• Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Artikel Pendidikan Pengembangan Kapabilitas Guru di Era Digital.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

Tugas Modul 3.1.a.9. Koneksi Antar Materi-Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Tugas Modul 3.1.a.9. Koneksi Antar Materi

Setiap tanggal 2 Mei akan selalu diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Tahukah anda kenapa tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari pendidikan nasional? Tanggal 2 Mei 1889 merupakan hari kelahiran pahlawan nasional dengan nama asli R.M Suwardi Suryaningrat. Beliau merupakan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi sejak zaman kolonial Belanda. Beliau dilahirkan dari keluarga ningrat di kraton Yogyakarta.

Ki Hadjar Dewantara mengatakan, "Kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu 'dipelopori', atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri."

Maksud dari pernyataan Ki Hadjar Dewantara tersebut dengan jelas menunjukkan apa yang seharusnya lahir dari proses pendidikan, yakni agar anak-anak mampu berpikir sendiri. Sehingga siswa diharapkan menjadi orisinal dalam berpikir dan bertindak.

Bapak Pendidikan Nasional ini beranggapan bahwa tolok ukur keberhasilan sebuah pendidikan adalah ketika anak mampu mengenali tantangan yang ada di depannya dan tahu bagaimana seharusnya mereka mengatasinya.
Berikut pertanyaan-pertanyaan pemantik yang bisa disampaikan di sini untuk mengarahkan keterkaitan dengan materi modul-modul sebelumnya.

1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh pencetus Patrap Triloka dalam dunia pendidikan.

Patrap Triloka adalah sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) selaku pendiri organisasi pergerakan nasional Indonesia yaitu Taman Siswa. 

Terdapat tiga unsur penting dalam Patrap Triloka, yaitu: (1) Ing ngarsa sung tuladha (2) Ing madya mangun karsa (3) Tut wuri handayani.

1) Ing ngarsa sung tuladha, artinya bahwa seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran haruslah memberikan contoh, suri tauladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya (utamanya pada siswa). Guru harus memiliki pribadi yang baik sesuai dengan tuntunan agama yang diyakini, serta norma yang berlaku di masyarakat dimana dia tinggal, sikap dan pribadi guru tersebut kemudian terefleksikan dalam keteladanan setiap mengambil keputusan terhadap murid-murid dan orang-orang di sekitarnya. Bisa dikatakan bahwa itulah prinsip pertama yang harus dimiliki oleh seorang guru. Keteladanan menjadi sebuah hal utama karena akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya terhadap dirinya. Seperti halnya filosofi bahwa guru harus bisa digugu dan ditiru, digugu (artinya dapat dipercaya setiap perkataanya) dan ditiru setiap tindak-tanduk (tingkah lakunya).

2) Ing madya mangun karsa artinya guru sebagai pemimpin pembelajaran harus bisa bekerja sama dengan orang yang dididiknya (murid). Sehingga pembelajaran yang dilakukan akan terasa mudah atau ringan dan akan semakin mempererat hubungan antara guru dengan murid, namun tidak melanggar kode etik guru. Guru diharapkan mampu menjadi rekan sekaligus sebagai pengganti orang tua murid di sekolah, sehingga guru mampu mengetahui kebutuhan belajar murid. Salah satu kebutuhan belajar murid adalah keterampilan mengambil keputusan. Karena itu dengan ing madya mangun karsa guru dapat melakukan coaching terhadap para muridnya dalam mengambil setiap keputusan, termasuk keputusan yang mengandung unsur dilema etika yang dihadapi para murid. Dengan demikian potensi murid menjadi lebih berkembang sehingga mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat bagi dirinya dan berdampak positif di masa yang akan datang.

3)Tut wuri handayani artinya guru sebagai pemimpin pembelajaran harus bisa mendorong seluruh siswa untuk maju dan berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya. Memberikan ilmu-ilmu dan bekal-bekal yang akan menambah wawasan dan pengetahuan bagi murid. Inilah fungsi seorang guru sebagai coach dan motivator, ia mampu mendorong murid untuk terus berkembang dan maju serta mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Sebagai pendidik, harus harus menyadari bahwa setiap anak membawa kodratnya masing-masing. Guru hanya perlu menuntun segala yang ada pada diri anak, mengarahkan dan memberi dorongan supaya dapat berproses dan berkembang sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Dalam proses menuntun, anak diberi kebebasan, agar dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar, dalam hal ini guru sebagai pemimpin pembelajaran memberikan tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah yang berdampak negatif bagi siswa, maka guru harus mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, berpihak pada murid serta bijaksana, dengan menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema etika dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Di era digital sekarang, setelah lebih dari satu abad sang tokoh pencetus patrap triloka telah tiada, azas-azas dasar pendidikan tersebut harus tetap tertanam dalam jiwa masing-masing pendidik di negeri ini.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai yang harus tertanam dalam diri seorang pendidik adalah nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, gotong-royong serta nilai kebaikan lainnya. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai utama yang kita hargai dalam kehidupan dan sangat berpengaruh pada pembentukkan karakter , perilaku dan membimbing dalam kita mengambil suatu keputusan. Sebagai Guru Penggerak, tentu harus ada beberapa nilai yang dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Untuk bisa mengambil keputusan yang tepat diperlukan nilai atau prinsip, pendekatan, dan langkah-langkah yang benar sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko paling minimal bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan/keberpihakan pada anak didik kita. Untuk membuat suatu keputusan berbasis etika, diperlukan kesamaan visi, budaya dan nilai yang dianggap penting dari suatu institusi sehingga menjadi prinsip dasar acuan yang lebih jelas.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Pembimbingan oleh fasilisator dan pengajar praktik telah membantu saya untuk berlatih mengevaluasi keputusan-keputusan yang telah saya ambil sebelumnya. Apakah keputusan yang saya ambil tersebut sudah berpihak kepada murid? Apakah sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal? Apakah keputusan yang saya ambil bermanfaat untuk banyak orang? Dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara proporsional?
Seorang pendidik harus mampu mengetahui dan memahami kebutuhan belajar serta kondisi sosial dan emosional dari muridnya . Seorang siswa harus mampu menyelesaikan permasalahannya dalam belajarnya.
Pentingnya pendekatan Coaching dilaksanakan oleh guru, karena guru dalam hal ini sebagai coach akan dapat dengan baik menggali potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberi pertanyaan pemantik, sehingga murid dapat menemukan potensi yang ada terpendam dalam dirinya untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan. Coaching dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat yang akan berpengaruh terhadap terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Yang berdampak positif bagi peserta didik dalam proses pembelajaran.
Modul coaching dengan banyak praktek langsung dengan rekan Calon Guru Penggerak lain, rekan sejawat dan siswa, sangat membantu guru untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk kemudian dapat memecahkan permasalahan sebagai pemimpin pembelajaran, sehingga pada saat menentukan suatu permasalahan dilema etika seorang guru mampu mengidentifikasi suatu permasalahan dengan tehnik coaching, dan mampu menghasilkan keputusan yang tepat dan berpihak pada murid.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Dalam melaksanakan pembelajaran, guru harus mampu melihat, memahami, mengidentifikasi kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional diantaranya kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfullness), terutama sadar dengan berbagai pilihan , konsekuensi yang akan terjadi, dan meminimalisir kesalahan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan keputusan selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada anak didik

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Sebagai guru di sekolah dasar, sekaligus sebagai seorang pendidik dituntut mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang, dan mampu membedakan setiap permasalahan yang dihadapi dalam kategori dilema etika atau bujukan moral. Untuk selanjutnya diharapkan dapat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berpihak dan mengutamakan kepentingan murid. Dengan nilai-nilai yang dimiliki seorang pendidik, nilai inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif seorang pendidik dapat menuntun muridnya untuk dapat mengenali potensi yang dimiliki dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah dilema etika yang dihadapi, dengan nilai-nilai seorang pendidik tersebut, yang merupakan landasan pemikiran yang dimiliki akan cenderung pada prinsip melakukan demi kebaikan banyak orang, menjunjung tinggi prinsip/nilai dalam diri dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada kita. Maka seorang pendidik diharapkan dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian sebuah keputusan terkait permasalahan dilema etika yang dihadapi.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru harus mampu melihat setiap permasalahan yang dihadapi, apakah permasalahan tersebut merupakan dilema etika ataukah bujukan moral. Dengan nilai-nilai yang dimiliki seorang pendidik, diantaranya nilai inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif. seorang guru dapat menuntun muridnya agar dapat mengenali potensi yang dimilikinya. Sehingga dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah yang dihadapi dengan nilai-nilai dari seorang pendidik tersebut, yang merupakan landasan pemikiran yang dimiliki akan selalu pada prinsip " melakukan demi kebaikan orang banyak, menjunjung tinggi prinsip/nilai dalam diri dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita. Maka seorang pendidik akan dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian sebuah keputusan terkait permasalahan yang dihadapi.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran bisa dipastikan akan sering dihadapkan pada situasi dimana guru diharuskan mengambil sebuah keputusan, akan tetapi terkadang pengambilan keputusan yang dilakukan terutama pada situasi dilema etika guru masih mengalami kesulitan. Misalnya lingkungan kurang mendukung, bertentangan dengan peraturan, atasan yang tidak memberikan kepercayaan karena merasa lebih berwenang, dan meyakinkan orang lain bahwa keputusan yang diambil sudah tepat, perbedaan cara pandang serta adanya opsi benar lawan benar atau sama-sama benar. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Hal pertama yang harus guru lakukan adalah mengenali terlebih dahulu permasalahan yang dihadapi. Apakah masalah tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika masalah tersebut merupakan dilema etika, maka guru harus mampu menganalisis masalah kemudian melakukan pengambilan keputusan berdasarkan pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga hasil keputusan yang diambil dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman untuk peserta didik. Intinya pengambilan keputusan yang tepat terkait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dilakukan dengan baik jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses identifikasi masalah yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan yang diambil diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat. Dengan demikian keputusan yang diambil akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman bagi semua.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan yang sering ada dan saya alami di lingkungan dalam pengambilan keputusan yang mengandung dilema etika adalah kesetiakawanan sosial yang masih kental dalam budaya di lingkungan menimbulkan rasa kasihan lebih dominan yang menyebabkan proses pengambilan keputusan terburu-buru, sehingga subyektifitas masih tinggi dalam prakteknya. 

8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Sebagai guru, saya sangat terbantu dengan paparan materi dari modul 3.1 berkaitan dengan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, jika sebelumnya guru sering menemukan dilema etika dalam proses pembelajaran di sekolah namun guru belum bisa menyelesaikan permasalahan dihadapi dengan pengambilan keputusan yang tepat, setelah semua materi modul 3.1 ini dapat dipelajari secara baik, selanjutnya ke depan setiap menghadapi masalah yang berkaitan dengan dilema etika dapat mengambil keputusan dengan memperhatikan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, dengan harapan keputusan yang diambil berdampak baik bagi peserta didik karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid, sehingga keselamatan dan kebahagiaan yang didapatkan oleh murid maka kita telah mampu memerdekakan mereka dalam belajar. Guru sudah seharusnya memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat siswa merasa nyaman, dan tenang. Semuanya dilakukan untuk memerdekan siswa dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka. Karena pengambilan keputusan yang tepat akan mempengaruhi pengajaran seorang guru untuk mewujudkan Pendidikan yang memerdekakan murid.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, sebagai guru harus benar-benar memperhatikan kebutuhan belajar murid. Dengan penerapan coaching yang tepat akan menuntun murid untuk menggali potensi yang ada dalam dirinya, dan guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberikan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat, atau kebutuhan belajarnya. Menuntun peserta didik dalam mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga keputusan guru dapat berpengaruh terhadap keberhasilan dari peserta didik di masa depan. Guru yang mampu mengambil keputusan dengan tepat akan memberikan dampak akhir yang baik dalam proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan well being peserta didik bagi masa depannya yang lebih baik.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir dari pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya, adalah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam usaha memerdekakan murid dalam belajar. Sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntun segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Dalam proses Pendidikan, seorang guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Agar dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan.
Keterampilan coaching dapat membantu siswa dalam mencari solusi atas masalahnya dengan kemampuan sendiri, tidak sebatas pada murid keterampilan cocaching dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran. Selain itu diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan dan proses pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfullness), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.
Dalam Proses pengambilan keputusan pasti membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri guru untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang diambil, karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya dapat mengakomodir seluruh keinginan pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan keputusan selalu berpihak pada kepentingan dan kebutuhan peserta didik.


Share:

Refleksi Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Refleksi terbimbing Pengambilan keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
Sebagai seorang guru tentunya kita dalam menjalankan tugas kita sehari-hari di kelas, di sekolah, akan sering dihadapkan pada berbagai masalah yang terjadi di kelas. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dituntut untuk dapat selalu bertindak dan mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi setiap permasalahan yang ada. Apalagi sebagai Guru Penggerak kita mengenal dilema etika dan bujukan moral, yang tidak bisa kita hindari setiap saat mungkin kita mengalaminya.

Dalam tulisan kali ini saya akan sampaikan contoh referensi sebagai Guru Penggerak dalam menyelesaikan dilema etika atau bujukan moral yang saya hadapi di sekolah.  Tulisan ini sekaligus adalah penyelesaian Tugas Modul 3.1.a.6.Refleksi Terbimbing-Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sesuai petunjuk modul yang harus diselesaikan ketika mengikuti pendidikan Calon Guru Penggerak.

Tujuan Pembelajaran Khusus :  CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Pertanyaan pemantik untuk sesi pembelajaran ini :

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Education is the art of making man ethical (Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis - Georg Wilhelm Friedrich Hegel)

Panduan Refleksi Terbimbing

Pada hari dan waktu yang ditentukan, Anda akan melakukan refleksi dari perjalanan belajar Anda di modul ini. Refleksi dilakukan secara mandiri pada LMS. Fasilitator akan memberikan tanggapan terhadap refleksi masing-masing. Refleksi tersebut meliputi pengetahuan baru, keterampilan baru, wawasan baru, kesadaran baru yang Anda dapatkan dari proses pembelajaran di kelas, latihan membuat keputusan, kegiatan berbagi/sharing, diskusi kelompok, dan lain-lain.

Pertanyaan-pertanyaan berikut merupakan panduan yang digunakan dalam sesi refleksi. 

Dari delapan pertanyaan yang ada, pilihlah minimal empat pertanyaan sebagai bahan refleksi Anda.


Nah di sinilah seluruh penyelesaian masalah yang ditugaskan pada seluruh Calon Guru Penggerak dapat saya rangkum dalam bentuk jawaban singkat setiap Tugas pada Modul yang ada. 

1. Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Jawab : Pemahaman saya mengenai dilema etika adalah situasi yang terjadi dalam kehidupan kita ketika seseorang dihadapkan pada dua atau lebih pilihan dimana pilihan tersebut secara moral benar semua, akan tetapi bertentangan satu dengan yang lain. Sedangkan bujukan moral adalah situasi yang kita hadapi terjadi yang mengharuskan membuat suatu keputusan antara benar dan salah.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebaikan yang mendasari terhadap situasi itu terjadi  yang saling bertentangan, seperti misalnya cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup atau paradigma dalam pengambilan keputusan. 

Secara umum paradigma terjadi pada situasi dilema etika ada 4 yaitu : 

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Prinsip pengambilan keputusan ada tiga, yaitu

1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) ditentukan dengan konsekuensi atau hasil dari suatu tindakan.

2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) menentukan keputusan berdasarkan peraturan yang telah dibuat sebelumnya

3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) prinsipnya “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda." Dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan bersimpati.

Sembilan langkah pengujian dan pengambilan keputusan

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4. Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.

5. Pengujian paradigma benar lawan benar

6. Melakukan prinsip resolusi

7. Investigasi opsi trilema

8. Buat keputusan

9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

2. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses Anda mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang Anda hadapi selama ini.  Anda dapat juga menulis tentang sebuah situasi dilema etika yang dihadapi oleh orang lain serta keputusan yang diambil. Berilah ulasan berdasarkan 3 materi yang telah Anda pelajari di modul ini.

Jawab : pengalaman saya mengatasi dilema etika dengan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan yaitu menghadapi dilema etika ketika harus memutuskan mengambil tindakan atas pengaduan ibu Haliman guru kelas 5 menghadapi salah satu siswa yang dianggap tidak menghormati beliau sebagai gurunya. Bu Halimah mengajukan 2 alternatif pilihan yang harus dilakukan, yaitu beliau minta untuk dipindah mengajar di selain kelas 5, atau jika beliau tetap harus di kelas 5 bisa dengan mengeluarkan anak yang dianggap bermasalah tersebut dari kelas 5 (mutasi atau dikeluarkan). Menurut beliau dengan bersikap tegas begitu untuk memberi pelajaran pada anak agar bisa bersikap sopan pada gurunya. Yang sebelumnya mengirim pesan whatsap yang menurut beliau dengan kata-kata yang sangat tidak sopan.


Analisis terhadap masalah tersebut adalah sebagai berikut : 

a. Paradigma yang ada pada peristiwa tersebut adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). 

Dilema etika yang saya rasakan sebagai kepala sekolah berupa 2 pilihan keputusan yang menjadi persyaratan dari pengaduan bu Halimah, yaitu guru yang minta dipindah ke kelas lain atau siswa yang dikeluarkan dari kelas 5

b. Prinsip yang saya gunakan adalah berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking). 

Karena saya menganggap menentukan keputusan berdasarkan rasa kasihan pada anak jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan yang benar, karena latar belakang anak berada jauh dari keluarganya. Ayah kerja di luar negeri, ibu telah berpisah/bercerai dengan ayahnya. Jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan dan pengawasan yang benar kasihan pada anak tersebut.

c. 9 langkah pengambilan keputusan :

1. Nilai yang saling bertentangan adalah 

Jika mempertahankan bu Haliman tetap mengajar di kelas 5 dengan mengeluarkan anak dari kelas 5 adalah melanggar kode etik profesi tupoksi guru pada sekolah inklusi. Sebaliknya jika mempertahankan anak tetap di kelas 5 dengan memindah tugaskan bu Halimah pada kelas lain akan dipertanyakan atasan merubah penugasan guru dalam waktu yang tinggal 2 bulan menghadapi kenaikan kelas.

2. Yang terlibat dalam peristiwa ini adalah bu Halimah sebagai guru yang membutuhkan suasana nyaman di kelas, siswa tidak yang menghormatinya, patuh padanya dan kepala sekolah yang dituntut menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan pilihan yang bertentangan.

3. Fakta yang relevan : Latar belakang siswa yang jauh dari orang tua, keluarga yang berpisah/bercerai, sikap siswa yang “tidak menghormati guru”, data komunikasi siswa dengan guru yang mengandung unsur ketidak sopanan, guru yang mengajukan pilihan persyaratan kepada kepala sekolah dengan emosional, guru yang secara tegas menolak berinteraksi lagi dengan siswa

4. Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.

Uji Legal : tidak ada tindakan melanggar hukum sebelum ada keputusan akan pilihan alternatif tindakan yang diajukan bu Halimah. Akan tetapi jika dipilih salah satu dari alternatif tersebut akan ada dugaan pelanggaran UU ITE atau perlindungan anak

Uji regulasi :  Jika Kepala Sekolah mengeluarkan siswa yang dimaksud bu Halimah maka ada pelanggaran kode etik profesi.

Uji intuisi : perasaan saya cenderung lebih baik untuk siswa jika siswa tetap diharapkan bisa masuk sekolah walaupun harus berada pada kelompok bermain selain dengan anak kelas 5, yaitu dengan anak yang biasa keseharian bermain dengan anak adalah siswa kelas 6. Di sisi lain jika memindahkan ibu Halimah pada kelas lain dengan waktu yang tinggal 2 bulan lagi kenaikan kelas adalah tidak mungkin. Karena akan menimbulkan tanda tanya besar pada atasan langsung yaitu Pengawas atau Koordinator PAUD Dikdas dan LS setempat. 

Uji halaman depan koran : Ya KS akan merasa tidak nyaman jika dipublikasikan, karena dengan keputusan tersebut KS sudah bertindak yang melanggar kode etik guru bahwa seorang guru harus menerima dalam kondiri apapun peserta didik yang dalam tanggung jawabnya untuk mendidik, menuntun tumbuh dan berkembang anak sesuai bakat dan minatnya tanpa membedakan dalam segi apapun selama peserta didik tidak melakukan pelanggaran pidana yang tidak bisa ditoleransi (sudah ditetapkan keputusan hakim di meja hijau berkekuatan hukum tetap)

Uji panutan/idola : Panutan saya (misalnya : pengawas sekolah) pasti akan melakukan hal yang sama dengan saya lakukan.

5. Paradigma yang ada pada kasus adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

6. Melakukan prinsip resolusi. Prinsip yang Kepala Sekolah gunakan adalah berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking). 

Karena KS berpikir menentukan keputusan berdasarkan rasa kasihan pada anak jika berada di luar sekolah dengan tanpa pendidikan yang benar, karena latar belakang anak berada jauh dari keluarganya. Ayah kerja di luar negeri, ibu telah berpisah/bercerai dengan ayahnya.

7. Investigasi opsi trilema. Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi) : Ya, bu Halimah mengajukan 2 syarat kepada KS untuk pilihan 1 Bu Halimah akan tetap mengajar di kelas 5 jika 1 siswa yang disebutkan bu Halimah dikeluarkan dari kelas 5 (bisa dalam bentuk dikeluarkan atau mutasi ke sekolah lain), pilihan ke 2 bu Halimah meminta dipindah tugaskan di kelas lain selain kelas 5 jika 1 anak yang dimaksud bu Halimah tetap dipertahankan berada di kelas 5.

Penyelesaian kreatif bersifat sementara sambil mencari peluang untuk mengembalikan siswa pada hubungan yang baik pada gurunya adalah dengan mencari kemungkinan anak bisa masuk kembali ke sekolah, bermain dengan teman yang biasa akrab (tindakan sementara anak dibiarkan bermain dan belajar dengan siswa kelas 6, karena yang akrab bermain ada beberapa anak kelas 6)

8. Keputusan yang diambil adalah mengkondisikan anak untuk bisa masuk sekolah kembali, sementara waktu anak dimasukkan pada kelompok teman bermainnya yaitu ana-anak kelas 6, selajutnya pelan-pelan dibimbing untuk bisa masuk kembali di kelasnya yaitu kelas 5. Selanjutnya menyampaikan kebenaran pada bu Halimah secara baik-baik, bahwa dengan mengambil sikap untuk lepas tangan dari mendidik anak yang dianggap bermasalah dengan cara yang tidak “profesional” adalah tidak benar/tidak baik bagi seorang guru.

9. Refleksi terhadap keputusan yang diambil : Saya sangat yakin dengan keputusan saya untuk tidak mengeluarkan siswa dari sekolah, karena mendidik anak dengan berbagai macam latar belakang dan karakteristik merupakan kewajiban utama seorang guru


3. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Jawab : sebelumnya pernah melakukan pengambilan keputusan yang menurut saya merupakan peristiwa dilema etika, yaitu tentang siatuasi yang mengharuskan saya memutuskan diantara 2 pilihan yang saling bertentangan.

Ada seorang siswa yang meminta ijin untuk tidak bisa mengikuti PTS karena ada musibah kakeknya meninggal dunia. Saya sebagai guru harus memutuskan diantara 2 pilihan mengijinkan atau tetap harus mengikuti PTS. Dalam peristiwa ini meengandung paradigma raasa keadilan vs rasa kasihan (justice vs mercy), dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking). 

Bedanya dengan modul ini adalah pada 9 langkah pengujian pengambilan keputusan pada langkah ke 4 Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola. Hanya mempertimbangkan uji intuisi, sedangkan yang lainnya belum mengetahui.

4. Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan  sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Jawab : dampak dari mempelajari modul ini bagi diri saya sebagai guru adalah sangat bagus. Pelajaran baru bagi saya untuk dapat mengetahui berbagai macam jenis dilema etika yang mungkin akan saya hadapi di kelas, serta dapat mempelajari dan menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan yang profesional. Sehingga setiap keputusan saya nantinya diharapkan benar dan berdampak baik kepada murid-murid saya selanjutnya.

5. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

Jawab : modul ini sangat penting diketahui dan dikuasai oleh seorang guru. agar dalam bertindak sehari-hari yang berkaitan dengan dilema etika, dapat mengidentifikasi, memahami prinsip pengambilan keputusan dan menerapkan langkah-langkah pengujian keputusan yang profesional. Sehingga pembelajaran betul-betul berpihak pada siswa.

6. Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?

Jawab : mensosialisasikan pada rekan, berdiskusi dan berkolaborasi mengenai identifikasi setiap masalah yang dihadapi di sekolah, serta bersama-sama menerapkan langkah-langkah yang sesuai. Selanjutnya melakukan refleksi dan evalusai terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan untuk selanjutnya dilakukan tindak lanjut pada peristiwa dilema etika yang mungkin ada selanjutnya.

7. Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?

Jawab : di daerah yang religius, akan leibih mudah setiap permasalahan dilema etika yang bersinggungan dengan siswa atau wali murid lebih mudah terselesaikan dengan basic agama (nasehat ustad, ulama)

8. Adakah nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh orangtua anda atau bahkan kakek nenek buyut Anda yang menjadi karakter khas suku atau masyarakat dimana Anda tinggal? Bagaimana Anda sebagai seorang guru akan menggunakannya untuk membantu Anda dalam pengambilan keputusan?

Jawab : ada yaitu dari sejak kecil orang tua selalu menanamkan untuk selalu bisa menyesuaikan diri di lingkungan di manapun berada. Selalu bersikap sopan pada siapapun, menghargai semua orang, jangan mudah menilai orang seperti apa yang dilihat saja tetapi dalami dulu dengan lebih dekat dengannya. Selalu banyak bersyukur, karena dengan kita banyak bersyukur kita mudah untuk bahagia, dimanapun berada.


Share:

Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi – Coaching.

Terima kasih, pada tulisan kali ini saya akan menjelaskan tentang Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi – Coaching. Tugas ini adalah tugas yang harus diselesaikan pada Program Pendidikan dan Pelatihan Calon Guru Penggerak Angkatan ke 4 Kab. Boyolali.

Yang harus dipahami pada modul tersebut adalah bahwa proses coaching memiliki peran untuk menggali potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa melalui pertanyaan yang reflektif agar tercapai semua tujuan siswa untuk memecahkan segala permasalahan yang dihadapi.

Menurut modul 1 guru berperan untuk membimbing kodrat alam  yang dimiliki siswa agar dapat mengembangkan potensi dan kemampuan sesuai dengan bakat dan minatnya.

Peserta didik dan komunitas belajar harus memiliki kemampuan dalam mengelola emosi, memiliki sifat empati yang tinggi, mampu mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab dengan penuh kesadaran (mindfulness), yang berpihak pada siswa agar dapat mencapai kebahagiaan tinggi-tingginya sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara .

Sementara  kemerdekaan dalam pendidikan  menurut  Ki Hajar Dewantara  bermakna: Tidak hidup terperintah, artinya seseorang bisa menentukan arah tujuan sendiri atau dapat memerintah sendiri. Berdiri tegak karena kekuatan sendiri, kemandirian  dalam  mencapai tujuan dengan usaha sendiri. (Sumber : sman1pringgarata)

Dalam proses pembinaan guru dan siswa berkolaborasi positif, komunikasi yang asertif, dengan proses pembinaan yang mengarahkan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif untuk menggali potensi dan kemampuan siswa untuk kemudian menyelesaikan permasalahannya sendiri, dan mampu melaksanakan komitmennya dengan penuh rasa tanggung jawab.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam proses coaching :

1.   Coach akan memberikan tuntunan kepada coachee

2.   Coach akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif dan membangun

Melalui pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan coach (guru) tersebut selanjutnya coachee (dalam hal ini siswa) akan berpikir kritis dan berpikir lebih dalam untuk kemudian berusaha untuk menemukan potensinya, dan akhirnya coachee akan menemukan pemecahan sendiri terhadap masalah yang dihadapi.

Inilah pentingnya guru untuk menguasai keterampilan untuk meningkatkan pembelajarannya.

Mengapa seorang guru harus memiliki keterampilan melatih dengan baik?

Karena dengan keterampilan coaching yang baik, melalui proses coaching yang tepat seorang guru akan mampu menggali potensi dan kemampuan siswa dengan baik, mampu memaksimalkan proses berfikir dan kreatif pada diri siswa, serta mampu menanamkan cara pengambilan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab.

Keterampilan yang harus dikuasai agar dapat menjalankan  pelatihan  dengan baik antara lain :

1.    Membangun dasar bagi proses coaching

2.    Membangun hubungan baik dengan semua komponen sekolah 

3.    Ketrampilan berbicara, komunikasi yang baik terhadap semua warga sekolah

4.    Memfasilitasi pembelajaran peserta didik

Penerapan coaching menggunakan tehnik TIRTA yaitu meliputi :

1.  Tujuan utama yaitu menyampaikan tujuan dari coaching

2.  Identifikasi dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif serta umpan balik yang mengarah pada penggalian potensi coachee

3.  Rencana aksi dengan cara menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dan juga umpan balik mengenai rencana aksi yang akan dijalankan coachee dalam usaha menyelesaikan masalahnya berdasarkan potensi yang dimiliki

4.  Tanggung jawab (komitmen coachee dalam menjalankan rencana aksi yang telah direncanakan untuk melaksanakan pemecahan masalah yang dihadapi)

Demikianlah penjelasan saya tentang Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi–Coaching

Berikut Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi-Coaching dalam bentuk mindmap : 

Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi - Coaching

Demikian penjelasan saya tentang Tugas Modul 2.3.a.9. Koneksi Antar Materi–Coaching

Praktek Pembelajaran bisa dilihat melalui link : 




Share:

Jurnal Refleksi Minggu ke-4 Calon Guru Penggerak

Jurnal Refleksi Minggu ke-4 Calon Guru Penggerak ini dibuat Sesuai model 5R (Bain, dkk, 2002, dalam Ryan & Ryan, 2013)

 

Jurnal Refleksi Minggu ke-4 Calon Guru Penggerak

1 Reporting (Pelaporan kegiatan)

Pembelajaran dalam diklat Calon Guru Penggerak minggu ke-4 adalah tentang nilai dan peran guru penggerak sesuai alur LMS, yaitu melalui kegiatan :

-      Eksplorasi konsep mandiri sesuai alur LMS

-      Ruang kolaborasi

-      Diskusi virtual dengan meeting zoom

-      Presentasi virtual dan

-      Refleksi terbimbing.

 

2. Responding (Menanggapi)

Kegiatan Diklat Calon Guru Penggerak memasuki minggu ke 4. Kegiatan dimulai dengan menggali nilai diri dan peran sebagai guru. Secara sadar ataupun tidak telah menjalankan nilai dan peran seorang guru penggerak walaupun tidak secara menyeluruh. Menggali dan mengenali diri sendiri dengan cara menggambar diagram trafesium usia, dan menuliskan secara menyeluruh peristiwa atau kejadian yang dilakukan dan dialami sejak lahir sampai dengan posisi usia sekarang. Mengingat dan mencatat kembali peristiwa yang terkesan dan tersimpan dalam diri yang masih diingat sampai sekarang. Baik sisi negatif maupun positif peristiwa yang dialami. Dengan menuliskan kejadian yang terkesan yang tetap bisa diingat sampai sekarang, dapat diambil hikmah bahwa sebagai guru dapat mengambil pelajaran bahwa seluruh tindakan kita sebagai guru akan tertanam dalam benak siswa selamanya.

Dengan menuliskan secara rinci kejadian yang dialami di usia sekolah akan dapat menjadi cara efektif menuntun diri sendiri untuk mengenali diri akan semua potensi yang ada, ataupun kelemahan diri, yang selanjutnya dapat dijadikan dasar pengembangan diri berbenah menjadi guru yang profesional di masa yang akan datang. Selanjutnya bisa menjadi pribadi yang selalu berusaha dan senantiasa yakin bisa menjadi guru terbaik bagi murid di sekolah masing-masing.

Kegiatan diakhiri dengan membuat refleksi diri dan aktualisasi diri dalam bentuk pembuatan poster digital. Dengan aplikasi ini ketrampilan diri bisa terus dikembangkan ditunjang dengan kemajuan teknologi pembuatan poster menjadi mudah dan cepat dengan aplikasi android “Poster maker”. Poster dibuat dalam bentuk Jpeg untuk selanjutnya diunggah di LMS semua CGP.

 

3. Relating (Keterkaitan dengan kegiatan)

Sesuai alur LMS Pada modul 1.2 ini saya mendapatkan pemahaman bahwa seorang guru penggerak untuk bisa menjalankan perannya dengan maksimal, ia harus menjiwai nilai - nilai; mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak kepada murid. Dengan nilai-nilai itu, sebagai guru bisa mewujudkan kepemimpinan murid, menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach yang baik untuk guru lain, dan berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait yang menunjang kemajuan pembelajaran. Jika guru telah menjiwai nilai dan peran guru penggerak tersebut secara utuh makan mewujudkan profil pelajar Pancasila akan tercapai dengan baik. Peserta didik akan tertuntun menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

 

4. Reasoning (Penalaran)

Peran sebagai guru penggerak yang masih belum saya lakukan adalah menggerakkan komunitas praktisi, baik di sekolah maupun di forum KKG, karena sebagai guru saya masih banyak kekurangan, atau secara menyeluruh nilai dan peran guru penggerak tersebut belum bisa menjiwai secara paripurna.

 

Oleh karena itu, saya mengikuti Program Guru Penggerak, dengan tujuan agar mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang bagus mengenai peran guru sesungguhnya. Dengan kolaborasi bersama rekan CGP saya berharap mendapatkan beragam inspirasi dan praktik baik yang bisa saya terapkan dalam pembelajaran sehari-hari di masa yang akan datang lebih baik dan berpihak pada murid.

 

5. Rekonstruksi (Refleksi kegiatan)

Refleksi mandiri adalah merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan atau kekurangan yang ada pada diri sendiri ataupun kegiatan yang telah dilakukan, program yang telah dijalankan. Melalui refleksi, saya dapat memperbaiki kekurangan, meningkatkan yang sudah baik. Refleksi dapat kita jadikan pedoman untuk membuat dan menyusun rencana tindak lanjut yang lebih bagus dan komprehensip.


Melalui diklat Guru Penggerak ini, saya berusaha meningkatkan diri, memupuk kemandirian, serta rasa percaya diri untuk menggerakkan komunitas dalam berkolaborasi dengan baik, agar mampu menjadi guru yang inovatif untuk kemajuan belajar menuju perwujudan merdeka belajar.


Share:

Jurnal Refleksi Minggu-3 Pendidikan Calon Guru Penggerak

Jurnal Refleksi Minggu-3 Pendidikan Calon Guru Penggerak
Setelah 2 minggu sebelumnya fokus mempelajari filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara, barulah minggu ke 3 CGP mulai mempelajari tentang nilai dan peran guru penggerak melalui LMS 1.2. Dengan tugas awal menggambar diagram trafesium usia kami para peserta CGP mulai dengan mengenali diri sendiri. Mengingat kembali peristiwa masa lalu sejak usia sekolah sampai dengan posisi usia sekarang. Dengan menuliskan kejadian-kejadian istimewa yang terkesan teringat sampai sekang baik kejadian positif maupun negatif. Kejadian terkesan tersebut bisa diambil pelajaran untuk mengurai tentang nila diri sebagai Calon Guru Penggerak untuk kemudian dikembangkan menjadi nilai ke arah yang positif dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak.

Dilihat dari struktur materi modul mungkin CGP diarahkan untuk dapat memahami diri pribadi melalui pengalaman belajar yang berkaitan dengan konsep diri dalam usaha meningkatkan pemahaman terkait nilai dan peran guru penggerak baik yang telah ada pada diri maupun yang diharapkan dapat ditingkatkan di masa yang akan datang. Setelah mengikuti alur pembelajaran modul LMS barulah aku tahu melalui diskusi dengan menyampaikan pendapat atau menanggapi pendapat CGP lain banyak hal yang bisa kami ambil pengetahuan dan pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran dalan menerapkan nilai dan peran guru penggerak di masa mendatang.

Banyak hal bisa saya pelajari dari materi dalam modul di LMS, ditambah pengetahuan dan pengalaman dari CGP lain melalui ruang diskusi. Dengan kolaborasi dalam kelompok diskusi, pada akhirnya seluruh peserta diharapkan dapat mengambil pelajaran untuk selanjutnya dapat memudahkan dalam mengimplementasikan nilai dan perannya sebagai guru penggerak. Ataupun pula dapat mengembangkan dalam aplikasi nyata di sekolah dengan teman sejawat.

Demikian jurnal yang bisa kami susun di minggu ke 3 ini.

Terima kasih….

 

Share:

Recent Posts