• Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Artikel Pendidikan Pengembangan Kapabilitas Guru di Era Digital.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

Refleksi Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Refleksi terbimbing Pengambilan keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
Sebagai seorang guru tentunya kita dalam menjalankan tugas kita sehari-hari di kelas, di sekolah, akan sering dihadapkan pada berbagai masalah yang terjadi di kelas. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dituntut untuk dapat selalu bertindak dan mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi setiap permasalahan yang ada. Apalagi sebagai Guru Penggerak kita mengenal dilema etika dan bujukan moral, yang tidak bisa kita hindari setiap saat mungkin kita mengalaminya.

Dalam tulisan kali ini saya akan sampaikan contoh referensi sebagai Guru Penggerak dalam menyelesaikan dilema etika atau bujukan moral yang saya hadapi di sekolah.  Tulisan ini sekaligus adalah penyelesaian Tugas Modul 3.1.a.6.Refleksi Terbimbing-Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sesuai petunjuk modul yang harus diselesaikan ketika mengikuti pendidikan Calon Guru Penggerak.

Tujuan Pembelajaran Khusus :  CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Pertanyaan pemantik untuk sesi pembelajaran ini :

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Education is the art of making man ethical (Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis - Georg Wilhelm Friedrich Hegel)

Panduan Refleksi Terbimbing

Pada hari dan waktu yang ditentukan, Anda akan melakukan refleksi dari perjalanan belajar Anda di modul ini. Refleksi dilakukan secara mandiri pada LMS. Fasilitator akan memberikan tanggapan terhadap refleksi masing-masing. Refleksi tersebut meliputi pengetahuan baru, keterampilan baru, wawasan baru, kesadaran baru yang Anda dapatkan dari proses pembelajaran di kelas, latihan membuat keputusan, kegiatan berbagi/sharing, diskusi kelompok, dan lain-lain.

Pertanyaan-pertanyaan berikut merupakan panduan yang digunakan dalam sesi refleksi. 

Dari delapan pertanyaan yang ada, pilihlah minimal empat pertanyaan sebagai bahan refleksi Anda.


Nah di sinilah seluruh penyelesaian masalah yang ditugaskan pada seluruh Calon Guru Penggerak dapat saya rangkum dalam bentuk jawaban singkat setiap Tugas pada Modul yang ada. 

1. Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Jawab : Pemahaman saya mengenai dilema etika adalah situasi yang terjadi dalam kehidupan kita ketika seseorang dihadapkan pada dua atau lebih pilihan dimana pilihan tersebut secara moral benar semua, akan tetapi bertentangan satu dengan yang lain. Sedangkan bujukan moral adalah situasi yang kita hadapi terjadi yang mengharuskan membuat suatu keputusan antara benar dan salah.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebaikan yang mendasari terhadap situasi itu terjadi  yang saling bertentangan, seperti misalnya cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup atau paradigma dalam pengambilan keputusan. 

Secara umum paradigma terjadi pada situasi dilema etika ada 4 yaitu : 

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Prinsip pengambilan keputusan ada tiga, yaitu

1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) ditentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan.

2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) menentukan keputusan berdasarkan peraturan yang telah dibuat sebelumnya

3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) prinsipnya “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda." Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan bersimpati.

Sembilan langkah pengujian dan pengambilan keputusan

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4. Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.

5. Pengujian paradigma benar lawan benar

6. Melakukan prinsip resolusi

7. Investigasi opsi trilema

8. Buat keputusan

9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

2. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses Anda mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang Anda hadapi selama ini.  Anda dapat juga menulis tentang sebuah situasi dilema etika yang dihadapi oleh orang lain serta keputusan yang diambil. Berilah ulasan berdasarkan 3 materi yang telah Anda pelajari di modul ini.

Jawab : pengalaman saya mengatasi dilema etika dengan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan yaitu menghadapi dilema etika ketika harus memutuskan mengambil tindakan atas pengaduan ibu Haliman guru kelas 5 menghadapi salah satu siswa yang dianggap tidak menghormati beliau sebagai gurunya. Bu Halimah mengajukan 2 alternatif pilihan yang harus dilakukan, yaitu beliau minta untuk dipindah mengajar di selain kelas 5, atau jika beliau tetap harus di kelas 5 bisa dengan mengeluarkan anak yang dianggap bermasalah tersebut dari kelas 5 (mutasi atau dikeluarkan). Menurut beliau dengan bersikap tegas begitu untuk memberi pelajaran pada anak agar bisa bersikap sopan pada gurunya. Yang sebelumnya mengirim pesan whatsap yang menurut beliau dengan kata-kata yang sangat tidak sopan.


Analisis terhadap masalah tersebut adalah sebagai berikut : 

a. Paradigma yang ada pada peristiwa tersebut adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). 

Dilema etika yang saya rasakan sebagai kepala sekolah berupa 2 pilihan keputusan yang menjadi persyaratan dari pengaduan bu Halimah, yaitu guru yang minta dipindah ke kelas lain atau siswa yang dikeluarkan dari kelas 5

b. Prinsip yang saya gunakan adalah berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking). 

Karena saya menganggap menentukan keputusan berdasarkan rasa kasihan pada anak jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan yang benar, karena latar belakang anak berada jauh dari keluarganya. Ayah kerja di luar negeri, ibu telah berpisah/bercerai dengan ayahnya. Jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan dan pengawasan yang benar kasihan pada anak tersebut.

c. 9 langkah pengambilan keputusan :

1. Nilai yang saling bertentangan adalah 

Jika mempertahankan bu Haliman tetap mengajar di kelas 5 dengan mengeluarkan anak dari kelas 5 adalah melanggar kode etik profesi tupoksi guru pada sekolah inklusi. Sebaliknya jika mempertahankan anak tetap di kelas 5 dengan memindah tugaskan bu Halimah pada kelas lain akan dipertanyakan atasan merubah penugasan guru dalam waktu yang tinggal 2 bulan menghadapi kenaikan kelas.

2. Yang terlibat dalam peristiwa ini adalah bu Halimah sebagai guru yang membutuhkan suasana nyaman di kelas, siswa tidak yang menghormatinya, patuh padanya dan kepala sekolah yang dituntut menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan pilihan yang bertentangan.

3. Fakta yang relevan : Latar belakang siswa yang jauh dari orang tua, keluarga yang berpisah/bercerai, sikap siswa yang “tidak menghormati guru”, data komunikasi siswa dengan guru yang mengandung unsur ketidak sopanan, guru yang mengajukan pilihan persyaratan kepada kepala sekolah dengan emosional, guru yang secara tegas menolak berinteraksi lagi dengan siswa

4. Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.

Uji Legal : tidak ada tindakan melanggar hukum sebelum ada keputusan akan pilihan alternatif tindakan yang diajukan bu Halimah. Akan tetapi jika dipilih salah satu dari alternatif tersebut akan ada dugaan pelanggaran UU ITE atau perlindungan anak

Uji regulasi :  Jika Kepala Sekolah mengeluarkan siswa yang dimaksud bu Halimah maka ada pelanggaran kode etik profesi.

Uji intuisi : perasaan saya cenderung lebih baik untuk siswa jika siswa tetap diharapkan bisa masuk sekolah walaupun harus berada pada kelompok bermain selain dengan anak kelas 5, yaitu dengan anak yang biasa keseharian bermain dengan anak adalah siswa kelas 6. Di sisi lain jika memindahkan ibu Halimah pada kelas lain dengan waktu yang tinggal 2 bulan lagi kenaikan kelas adalah tidak mungkin. Karena akan menimbulkan tanda tanya besar pada atasan langsung yaitu Pengawas atau Koordinator PAUD Dikdas dan LS setempat. 

Uji halaman depan koran : Ya KS akan merasa tidak nyaman jika dipublikasikan, karena dengan keputusan tersebut KS sudah bertindak yang melanggar kode etik guru bahwa seorang guru harus menerima dalam kondiri apapun peserta didik yang dalam tanggung jawabnya untuk mendidik, menuntun tumbuh dan berkembang anak sesuai bakat dan minatnya tanpa membedakan dalam segi apapun selama peserta didik tidak melakukan pelanggaran pidana yang tidak bisa ditoleransi (sudah ditetapkan keputusan hakim di meja hijau berkekuatan hukum tetap)

Uji panutan/idola : Panutan saya (misalnya : pengawas sekolah) pasti akan melakukan hal yang sama dengan saya lakukan.

5. Paradigma yang ada pada kasus adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

6. Melakukan prinsip resolusi. Prinsip yang Kepala Sekolah gunakan adalah berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking). 

Karena KS berpikir menentukan keputusan berdasarkan rasa kasihan pada anak jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan yang benar, karena latar belakang anak berada jauh dari keluarganya. Ayah kerja di luar negeri, ibu telah berpisah/bercerai dengan ayahnya.

7. Investigasi opsi trilema. Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi) : Ya, bu Halimah mengajukan 2 syarat kepada KS untuk pilihan 1 Bu Halimah akan tetap mengajar di kelas 5 jika 1 siswa yang disebutkan bu Halimah dikeluarkan dari kelas 5 (bisa dalam bentuk dikeluarkan atau mutasi ke sekolah lain), pilihan ke 2 bu Halimah meminta dipindah tugaskan di kelas lain selain kelas 5 jika 1 anak yang dimaksud bu Halimah tetap dipertahankan berada di kelas 5.

Penyelesaian kreatif bersifat sementara sambil mencari peluang untuk mengembalikan siswa pada hubungan yang baik pada gurunya adalah dengan mencari kemungkinan anak bisa masuk kembali ke sekolah, bermain dengan teman yang biasa akrab (tindakan sementara anak dibiarkan bermain dan belajar dengan siswa kelas 6, karena yang akrab bermain ada beberapa anak kelas 6)

8. Keputusan yang diambil adalah mengkondisikan anak untuk bisa masuk sekolah kembali, sementara waktu anak dimasukkan pada kelompok teman bermainnya yaitu ana-anak kelas 6, selajutnya pelan-pelan dibimbing untuk bisa masuk kembali di kelasnya yaitu kelas 5. Selanjutnya menyampaikan kebenaran pada bu Halimah secara baik-baik, bahwa dengan mengambil sikap untuk lepas tangan dari mendidik anak yang dianggap bermasalah dengan cara yang tidak “profesional” adalah tidak benar/tidak baik bagi seorang guru.

9. Refleksi terhadap keputusan yang diambil : Saya sangat yakin dengan keputusan saya untuk tidak mengeluarkan siswa dari sekolah, karena mendidik anak dengan berbagai macam latar belakang dan karakteristik merupakan kewajiban utama seorang guru


3. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Jawab : sebelumnya pernah melakukan pengambilan keputusan yang menurut saya merupakan peristiwa dilema etika, yaitu tentang siatuasi yang mengharuskan saya memutuskan diantara 2 pilihan yang saling bertentangan.

Ada seorang siswa yang meminta ijin untuk tidak bisa mengikuti PTS karena ada musibah kakeknya meninggal dunia. Saya sebagai guru harus memutuskan diantara 2 pilihan mengijinkan atau tetap harus mengikuti PTS. Dalam peristiwa ini meengandung paradigma raasa keadilan vs rasa kasihan (justice vs mercy), dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking). 

Bedanya dengan modul ini adalah pada 9 langkah pengujian pengambilan keputusan pada langkah ke 4 Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola. Hanya mempertimbangkan uji intuisi, sedangkan yang lainnya belum mengetahui.

4. Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan  sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Jawab : dampak dari mempelajari modul ini bagi diri saya sebagai guru adalah sangat bagus. Pelajaran baru bagi saya untuk dapat mengetahui berbagai macam jenis dilema etika yang mungkin akan saya hadapi di kelas, serta dapat mempelajari dan menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan yang profesional. Sehingga setiap keputusan saya nantinya diharapkan benar dan berdampak baik kepada murid-murid saya selanjutnya.

5. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

Jawab : modul ini sangat penting diketahui dan dikuasai oleh seorang guru. agar dalam bertindak sehari-hari yang berkaitan dengan dilema etika, dapat mengidentifikasi, memahami prinsip pengambilan keputusan dan menerapkan langkah-langkah pengujian keputusan yang profesional. Sehingga pembelajaran betul-betul berpihak pada siswa.

6. Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?

Jawab : mensosialisasikan pada rekan, berdiskusi dan berkolaborasi mengenai identifikasi setiap masalah yang dihadapi di sekolah, serta bersama-sama menerapkan langkah-langkah yang sesuai. Selanjutnya melakukan refleksi dan evalusai terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan untuk selanjutnya dilakukan tindak lanjut pada peristiwa dilema etika yang mungkin ada selanjutnya.

7. Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?

Jawab : di daerah yang religius, akan leibih mudah setiap permasalahan dilema etika yang bersinggungan dengan siswa atau wali murid lebih mudah terselesaikan dengan basic agama (nasehat ustad, ulama)

8. Adakah nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh orangtua anda atau bahkan kakek nenek buyut Anda yang menjadi karakter khas suku atau masyarakat dimana Anda tinggal? Bagaimana Anda sebagai seorang guru akan menggunakannya untuk membantu Anda dalam pengambilan keputusan?

Jawab : ada yaitu dari sejak kecil orang tua selalu menanamkan untuk selalu bisa menyesuaikan diri di lingkungan di manapun berada. Selalu bersikap sopan pada siapapun, menghargai semua orang, jangan mudah menilai orang seperti apa yang dilihat saja tetapi dalami dulu dengan lebih dekat dengannya. Selalu banyak bersyukur, karena dengan kita banyak bersyukur kita mudah untuk bahagia, dimanapun berada.


Share:

Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi – Coaching.

Terima kasih, pada tulisan kali ini saya akan menjelaskan tentang Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi – Coaching. Tugas ini adalah tugas yang harus diselesaikan pada Program Pendidikan dan Pelatihan Calon Guru Penggerak Angkatan ke 4 Kab. Boyolali.

Yang harus dipahami pada modul tersebut adalah bahwa proses coaching memiliki peran untuk menggali potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa melalui pertanyaan yang reflektif agar tercapai semua tujuan siswa untuk memecahkan segala permasalahan yang dihadapi.

Menurut modul 1 guru berperan untuk membimbing kodrat alam  yang dimiliki siswa agar dapat mengembangkan potensi dan kemampuan sesuai dengan bakat dan minatnya.

Peserta didik dan komunitas belajar harus memiliki kemampuan dalam mengelola emosi, memiliki sifat empati yang tinggi, mampu mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab dengan penuh kesadaran (mindfulness), yang berpihak pada siswa agar dapat mencapai kebahagiaan tinggi-tingginya sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara .

Sementara  kemerdekaan dalam pendidikan  menurut  Ki Hajar Dewantara  bermakna: Tidak hidup terperintah, artinya seseorang bisa menentukan arah tujuan sendiri atau dapat memerintah sendiri. Berdiri tegak karena kekuatan sendiri, kemandirian  dalam  mencapai tujuan dengan usaha sendiri. (Sumber : sman1pringgarata)

Dalam proses pembinaan guru dan siswa berkolaborasi positif, komunikasi yang asertif, dengan proses pembinaan yang mengarahkan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif untuk menggali potensi dan kemampuan siswa untuk kemudian menyelesaikan permasalahannya sendiri, dan mampu melaksanakan komitmennya dengan penuh rasa tanggung jawab.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam proses coaching :

1.   Coach akan memberikan tuntunan kepada coachee

2.   Coach akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif dan membangun

Melalui pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan coach (guru) tersebut selanjutnya coachee (dalam hal ini siswa) akan berpikir kritis dan berpikir lebih dalam untuk kemudian berusaha untuk menemukan potensinya, dan akhirnya coachee akan menemukan pemecahan sendiri terhadap masalah yang dihadapi.

Inilah pentingnya guru untuk menguasai keterampilan untuk meningkatkan pembelajarannya.

Mengapa seorang guru harus memiliki keterampilan melatih dengan baik?

Karena dengan keterampilan coaching yang baik, melalui proses coaching yang tepat seorang guru akan mampu menggali potensi dan kemampuan siswa dengan baik, mampu memaksimalkan proses berfikir dan kreatif pada diri siswa, serta mampu menanamkan cara pengambilan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab.

Keterampilan yang harus dikuasai agar dapat menjalankan  pelatihan  dengan baik antara lain :

1.    Membangun dasar bagi proses coaching

2.    Membangun hubungan baik dengan semua komponen sekolah 

3.    Ketrampilan berbicara, komunikasi yang baik terhadap semua warga sekolah

4.    Memfasilitasi pembelajaran peserta didik

Penerapan coaching menggunakan tehnik TIRTA yaitu meliputi :

1.  Tujuan utama yaitu menyampaikan tujuan dari coaching

2.  Identifikasi dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif serta umpan balik yang mengarah pada penggalian potensi coachee

3.  Rencana aksi dengan cara menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dan juga umpan balik mengenai rencana aksi yang akan dijalankan coachee dalam usaha menyelesaikan masalahnya berdasarkan potensi yang dimiliki

4.  Tanggung jawab (komitmen coachee dalam menjalankan rencana aksi yang telah direncanakan untuk melaksanakan pemecahan masalah yang dihadapi)

Demikianlah penjelasan saya tentang Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi–Coaching

Berikut Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi-Coaching dalam bentuk mindmap : 

Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi - Coaching

Demikian penjelasan saya tentang Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi–Coaching

Praktek Pembelajaran bisa dilihat melalui link : 




Share:

Jurnal Refleksi Minggu ke-4 Calon Guru Penggerak

Jurnal Refleksi Minggu ke-4 Calon Guru Penggerak ini dibuat Sesuai model 5R (Bain, dkk, 2002, dalam Ryan & Ryan, 2013)

 

Jurnal Refleksi Minggu ke-4 Calon Guru Penggerak

1 Reporting (Pelaporan kegiatan)

Pembelajaran dalam diklat Calon Guru Penggerak minggu ke-4 adalah tentang nilai dan peran guru penggerak sesuai alur LMS, yaitu melalui kegiatan :

-      Eksplorasi konsep mandiri sesuai alur LMS

-      Ruang kolaborasi

-      Diskusi virtual dengan meeting zoom

-      Presentasi virtual dan

-      Refleksi terbimbing.

 

2. Responding (Menanggapi)

Kegiatan Diklat Calon Guru Penggerak memasuki minggu ke 4. Kegiatan dimulai dengan menggali nilai diri dan peran sebagai guru. Secara sadar ataupun tidak telah menjalankan nilai dan peran seorang guru penggerak walaupun tidak secara menyeluruh. Menggali dan mengenali diri sendiri dengan cara menggambar diagram trafesium usia, dan menuliskan secara menyeluruh peristiwa atau kejadian yang dilakukan dan dialami sejak lahir sampai dengan posisi usia sekarang. Mengingat dan mencatat kembali peristiwa yang terkesan dan tersimpan dalam diri yang masih diingat sampai sekarang. Baik sisi negatif maupun positif peristiwa yang dialami. Dengan menuliskan kejadian yang terkesan yang tetap bisa diingat sampai sekarang, dapat diambil hikmah bahwa sebagai guru dapat mengambil pelajaran bahwa seluruh tindakan kita sebagai guru akan tertanam dalam benak siswa selamanya.

Dengan menuliskan secara rinci kejadian yang dialami di usia sekolah akan dapat menjadi cara efektif menuntun diri sendiri untuk mengenali diri akan semua potensi yang ada, ataupun kelemahan diri, yang selanjutnya dapat dijadikan dasar pengembangan diri berbenah menjadi guru yang profesional di masa yang akan datang. Selanjutnya bisa menjadi pribadi yang selalu berusaha dan senantiasa yakin bisa menjadi guru terbaik bagi murid di sekolah masing-masing.

Kegiatan diakhiri dengan membuat refleksi diri dan aktualisasi diri dalam bentuk pembuatan poster digital. Dengan aplikasi ini ketrampilan diri bisa terus dikembangkan ditunjang dengan kemajuan teknologi pembuatan poster menjadi mudah dan cepat dengan aplikasi android “Poster maker”. Poster dibuat dalam bentuk Jpeg untuk selanjutnya diunggah di LMS semua CGP.

 

3. Relating (Keterkaitan dengan kegiatan)

Sesuai alur LMS Pada modul 1.2 ini saya mendapatkan pemahaman bahwa seorang guru penggerak untuk bisa menjalankan perannya dengan maksimal, ia harus menjiwai nilai - nilai; mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak kepada murid. Dengan nilai-nilai itu, sebagai guru bisa mewujudkan kepemimpinan murid, menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach yang baik untuk guru lain, dan berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait yang menunjang kemajuan pembelajaran. Jika guru telah menjiwai nilai dan peran guru penggerak tersebut secara utuh makan mewujudkan profil pelajar Pancasila akan tercapai dengan baik. Peserta didik akan tertuntun menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

 

4. Reasoning (Penalaran)

Peran sebagai guru penggerak yang masih belum saya lakukan adalah menggerakkan komunitas praktisi, baik di sekolah maupun di forum KKG, karena sebagai guru saya masih banyak kekurangan, atau secara menyeluruh nilai dan peran guru penggerak tersebut belum bisa menjiwai secara paripurna.

 

Oleh karena itu, saya mengikuti Program Guru Penggerak, dengan tujuan agar mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang bagus mengenai peran guru sesungguhnya. Dengan kolaborasi bersama rekan CGP saya berharap mendapatkan beragam inspirasi dan praktik baik yang bisa saya terapkan dalam pembelajaran sehari-hari di masa yang akan datang lebih baik dan berpihak pada murid.

 

5. Rekonstruksi (Refleksi kegiatan)

Refleksi mandiri adalah merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan atau kekurangan yang ada pada diri sendiri ataupun kegiatan yang telah dilakukan, program yang telah dijalankan. Melalui refleksi, saya dapat memperbaiki kekurangan, meningkatkan yang sudah baik. Refleksi dapat kita jadikan pedoman untuk membuat dan menyusun rencana tindak lanjut yang lebih bagus dan komprehensip.


Melalui diklat Guru Penggerak ini, saya berusaha meningkatkan diri, memupuk kemandirian, serta rasa percaya diri untuk menggerakkan komunitas dalam berkolaborasi dengan baik, agar mampu menjadi guru yang inovatif untuk kemajuan belajar menuju perwujudan merdeka belajar.


Share:

Jurnal Refleksi Minggu-3 Pendidikan Calon Guru Penggerak

Jurnal Refleksi Minggu-3 Pendidikan Calon Guru Penggerak
Setelah 2 minggu sebelumnya fokus mempelajari filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara, barulah minggu ke 3 CGP mulai mempelajari tentang nilai dan peran guru penggerak melalui LMS 1.2. Dengan tugas awal menggambar diagram trafesium usia kami para peserta CGP mulai dengan mengenali diri sendiri. Mengingat kembali peristiwa masa lalu sejak usia sekolah sampai dengan posisi usia sekarang. Dengan menuliskan kejadian-kejadian istimewa yang terkesan teringat sampai sekang baik kejadian positif maupun negatif. Kejadian terkesan tersebut bisa diambil pelajaran untuk mengurai tentang nila diri sebagai Calon Guru Penggerak untuk kemudian dikembangkan menjadi nilai ke arah yang positif dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak.

Dilihat dari struktur materi modul mungkin CGP diarahkan untuk dapat memahami diri pribadi melalui pengalaman belajar yang berkaitan dengan konsep diri dalam usaha meningkatkan pemahaman terkait nilai dan peran guru penggerak baik yang telah ada pada diri maupun yang diharapkan dapat ditingkatkan di masa yang akan datang. Setelah mengikuti alur pembelajaran modul LMS barulah aku tahu melalui diskusi dengan menyampaikan pendapat atau menanggapi pendapat CGP lain banyak hal yang bisa kami ambil pengetahuan dan pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran dalan menerapkan nilai dan peran guru penggerak di masa mendatang.

Banyak hal bisa saya pelajari dari materi dalam modul di LMS, ditambah pengetahuan dan pengalaman dari CGP lain melalui ruang diskusi. Dengan kolaborasi dalam kelompok diskusi, pada akhirnya seluruh peserta diharapkan dapat mengambil pelajaran untuk selanjutnya dapat memudahkan dalam mengimplementasikan nilai dan perannya sebagai guru penggerak. Ataupun pula dapat mengembangkan dalam aplikasi nyata di sekolah dengan teman sejawat.

Demikian jurnal yang bisa kami susun di minggu ke 3 ini.

Terima kasih….

 

Share:

Jurnal Refleksi Minggu-2 Pelatihan Calon Guru Penggerak

Jurnal Refleksi Minggu ke-2

Jurnal Refleksi Minggu-2 Pelatihan Calon Guru Penggerak
Kegiatan yang harus saya ikuti pada minggu kedua diklat Calon Guru Penggerak masih tetap melanjutkan mendalami materi modul 1.1 yaitu Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pada awalnya kegiatan sepertinya hanya mengulang lagi tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Tetapi setelah memasuki Ruang Kolaborasi ternyata masih banyak pemikiran-pemikiran besar Ki Hajar Dewantara yang perlu saya pelajari lebih mendalam. Dengan mengikuti secara langsung zoom meeting dengan sesepuh di Sekolah Taman Siswa Yogyakarta dan presentasi dari guru sekolah di Yogyakarta yang telah menerapkan dengan baik pendidikan sesuai dengan kerangka pembelajaran pemikiran Ki Hajar Dewantara, barulah saya tahu dan menyadari bahwa betul saya harus lebih mendalami lagi kerangka pembelajaran dan model pembelajaran sebelum menerapkannya pula di sekolah saya, di kelas saya nantinya.

Selanjutnya untuk memperdalam materi saya melanjutkan dengan menyelesaikan kegiatan di LMS yaitu kegiatan refleksi terbimbing presentasi kerangka pembelajaran yang sesuai dengan alur merdeka belajar Ki Hajar Dewantara. Pembuatan video refleksi filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam kegiatan demonstrasi kontekstual sebagai perwujudan pemahaman saya terhadap seluruh materi. Sayangnya terkendala laptop mengalami eror sehingga harus mundur waktu penyelesaian tugas saya. Walaupun akhirnya bisa menyelesaikan tugas dengan sedikit masalah bahwa video yang kami buat tidak bisa sempurna karena tidak bisa membuat video dengan audio narasi yang baik. Sehingga dengan terpaksa narasi video kami sertakan dalam bentuk artikel di blog dan halaman LMS. Mudah-mudahan ke depan bisa mengatasi kendala ini sehingga tidak ada masalah lagi.

Saya harus kembali menumbuhkan semangat untuk segera mengejar ketertinggalan saya pada pendalaman materi selanjutnya. Hal ini harus saya lakukan karena saya ternyata tidak bisa menyelesaikan seluruh kegiatan dengan tepat waktu. Hingga akhirnya pada kegiatan sesi sinkron saya bisa bersemangat kembali karena ada pendalaman materi dari pemaparan instruktur. Pemaparan instruktur mencerahkan saya karena saya merasa belum mampu secara baik menerapkan pembelajaran sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara di kelas saya.

Pembelajaran melalui LMS mengesankan bagi saya. Dan berdampak positif bagi diri saya pribadi karena menjadi tahu merdeka belajar dalam praktek langsung yang saya sadari sangat berpengaruh dapat dengan baik melatih kemandirian, kreatif dan melatih berpikir kritis untuk selanjutnya dapat dengan lancar menyelesaikan tugas dengan cara kolaborasi dan tukar pengalaman dengan CGP lain serta inspirasi dari instruktur dan motivasi dari fasilitator.

Filosofi pendidikan pemikiran besar Ki Hajar Dewantara ke depan sangat cocok untuk memperbaiki pola pembelajaran yang kurang tepat saat ini. Dimana masih banyak pembelajaran di sekolah dengan konsep tabularasa yang ternyata salah. Siswa dianggap sebagai kertas kosong, sehingga guru dianggap sebagai narasumber utama dalam pembelajaran adalah salah. Menurut Ki Hajar Dewantara pembelajaran adalah menuntun bakat dalam diri anak untuk difasilitasi menuju tumbuh dan berkembang secara maksimal. Pemikiran ini harus saya pelajari lebih mendalam untuk kemudian menerapkannya di kelas.

Tantangan bagi saya pada minggu kedua ini sangat berat menurut saya, karena terkendala peralatan laptop yang eror, kendala cuaca yang memang telah memasuki musim hujan sehingga tidak bisa setiap waktu bisa berinteraksi dengan internet. Selain itu harus juga menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari di sekolah yang tidak sedikit ditambah kegiatan menyelesaikan tugas-tugas diklat di LMS. Tentunya dengan usaha yang tidak mudah,  manajemen waktu dan menyusun skala prioritas dengan baik, semangat dan kesabaran akhirnya sedikit demi sedikit dapat kami selesaikan dengan baik.

Kesimpulan dari jurnal minggu kedua saya ini adalah sebagai Calon Guru Penggerak merasa bersyukur, pembelajaran melalui LMS dan virtual dengan instruktur dan narasumber yang berkompeten memberikan pengalaman yang baik bagi saya, pengalaman yang bermakna yang tentunya memberi pengetahuan yang nyata untuk kemudian bisa saya terapkan di sekolah dan kelas saya. Filosofi pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat tepat untuk mengembalikan pada proses pembelajaran yang sebenarnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Dengan mengacu pada kecakapan abad 21 dengan tetap berpedoman pada Pancasila adalah langkah nyata dan tepat dalam mewujudkan profil pelajar pancasila dengan merdeka belajar.

Terima kasih.

Share:

Jurnal Refleksi Minggu ke-1 Pelatihan Calon Guru Penggerak

Jurnal Refleksi Minggu-1

Sesuai model 1 4F : (Facts, Feelings, Findings, Future)


Jurnal Refleksi Minggu ke-1 Pelatihan Calon Guru Penggerak

Sepekan sudah mengikuti diklat daring CGP. Pada lokakarya perdana jujur saya rasakan saat itu sebagai peserta belum menemukan apa sebenarnya pelajaran praktis yang sangat aku harapkan dapat saya peroleh untuk modal awal pengetahuan dasar yang mungkin selama 9 bulan ke depan bisa saya pelajari lebih mendalam. Utamanya pengetahuan dasar yang dapat secara praktis bisa saya jalankan di kelas ketika melakukan pembelajaran bersama murid-murid saya nanti. Bahkan fokus pemikiran saya masih berkutat pada anggapan saya yang mungkin keliru, bahwa sebagai guru penggerak ke depan itu akan lebih banyak berinteraksi dengan sesama guru untuk melakukan diskusi tukar pendapat yang notabene saya sebagai guru penggerak harus dapat menjadi narasumber yang dapat memberi solusi pada guru-guru yang menjadi komunitas saya nantinya. Akan tetapi ternyata beberapa hari berjalan ternyata berbeda seperti yang telah dipaparkan begitu jelas oleh instruktur bu Siti Lutfiah ternyata fokus utama adalah siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa.

Baru aku sadari bahwa 9 bulan ke depan saya harus banyak belajar memperdalam ilmu pengetahuan yang tersusun begitu banyak di LMS yang harus saya pelajari berlatih dan terapkan. Disinilah kesadaran diri harus aku perbaiki, untuk selanjutnya belajar lebih fokus, dan harus selalu minta bimbingan dari fasilitator agar tidak salah arah dalam mempelajari materi utama pelatihan ini. 

Dalam mempelajari modul di LMS ternyata bukanlah hal mudah untuk dilakukan, walaupun telah banyak melakukan kegiatan sejenis di LMS sim-pkb. Tapi LMS CGP dengan alur modulnya ternyata butuh pemahaman ekstra. Karena setiap alur dengan model pembelajaran yang berbeda

Dari beberapa kali meeting zoom dengan narasumber, yang selanjutnya masuk pada ruang kolaborasi barulah aku tahu bahwa bagaimana saya harus mengikuti alur-demi alur LMS untuk mempelajari modul. Dengan beberapa kali praktek langsung melaui link yang dibagikan langsung pada chat zoom untuk diikuti dengan model-model aplikasi yang bisa dipakai untuk diskusi, ternyata teknologi memudahkan guru untuk selalu mengembangkan diri. Disinilah aku sadari harus selalu banyak bersyukur bisa diberi kesempatan belajar dengan narasumber di CGP ini untuk belajar lebih baik 9 bulan ke depan. Yang ternyata jika saya terapkan di kelas dengan murid-murid saya tentunya sangat menarik. Ini baru awal, saya berharap selanjutnya saya bisa belajar lebih bagus untuk model-model pembelajaran yang saya percaya saya bisa mengikuti perkembangan teknologi untuk pembelajaran lebih baik nantinya. Pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi ternyata sangat menarik, dan ini yang membuat saya semangat karena di sekolah saya prasana untuk pembelajaran barbasis IT sudah ada dan sudah lama diterapkan oleh teman-teman guru di sekolah. Hanya model-model pembelajaran yang terbaru yang lebih menarik mudah-mudahan bisa saya dapatkan dengan berada di sini di tengah para guru-guru hebat peserta CGP dengan bimbingan dari narasumber profesional. Karena saya percaya narasumber CGP beliau adalah Guru dan atau praktisi pendidikan pilihan di Indonesia. Tidak semua guru atau praktisi pendidikan bisa berada pada posisi itu dengan mudah, akan tetapi melalui proses yang sangat panjang.


Share:

Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Sahabat guru semuanya, perkenankan saya menyampaikan sedikit Refleksi pemikiran besar Ki Hajar Dewantara menurut persepsi saya yang mungkin berbeda dengan pandangan dari sahabat guru semua. Walaupun hanya sedikit mudah-mudahan ada manfaatnya bagi sahabat guru semua.

Mungkin anak jaman sekarang merasa nggak perlu tau siapa Ki Hajar Dewantara, atau mungkin sebagian besar anak muda sekarang nggak kenal siapa itu Ki Hajar Dewantara. Mungkin ada juga yang berfikir apa gunanya ya mempelajari hal-hal kayak gitu? Apa manfaatnya membaca-baca sejarah tokoh tempo dulu? Berguna nggak sih untuk kehidupan jaman sekarang? Jaman now gitu lho… jaman teknologi…? Mungkin ada yang berfikir begitu?

Terus harusnya menurut kamu apa sih yang mesti dipelajari di sekolah? (Jika anda murid) lalu jika anda guru harusnya apa sih yang mesti diajarkan di sekolah jaman now?

Ok mungkin ada baiknya anda lihat saja sebentar tulisan ini, siapa tau bisa memberikan sedikit gambaran pentingnya mempelajari pemikiran besar Ki Hajar Dewantara. Yang pasti juga penting dan bermanfaat bagi kita semua. Karena di tulisan ini saya akan sedikit bercerita akan siapa orang yang paling berjasa bagi pendidikan di negara kita Indonesia.

Sebelum kita bahas tentang filosofinya yang bermanfaat bagi pendidikan di Indonesia, pertama-tama kita bahas dulu orangnya. Siapa sih Ki Hajar Dewantara?

Ki Hajar Dewantara
Kalo lihat foto-foto Ki Hajar Dewantara mungkin dalam benak kita tergambar, Ki Hajar Dewantara itu orang kuno, kolot, orang kraton bangsawan yang mungkin kerjanya mempelajari budi pekerti luhur dari nenek moyangnya orang-orang bangsawan seperti tergambar dalam makna tiga semboyan yang selalu menjadi filosofi pendidikan di Indonesia. Atau mungkin ada yang beranggapan bahwa mengajarkan budi pekerti itu serba kolot, disiplin kaku, salah sedikit dihukum. Lihat saja dari pakaianya dengan pakaian adat jawa lengkap, kalo perempuan juga kebaya lengkap. Dari foto sepertinya ribet kan? Itu persepsi saya karena sekarang untuk mengenakan pakaian adat jawa di hari Kamis itu saja ribet sekali kan? Belum lagi jika yang lihat anak-anak muda jaman sekarang, anak gaul, mungkin tambah nggak terbayangkan.

Kalo kita lihat biografi tokoh-tokoh besar bangsa ini pada zaman kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara ternyata bukanlah tokoh yang seperti itu. Ki Hajar Dewantara masa mudanya adalah anak bangsawan yang genius, dia dapat beasiswa untuk kuliah kedokteran di Batavia, hebat kan? Di zamannya orang bisa sekolah itu belum tentu lho. Ketika kuliah, Karena sifat nasionalismenya yang tinggi di kampus banyak kegiatan dan tulisan beliau yang nuansanya mengkritik keras pemerintahan kolonial Belanda.  Sehingga akhirnya dikeluarkan dari kampus. Setelah dikeluarkan dari kampus apa yang dia lakukan…? terbayang nggak mahasiswa dikeluarkan dari kampus, kalau zaman sekarang tamat sudah, sudah nggak tau mau jadi apa. Ki Hajar Dewantara ternyata tidak, ya memang karena beliau orang jenius. Selanjutnya beliau bekerja sebagai wartawan. Profesi wartawan justru dimanfaatkan oleh beliau dengan sangat cemerlang, semakin keras Ki Hajar Dwantara mengkritik pemerintah Belanda. Akhirnya oleh Belanda beliau dibuang ke Belanda dengan maksud agar tidak menulis yang isinya mengkritik Belanda jika masih berada di tanah air.

Di Belanda beliau malah berkesempatan besar untuk belajar lebih baik. Akses ke kampus dan buku-buku pendidikan hasil pemikiran tokoh-tokoh kelas dunia dapat dengan mudah diakses oleh Ki Hajar Dewantara. Hasil riset-riset terbaru dunia pendidikan dapat dengan mudah beliau akses, beliau dapat pelajari lebih mendalam ketimbang ketika masih di tanah air. Termasuk salah satunya kurikulum sekolah Maria Montesori yang banyak digunakan sekolah-sekolah elit terkenal di seluruh dunia. Hasil pembelajaran beliau dengan otak jeniusnya tersebut kemudian beliau rangkum untuk dibawa pulang ke Indonesia yang selanjutnya dijadikan dasar-dasar filosofis pendidikan di Sekolah Tamansiswa yang beliau dirikan.

Ok sekarang kita fokus ke filosofi pemikiran besar beliau.

Filosofi terkenal yang selalu diterapkan di sekolah adalah “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuru handayani”. Seboyan tersebut sebenarnya adalah cocok untuk filosofi guru, karena memang seharusnya gurulah yang harus menjiwai 3 semboyan itu. Yang akan saya bahas sekarang adalah bagaimana dengan siswa? Apa filosofi dari hasil pemikiran besar Ki Hajar Dewantara bagi siswa? Seperti kita ketahui bahwa pendidikan itu sejatinya adalah harus berpusat pada anak. Fokus utama pendidikan adalah siswa.

Hal utama yang mendasar bagi pendidikan adalah tujuan pendidikan. Apa sebenarnya tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara? Supaya pintar? Dapat nilai bagus? Dapat ijazah, gelar, yang kemudian dapat kerja? Ternyata tidak. Tujuan utama pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah “Memerdekakan manusia”. Apa itu manusia merdeka? Menurut Ki Hajar Dewantara manusia merdeka itu adalah selamat dan bahagia.

Membaca tujuan utama dari pendidikan dari beliau adalah selamat dan bahagia.

Tujuan Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Nah mulai dari sini barulah aku sadar, bahwa sebenarnya hal-hal seperti itu belum saya lakukan di sekolah. Padahal menurut Ki Hajar Dewantara “pendidikan harusnya memerdekakan manusia, menghasilkan manusia yang selamat dan bahagia”. Kira-kira semua orang setelah menyelesaikan sekolahnya tahu nggak ya bagaimana caranya untuk bisa selamat dan bahagia? Lha kalau diajarkan saja tidak di sekolah, bagaimana bisa tahu bagaimana caranya untuk bisa hidup selamat dan bahagia? Disinilah sebagai guru saya menyadari harus mengembalikan konsep dan tujuan utama pendidikan. Dimulai dari kelas saya saat ini. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan itu menuntun, seperti kalau dalam istilah jawa itu tletah artinya bayi itu bukan tidak bisa jalan, tapi orang tua nletah si bayi untuk memulai bisa berjalan. Menuntun itu posisinya di belakang, nletah bayi itu kita berada di belakang, artinya sesuai semboyan tutwuri handayani, menuntun itu membimbing dari belakang, kalo akan jatuh segera dijaga diarahkan dibimbing yang benar agar tidak jatuh. Memberdayakan menguatkan, mendukung, biarkan potensinya yang bagus ditampakkan, untuk kemudian kita fasilitasi agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Itu adalah yang benar harus dilakukan guru. Menuntun segala potensi yang ada pada siswa menuju manusia yang selamat dan bahagia.

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan itu memiliki 3 peran penting yang terkenal dengan semboyan Tri Rahayu yaitu :

Peran Pendidikan Ki Hajar Dewantara

1.  Hamemayu hayuning sarira” Memajukan dan menjaga diri

2.  Hamemayu hayuning bangsa” Memelihara dan menjaga bangsa

3.  Hamemayu hayuning bawono” Memelihara dan menjaga alam

Semua itu terhubung dan semua berkontribusi pada kepentingan yang lebih besar. Semua terhubung dan harus dimulai dari diri kita masing-masing. Memerdekakan satu orang adalah langkah awal memerdekakan satu keluarga. Memerdekakan keluarga adalah langkah awal memerdekakan suatu daerah. Memerdekakan daerah adalah langkah awal memerdekakan bangsa. Semua saling berkontribusi. Kita hidup bukan zamannya zero-sum-game, dimana untuk untung yang lain harus rugi, tidak. Ini adalah zaman dimana kita bisa bahagia bersama tanpa harus mengorbankan orang lain.

Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan itu harus kontinue, konvergen dan konsentris.

Pola Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Kontinue artinya berkelanjutan, belajar itu terus-menerus sepanjang hayat. Ya tentunya berkelanjutan menuju yang lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari yang kemarin. Besuk harus lebih baik dari hari ini. Itulah prinsip keberlanjutan pendidikan, maka jika hari ini kita sama yang kemarin maka rugilah kita.

Konvergen artinya bahwa ilmu itu harus dari berbagai sumber, Ki Hajar Dewantara mengambil konsep-konsep pendidikanya dari berbagai konsep pendidikan tokoh dunia misalnya Maria Montesari, Frobel atau Rabindra Natagore.

Berikutnya adalah konsentris artinya belajar dari luar itu boleh saja tapi jangan lupa disesuaikan dengan identitas dan konteks yang ada di hidup kita masing-masing. Artinya bahwa kita hanya boleh mengambil sumber dari luar jika memang betul itu bermanfaat bagi pencapaian tujuan utama pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan. Walupun itu berasal dari diri sendiri atau lingkungan sendiri tetapi jika memang tidak bermanfaat dalam menunjang pencapaian tujuan utama pendidikan, juga harus dihindarkan.

Demikian sekedar refleksi terhadap pemikiran besar Ki Hajar Dewantara sebagai seorang guru. Mudah-mudahan ke depan bisa meneladani jasa besar beliau terhadap pendidikan di negeri ini dimulai dari kelas dan sekolah saya sendiri.
Share:

Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantara

Salah satu pemikiran besar Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan adalah pendidikan merupakan upaya memerdekakan manusia baik secara lahiriyah maupun secara btiniah. Oleh karenanya sebagai seorang guru dan juga seorang pendidik kita dalam melaksanakan pembelajaran harus senantiasa menimplementasikan pemikiran besar Ki Hajar Dewantara tersebut yaitu memerdekakan peserta didik. Pertanyaannya adalah sebagai seorang guru apakah kita telah memerdekakan anak didik kita dalam setiap proses pembelajaran?

Mendidik menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang dimiliki anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Artinya bahwa mendidik itu menuntun seluruh bakat yang dimiliki anak sesuai kodratnya menuju perkembangan dan pertumbuhan menuju tumbuh kembang yang sesuai dengan bakat dan minat anak masing-masing. 

Jika dahulu kita mengenal teori “tabularasa” yang dicetuskan oleh John Locke, yang menatakan bahwa seorang anak lahir diibaratkan kertas kosong, tinggal orang dewasa mau menulisi seperti apa. Baik atau buruknya perkembangan anak terserah orang dewasa yang mewarnainya.

Teori tabularasa John Locke terbantahkan oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara, yaitu bahwa seorang anak terlahir telah memiliki bakat atau kodrat yang masih samar-samar. Tugas guru adalah menebalkan bakat samar-samar tersebut hingga seorang anak menemukan bakatnya setelah dewasa secara maksimal. Jika teori “tabularasa” itu kertas kosong maka  dengan diwarnai oleh orang dewasa yang sama maka ketika dewasa berada pada bakat yang sama tanpa perbedaan. Akan tetapi ternyata ketika dewasa anak tumbuh kembang dengan bakat yang berbeda-beda. Sehingga benar apa yang menjadi pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa orang dewasa (dalam hal ini guru) tugas utamanya adalah menuntun, memfasilitasi anak untuk semaksimal mungkin tumbuh dan berkembang sesuai bakat masing-masing, dan tidak mungkin akan tumbuh dan berkembang dalam satu bakat yang sama pada seluruh peserta didik.

Ki Hajar Dewantara menganalogikan proses pendidikan sebagaimana petani yang bercocok tanam. Dengan berbagai macam benih yang akan ditanam, ada padi, jagung kedelai dan sebagainya. Seorang petani hanya bisa menuntun dalam arti merawat tanaman padi dengan bercocok tanam, memberi pupuk, membasmi hama yang mengganggu sesuai ilmu menanam padi. Meskipun pertumbuhan padi dapat diusahakan lebih baik dengan ilmu-ilmu tentang tanaman yang terbaru, tetapi petani tidak dapat mengubah kodratnya padi. Misalnya petani berharap menanam padi panen jagung, atau merawat tanaman jagung layaknya menanam padi pasti tidak akan bisa, dan tidak akan pernah terjadi. Begitulah seorang pendidik dengan segala kemampuannya menuntun peserta didik sesuai bakat dan minat anak. Tugas guru yang utama adalah memfasilitasi siswa, menuntun siswa untuk tumbuh berkembang sesuai dengan bakat yang telah menjadi takdirnya sejak dilahirkan. Seluruh siswa tidak bisa dipaksa untuk tumbuh dan berkembang dengan model yang sama. Misalnya seluruh siswa diharuskan menjadi pemain bola semua, tidak akan bisa, karena siswa kan tumbuh sesuai dengan bakat dan minat masing-masih. Ada yang memiliki bakat bermain bola, ada yang berbakat di bidang seni, ada yang berbakat pada ilmu pengetahuan eksakta dan lain sebagainya bakat yang sesuai sebanyak siswa. Tugas guru menuntun siswa sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh masing-masing siswa secara maksimal.

Selain itu, sebagai guru sekaligus sebagai seorang pendidik harus dapat mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang berpihak pada anak. Seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada anak”. Maksud dari ungkapan beliau adalah bahwa sebagai seorang pendidik harus dengan tulus ihklas mendidik siswa, tidak boleh menuntut apapun, hanya berusaha mendidik anak agar mencapai kebahagiaan hidup sebagai manusia dan masyarakat.

Merdeka belajar artinya bahwa sebagai seorang guru juga merupakan pendidik selain harus menuntun kodrat anak sesuai dengan bakat dan minatnya, juga harus mampu menuntun menumbuhkan budi pekerti yang baik siswa menuju manusia yang berahklak mulia. Ki Hajar Dewantara menumbuhkan budi pekerti siswa dengan cara menerapkan pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran meliputi “Hablumminallah yaitu bagaimana sikap manusia terhadap Tuhannya, dan “Hablumminannas” yaitu bagaimana hubungannya sikapnya dengan sesama manusia. Ditambah Ki Hajar Dewantara juga menanamkan pendidikan karakter kebangsaan agar siswa memiliki kepribadian yang khas serta jiwa bela negara dan cinta tanah air.

Dalam mensukseskan pendidikan dengan “merdeka belajar”, Ki Hajar Dewantara menerapkan tripusat pendidikan yang meliputi : 1) pendidikan di lingkungan keluarga. 2) pendidikan di sekolah dan 3) di lingkungan masyarakat. Yang pertama dan yang paling utama adalah penanaman pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Disinilah kunci utama pendidikan karakter pada anak. Dengan kasih sayang yang tulus dari keluarga tanpa pamrih, hanya memberi tanpa berharap menerima merupakan faktor utama penanaman karakter, watak dasar pada anak yang sangat berpengaruh pada pendidikan selanjutnya. Yang kedua adalah penyelenggaraan pendidikan di sekolah, yang secara formal sekolah diserahi tanggung jawab untuk mendidik putra-putrinya di sekolahan. Dengan segala fasilitas di sekolah orang tua berharap atas keberhasilan pendidikan putra-putrinya. Guru dengan profesionalisme yang diperoleh dari pendidikan yang telah ditempuh memiliki tanggung jawab yang besar untuk misi lembaga pendidikan yang diberikan tanggung jawab padanya untuk mengelola. Yang terakhir yang ketiga adalah di lingkungan masyarakat, adalah merupakan lingkungan di mana peserta didik bersosialisasi, bergaul dan bermain. Lingkungan masyarakat sangat berperan dalam mendukung keberhasilan pendidikan karakter bagi peserta didik, karena intensitas waktu bersama dengan lingkungan masyarakat sangat banyak. Sehingga dukungan masyarakat dalam keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan juga sangat diharapkan.

Ke depan sebagai harus mampu menjalin hubungan baik dengan orang tua/wali murid dan masyarakat. Karena pendidikan karakter tidak bisa hanya menitik beratkan pada proses di sekolah. Akan tetapi pengertian dan peran serta orang tua dengan dukungan masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah.


Share:

Recent Posts