Seorang pendidik harus mampu mengetahui dan memahami kebutuhan belajar serta kondisi sosial dan emosional dari muridnya . Seorang siswa harus mampu menyelesaikan permasalahannya dalam belajarnya.
Pentingnya pendekatan Coaching dilaksanakan oleh guru, karena guru dalam hal ini sebagai coach akan dapat dengan baik menggali potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberi pertanyaan pemantik, sehingga murid dapat menemukan potensi yang ada terpendam dalam dirinya untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan. Coaching dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat yang akan berpengaruh terhadap terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Yang berdampak positif bagi peserta didik dalam proses pembelajaran.
Modul coaching dengan banyak praktek langsung dengan rekan Calon Guru Penggerak lain, rekan sejawat dan siswa, sangat membantu guru untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk kemudian dapat memecahkan permasalahan sebagai pemimpin pembelajaran, sehingga pada saat menentukan suatu permasalahan dilema etika seorang guru mampu mengidentifikasi suatu permasalahan dengan tehnik coaching, dan mampu menghasilkan keputusan yang tepat dan berpihak pada murid.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Dalam melaksanakan pembelajaran, guru harus mampu melihat, memahami, mengidentifikasi kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional diantaranya kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfullness), terutama sadar dengan berbagai pilihan , konsekuensi yang akan terjadi, dan meminimalisir kesalahan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan keputusan selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada anak didik

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Sebagai guru di sekolah dasar, sekaligus sebagai seorang pendidik dituntut mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang, dan mampu membedakan setiap permasalahan yang dihadapi dalam kategori dilema etika atau bujukan moral. Untuk selanjutnya diharapkan dapat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berpihak dan mengutamakan kepentingan murid. Dengan nilai-nilai yang dimiliki seorang pendidik, nilai inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif seorang pendidik dapat menuntun muridnya untuk dapat mengenali potensi yang dimiliki dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah dilema etika yang dihadapi, dengan nilai-nilai seorang pendidik tersebut, yang merupakan landasan pemikiran yang dimiliki akan cenderung pada prinsip melakukan demi kebaikan banyak orang, menjunjung tinggi prinsip/nilai dalam diri dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada kita. Maka seorang pendidik diharapkan dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian sebuah keputusan terkait permasalahan dilema etika yang dihadapi.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru harus mampu melihat setiap permasalahan yang dihadapi, apakah permasalahan tersebut merupakan dilema etika ataukah bujukan moral. Dengan nilai-nilai yang dimiliki seorang pendidik, diantaranya nilai inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif. seorang guru dapat menuntun muridnya agar dapat mengenali potensi yang dimilikinya. Sehingga dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah yang dihadapi dengan nilai-nilai dari seorang pendidik tersebut, yang merupakan landasan pemikiran yang dimiliki akan selalu pada prinsip " melakukan demi kebaikan orang banyak, menjunjung tinggi prinsip/nilai dalam diri dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita. Maka seorang pendidik akan dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian sebuah keputusan terkait permasalahan yang dihadapi.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran bisa dipastikan akan sering dihadapkan pada situasi dimana guru diharuskan mengambil sebuah keputusan, akan tetapi terkadang pengambilan keputusan yang dilakukan terutama pada situasi dilema etika guru masih mengalami kesulitan. Misalnya lingkungan kurang mendukung, bertentangan dengan peraturan, atasan yang tidak memberikan kepercayaan karena merasa lebih berwenang, dan meyakinkan orang lain bahwa keputusan yang diambil sudah tepat, perbedaan cara pandang serta adanya opsi benar lawan benar atau sama-sama benar. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Hal pertama yang harus guru lakukan adalah mengenali terlebih dahulu permasalahan yang dihadapi. Apakah masalah tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika masalah tersebut merupakan dilema etika, maka guru harus mampu menganalisis masalah kemudian melakukan pengambilan keputusan berdasarkan pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga hasil keputusan yang diambil dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman untuk peserta didik. Intinya pengambilan keputusan yang tepat terkait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dilakukan dengan baik jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses identifikasi masalah yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan yang diambil diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat. Dengan demikian keputusan yang diambil akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman bagi semua.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan yang sering ada dan saya alami di lingkungan dalam pengambilan keputusan yang mengandung dilema etika adalah kesetiakawanan sosial yang masih kental dalam budaya di lingkungan menimbulkan rasa kasihan lebih dominan yang menyebabkan proses pengambilan keputusan terburu-buru, sehingga subyektifitas masih tinggi dalam prakteknya. 

8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Sebagai guru, saya sangat terbantu dengan paparan materi dari modul 3.1 berkaitan dengan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, jika sebelumnya guru sering menemukan dilema etika dalam proses pembelajaran di sekolah namun guru belum bisa menyelesaikan permasalahan dihadapi dengan pengambilan keputusan yang tepat, setelah semua materi modul 3.1 ini dapat dipelajari secara baik, selanjutnya ke depan setiap menghadapi masalah yang berkaitan dengan dilema etika dapat mengambil keputusan dengan memperhatikan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, dengan harapan keputusan yang diambil berdampak baik bagi peserta didik karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid, sehingga keselamatan dan kebahagiaan yang didapatkan oleh murid maka kita telah mampu memerdekakan mereka dalam belajar. Guru sudah seharusnya memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat siswa merasa nyaman, dan tenang. Semuanya dilakukan untuk memerdekan siswa dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka. Karena pengambilan keputusan yang tepat akan mempengaruhi pengajaran seorang guru untuk mewujudkan Pendidikan yang memerdekakan murid.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, sebagai guru harus benar-benar memperhatikan kebutuhan belajar murid. Dengan penerapan coaching yang tepat akan menuntun murid untuk menggali potensi yang ada dalam dirinya, dan guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberikan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat, atau kebutuhan belajarnya. Menuntun peserta didik dalam mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga keputusan guru dapat berpengaruh terhadap keberhasilan dari peserta didik di masa depan. Guru yang mampu mengambil keputusan dengan tepat akan memberikan dampak akhir yang baik dalam proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan well being peserta didik bagi masa depannya yang lebih baik.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir dari pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya, adalah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam usaha memerdekakan murid dalam belajar. Sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntun segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Dalam proses Pendidikan, seorang guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Agar dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan.
Keterampilan coaching dapat membantu siswa dalam mencari solusi atas masalahnya dengan kemampuan sendiri, tidak sebatas pada murid keterampilan cocaching dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran. Selain itu diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan dan proses pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfullness), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.
Dalam Proses pengambilan keputusan pasti membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri guru untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang diambil, karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya dapat mengakomodir seluruh keinginan pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan keputusan selalu berpihak pada kepentingan dan kebutuhan peserta didik.


Share:

Tidak ada komentar:

Recent Posts