Sebagai seorang guru tentunya kita dalam menjalankan tugas kita sehari-hari di kelas, di sekolah, akan sering dihadapkan pada berbagai masalah yang terjadi di kelas. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dituntut untuk dapat selalu bertindak dan mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi setiap permasalahan yang ada. Apalagi sebagai Guru Penggerak kita mengenal dilema etika dan bujukan moral, yang tidak bisa kita hindari setiap saat mungkin kita mengalaminya.
Dalam tulisan kali ini saya akan sampaikan contoh referensi sebagai Guru Penggerak dalam menyelesaikan dilema etika atau bujukan moral yang saya hadapi di sekolah. Tulisan ini sekaligus adalah penyelesaian Tugas Modul 3.1.a.6.Refleksi Terbimbing-Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sesuai petunjuk modul yang harus diselesaikan ketika mengikuti pendidikan Calon Guru Penggerak.
Tujuan Pembelajaran Khusus : CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.
Pertanyaan pemantik untuk sesi pembelajaran ini :
Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.
Education is the art of making man ethical (Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis - Georg Wilhelm Friedrich Hegel)
Panduan Refleksi Terbimbing
Pada hari dan waktu yang ditentukan, Anda akan melakukan refleksi dari perjalanan belajar Anda di modul ini. Refleksi dilakukan secara mandiri pada LMS. Fasilitator akan memberikan tanggapan terhadap refleksi masing-masing. Refleksi tersebut meliputi pengetahuan baru, keterampilan baru, wawasan baru, kesadaran baru yang Anda dapatkan dari proses pembelajaran di kelas, latihan membuat keputusan, kegiatan berbagi/sharing, diskusi kelompok, dan lain-lain.
Pertanyaan-pertanyaan berikut merupakan panduan yang digunakan dalam sesi refleksi.
Dari delapan pertanyaan yang ada, pilihlah minimal empat pertanyaan sebagai bahan refleksi Anda.
Nah di sinilah seluruh penyelesaian masalah yang ditugaskan pada seluruh Calon Guru Penggerak dapat saya rangkum dalam bentuk jawaban singkat setiap Tugas pada Modul yang ada.
1. Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Jawab : Pemahaman saya mengenai dilema etika adalah situasi yang terjadi dalam kehidupan kita ketika seseorang dihadapkan pada dua atau lebih pilihan dimana pilihan tersebut secara moral benar semua, akan tetapi bertentangan satu dengan yang lain. Sedangkan bujukan moral adalah situasi yang kita hadapi terjadi yang mengharuskan membuat suatu keputusan antara benar dan salah.
Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebaikan yang mendasari terhadap situasi itu terjadi yang saling bertentangan, seperti misalnya cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup atau paradigma dalam pengambilan keputusan.
Secara umum paradigma terjadi pada situasi dilema etika ada 4 yaitu :
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Prinsip pengambilan keputusan ada tiga, yaitu
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) ditentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan.
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) menentukan keputusan berdasarkan peraturan yang telah dibuat sebelumnya
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) prinsipnya “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda." Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan bersimpati.
Sembilan langkah pengujian dan pengambilan keputusan
1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
4. Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.
5. Pengujian paradigma benar lawan benar
6. Melakukan prinsip resolusi
7. Investigasi opsi trilema
8. Buat keputusan
9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan
2. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses Anda mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang Anda hadapi selama ini. Anda dapat juga menulis tentang sebuah situasi dilema etika yang dihadapi oleh orang lain serta keputusan yang diambil. Berilah ulasan berdasarkan 3 materi yang telah Anda pelajari di modul ini.
Jawab : pengalaman saya mengatasi dilema etika dengan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan yaitu menghadapi dilema etika ketika harus memutuskan mengambil tindakan atas pengaduan ibu Haliman guru kelas 5 menghadapi salah satu siswa yang dianggap tidak menghormati beliau sebagai gurunya. Bu Halimah mengajukan 2 alternatif pilihan yang harus dilakukan, yaitu beliau minta untuk dipindah mengajar di selain kelas 5, atau jika beliau tetap harus di kelas 5 bisa dengan mengeluarkan anak yang dianggap bermasalah tersebut dari kelas 5 (mutasi atau dikeluarkan). Menurut beliau dengan bersikap tegas begitu untuk memberi pelajaran pada anak agar bisa bersikap sopan pada gurunya. Yang sebelumnya mengirim pesan whatsap yang menurut beliau dengan kata-kata yang sangat tidak sopan.
Analisis terhadap masalah tersebut adalah sebagai berikut :
a. Paradigma yang ada pada peristiwa tersebut adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy).
Dilema etika yang saya rasakan sebagai kepala sekolah berupa 2 pilihan keputusan yang menjadi persyaratan dari pengaduan bu Halimah, yaitu guru yang minta dipindah ke kelas lain atau siswa yang dikeluarkan dari kelas 5
b. Prinsip yang saya gunakan adalah berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).
Karena saya menganggap menentukan keputusan berdasarkan rasa kasihan pada anak jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan yang benar, karena latar belakang anak berada jauh dari keluarganya. Ayah kerja di luar negeri, ibu telah berpisah/bercerai dengan ayahnya. Jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan dan pengawasan yang benar kasihan pada anak tersebut.
c. 9 langkah pengambilan keputusan :
1. Nilai yang saling bertentangan adalah
Jika mempertahankan bu Haliman tetap mengajar di kelas 5 dengan mengeluarkan anak dari kelas 5 adalah melanggar kode etik profesi tupoksi guru pada sekolah inklusi. Sebaliknya jika mempertahankan anak tetap di kelas 5 dengan memindah tugaskan bu Halimah pada kelas lain akan dipertanyakan atasan merubah penugasan guru dalam waktu yang tinggal 2 bulan menghadapi kenaikan kelas.
2. Yang terlibat dalam peristiwa ini adalah bu Halimah sebagai guru yang membutuhkan suasana nyaman di kelas, siswa tidak yang menghormatinya, patuh padanya dan kepala sekolah yang dituntut menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan pilihan yang bertentangan.
3. Fakta yang relevan : Latar belakang siswa yang jauh dari orang tua, keluarga yang berpisah/bercerai, sikap siswa yang “tidak menghormati guru”, data komunikasi siswa dengan guru yang mengandung unsur ketidak sopanan, guru yang mengajukan pilihan persyaratan kepada kepala sekolah dengan emosional, guru yang secara tegas menolak berinteraksi lagi dengan siswa
4. Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.
Uji Legal : tidak ada tindakan melanggar hukum sebelum ada keputusan akan pilihan alternatif tindakan yang diajukan bu Halimah. Akan tetapi jika dipilih salah satu dari alternatif tersebut akan ada dugaan pelanggaran UU ITE atau perlindungan anak
Uji regulasi : Jika Kepala Sekolah mengeluarkan siswa yang dimaksud bu Halimah maka ada pelanggaran kode etik profesi.
Uji intuisi : perasaan saya cenderung lebih baik untuk siswa jika siswa tetap diharapkan bisa masuk sekolah walaupun harus berada pada kelompok bermain selain dengan anak kelas 5, yaitu dengan anak yang biasa keseharian bermain dengan anak adalah siswa kelas 6. Di sisi lain jika memindahkan ibu Halimah pada kelas lain dengan waktu yang tinggal 2 bulan lagi kenaikan kelas adalah tidak mungkin. Karena akan menimbulkan tanda tanya besar pada atasan langsung yaitu Pengawas atau Koordinator PAUD Dikdas dan LS setempat.
Uji halaman depan koran : Ya KS akan merasa tidak nyaman jika dipublikasikan, karena dengan keputusan tersebut KS sudah bertindak yang melanggar kode etik guru bahwa seorang guru harus menerima dalam kondiri apapun peserta didik yang dalam tanggung jawabnya untuk mendidik, menuntun tumbuh dan berkembang anak sesuai bakat dan minatnya tanpa membedakan dalam segi apapun selama peserta didik tidak melakukan pelanggaran pidana yang tidak bisa ditoleransi (sudah ditetapkan keputusan hakim di meja hijau berkekuatan hukum tetap)
Uji panutan/idola : Panutan saya (misalnya : pengawas sekolah) pasti akan melakukan hal yang sama dengan saya lakukan.
5. Paradigma yang ada pada kasus adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
6. Melakukan prinsip resolusi. Prinsip yang Kepala Sekolah gunakan adalah berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).
Karena KS berpikir menentukan keputusan berdasarkan rasa kasihan pada anak jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan yang benar, karena latar belakang anak berada jauh dari keluarganya. Ayah kerja di luar negeri, ibu telah berpisah/bercerai dengan ayahnya.
7. Investigasi opsi trilema. Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi) : Ya, bu Halimah mengajukan 2 syarat kepada KS untuk pilihan 1 Bu Halimah akan tetap mengajar di kelas 5 jika 1 siswa yang disebutkan bu Halimah dikeluarkan dari kelas 5 (bisa dalam bentuk dikeluarkan atau mutasi ke sekolah lain), pilihan ke 2 bu Halimah meminta dipindah tugaskan di kelas lain selain kelas 5 jika 1 anak yang dimaksud bu Halimah tetap dipertahankan berada di kelas 5.
Penyelesaian kreatif bersifat sementara sambil mencari peluang untuk mengembalikan siswa pada hubungan yang baik pada gurunya adalah dengan mencari kemungkinan anak bisa masuk kembali ke sekolah, bermain dengan teman yang biasa akrab (tindakan sementara anak dibiarkan bermain dan belajar dengan siswa kelas 6, karena yang akrab bermain ada beberapa anak kelas 6)
8. Keputusan yang diambil adalah mengkondisikan anak untuk bisa masuk sekolah kembali, sementara waktu anak dimasukkan pada kelompok teman bermainnya yaitu ana-anak kelas 6, selajutnya pelan-pelan dibimbing untuk bisa masuk kembali di kelasnya yaitu kelas 5. Selanjutnya menyampaikan kebenaran pada bu Halimah secara baik-baik, bahwa dengan mengambil sikap untuk lepas tangan dari mendidik anak yang dianggap bermasalah dengan cara yang tidak “profesional” adalah tidak benar/tidak baik bagi seorang guru.
9. Refleksi terhadap keputusan yang diambil : Saya sangat yakin dengan keputusan saya untuk tidak mengeluarkan siswa dari sekolah, karena mendidik anak dengan berbagai macam latar belakang dan karakteristik merupakan kewajiban utama seorang guru
3. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Jawab : sebelumnya pernah melakukan pengambilan keputusan yang menurut saya merupakan peristiwa dilema etika, yaitu tentang siatuasi yang mengharuskan saya memutuskan diantara 2 pilihan yang saling bertentangan.
Ada seorang siswa yang meminta ijin untuk tidak bisa mengikuti PTS karena ada musibah kakeknya meninggal dunia. Saya sebagai guru harus memutuskan diantara 2 pilihan mengijinkan atau tetap harus mengikuti PTS. Dalam peristiwa ini meengandung paradigma raasa keadilan vs rasa kasihan (justice vs mercy), dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).
Bedanya dengan modul ini adalah pada 9 langkah pengujian pengambilan keputusan pada langkah ke 4 Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola. Hanya mempertimbangkan uji intuisi, sedangkan yang lainnya belum mengetahui.
4. Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Jawab : dampak dari mempelajari modul ini bagi diri saya sebagai guru adalah sangat bagus. Pelajaran baru bagi saya untuk dapat mengetahui berbagai macam jenis dilema etika yang mungkin akan saya hadapi di kelas, serta dapat mempelajari dan menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan yang profesional. Sehingga setiap keputusan saya nantinya diharapkan benar dan berdampak baik kepada murid-murid saya selanjutnya.
5. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?
Jawab : modul ini sangat penting diketahui dan dikuasai oleh seorang guru. agar dalam bertindak sehari-hari yang berkaitan dengan dilema etika, dapat mengidentifikasi, memahami prinsip pengambilan keputusan dan menerapkan langkah-langkah pengujian keputusan yang profesional. Sehingga pembelajaran betul-betul berpihak pada siswa.
6. Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?
Jawab : mensosialisasikan pada rekan, berdiskusi dan berkolaborasi mengenai identifikasi setiap masalah yang dihadapi di sekolah, serta bersama-sama menerapkan langkah-langkah yang sesuai. Selanjutnya melakukan refleksi dan evalusai terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan untuk selanjutnya dilakukan tindak lanjut pada peristiwa dilema etika yang mungkin ada selanjutnya.
7. Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?
Jawab : di daerah yang religius, akan leibih mudah setiap permasalahan dilema etika yang bersinggungan dengan siswa atau wali murid lebih mudah terselesaikan dengan basic agama (nasehat ustad, ulama)
8. Adakah nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh orangtua anda atau bahkan kakek nenek buyut Anda yang menjadi karakter khas suku atau masyarakat dimana Anda tinggal? Bagaimana Anda sebagai seorang guru akan menggunakannya untuk membantu Anda dalam pengambilan keputusan?
Jawab : ada yaitu dari sejak kecil orang tua selalu menanamkan untuk selalu bisa menyesuaikan diri di lingkungan di manapun berada. Selalu bersikap sopan pada siapapun, menghargai semua orang, jangan mudah menilai orang seperti apa yang dilihat saja tetapi dalami dulu dengan lebih dekat dengannya. Selalu banyak bersyukur, karena dengan kita banyak bersyukur kita mudah untuk bahagia, dimanapun berada.





