• Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

  • Teacher's Task

    Teacher's Tasks is a personal blog that discusses the work of learning innovations for teachers in carrying out their duties professionally at school.

  • Tugas Guru

    Artikel Pendidikan Pengembangan Kapabilitas Guru di Era Digital.

  • Tugas Guru

    Tugas Guru adalah blog personal yang membahas tentang karya inovasi pembelajaran bagi guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional di sekolah.

Jurnal Refleksi Minggu-2 Pelatihan Calon Guru Penggerak

Jurnal Refleksi Minggu ke-2

Jurnal Refleksi Minggu-2 Pelatihan Calon Guru Penggerak
Kegiatan yang harus saya ikuti pada minggu kedua diklat Calon Guru Penggerak masih tetap melanjutkan mendalami materi modul 1.1 yaitu Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pada awalnya kegiatan sepertinya hanya mengulang lagi tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Tetapi setelah memasuki Ruang Kolaborasi ternyata masih banyak pemikiran-pemikiran besar Ki Hajar Dewantara yang perlu saya pelajari lebih mendalam. Dengan mengikuti secara langsung zoom meeting dengan sesepuh di Sekolah Taman Siswa Yogyakarta dan presentasi dari guru sekolah di Yogyakarta yang telah menerapkan dengan baik pendidikan sesuai dengan kerangka pembelajaran pemikiran Ki Hajar Dewantara, barulah saya tahu dan menyadari bahwa betul saya harus lebih mendalami lagi kerangka pembelajaran dan model pembelajaran sebelum menerapkannya pula di sekolah saya, di kelas saya nantinya.

Selanjutnya untuk memperdalam materi saya melanjutkan dengan menyelesaikan kegiatan di LMS yaitu kegiatan refleksi terbimbing presentasi kerangka pembelajaran yang sesuai dengan alur merdeka belajar Ki Hajar Dewantara. Pembuatan video refleksi filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam kegiatan demonstrasi kontekstual sebagai perwujudan pemahaman saya terhadap seluruh materi. Sayangnya terkendala laptop mengalami eror sehingga harus mundur waktu penyelesaian tugas saya. Walaupun akhirnya bisa menyelesaikan tugas dengan sedikit masalah bahwa video yang kami buat tidak bisa sempurna karena tidak bisa membuat video dengan audio narasi yang baik. Sehingga dengan terpaksa narasi video kami sertakan dalam bentuk artikel di blog dan halaman LMS. Mudah-mudahan ke depan bisa mengatasi kendala ini sehingga tidak ada masalah lagi.

Saya harus kembali menumbuhkan semangat untuk segera mengejar ketertinggalan saya pada pendalaman materi selanjutnya. Hal ini harus saya lakukan karena saya ternyata tidak bisa menyelesaikan seluruh kegiatan dengan tepat waktu. Hingga akhirnya pada kegiatan sesi sinkron saya bisa bersemangat kembali karena ada pendalaman materi dari pemaparan instruktur. Pemaparan instruktur mencerahkan saya karena saya merasa belum mampu secara baik menerapkan pembelajaran sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara di kelas saya.

Pembelajaran melalui LMS mengesankan bagi saya. Dan berdampak positif bagi diri saya pribadi karena menjadi tahu merdeka belajar dalam praktek langsung yang saya sadari sangat berpengaruh dapat dengan baik melatih kemandirian, kreatif dan melatih berpikir kritis untuk selanjutnya dapat dengan lancar menyelesaikan tugas dengan cara kolaborasi dan tukar pengalaman dengan CGP lain serta inspirasi dari instruktur dan motivasi dari fasilitator.

Filosofi pendidikan pemikiran besar Ki Hajar Dewantara ke depan sangat cocok untuk memperbaiki pola pembelajaran yang kurang tepat saat ini. Dimana masih banyak pembelajaran di sekolah dengan konsep tabularasa yang ternyata salah. Siswa dianggap sebagai kertas kosong, sehingga guru dianggap sebagai narasumber utama dalam pembelajaran adalah salah. Menurut Ki Hajar Dewantara pembelajaran adalah menuntun bakat dalam diri anak untuk difasilitasi menuju tumbuh dan berkembang secara maksimal. Pemikiran ini harus saya pelajari lebih mendalam untuk kemudian menerapkannya di kelas.

Tantangan bagi saya pada minggu kedua ini sangat berat menurut saya, karena terkendala peralatan laptop yang eror, kendala cuaca yang memang telah memasuki musim hujan sehingga tidak bisa setiap waktu bisa berinteraksi dengan internet. Selain itu harus juga menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari di sekolah yang tidak sedikit ditambah kegiatan menyelesaikan tugas-tugas diklat di LMS. Tentunya dengan usaha yang tidak mudah,  manajemen waktu dan menyusun skala prioritas dengan baik, semangat dan kesabaran akhirnya sedikit demi sedikit dapat kami selesaikan dengan baik.

Kesimpulan dari jurnal minggu kedua saya ini adalah sebagai Calon Guru Penggerak merasa bersyukur, pembelajaran melalui LMS dan virtual dengan instruktur dan narasumber yang berkompeten memberikan pengalaman yang baik bagi saya, pengalaman yang bermakna yang tentunya memberi pengetahuan yang nyata untuk kemudian bisa saya terapkan di sekolah dan kelas saya. Filosofi pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat tepat untuk mengembalikan pada proses pembelajaran yang sebenarnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Dengan mengacu pada kecakapan abad 21 dengan tetap berpedoman pada Pancasila adalah langkah nyata dan tepat dalam mewujudkan profil pelajar pancasila dengan merdeka belajar.

Terima kasih.

Share:

Jurnal Refleksi Minggu ke-1 Pelatihan Calon Guru Penggerak

Jurnal Refleksi Minggu-1

Sesuai model 1 4F : (Facts, Feelings, Findings, Future)


Jurnal Refleksi Minggu ke-1 Pelatihan Calon Guru Penggerak

Sepekan sudah mengikuti diklat daring CGP. Pada lokakarya perdana jujur saya rasakan saat itu sebagai peserta belum menemukan apa sebenarnya pelajaran praktis yang sangat aku harapkan dapat saya peroleh untuk modal awal pengetahuan dasar yang mungkin selama 9 bulan ke depan bisa saya pelajari lebih mendalam. Utamanya pengetahuan dasar yang dapat secara praktis bisa saya jalankan di kelas ketika melakukan pembelajaran bersama murid-murid saya nanti. Bahkan fokus pemikiran saya masih berkutat pada anggapan saya yang mungkin keliru, bahwa sebagai guru penggerak ke depan itu akan lebih banyak berinteraksi dengan sesama guru untuk melakukan diskusi tukar pendapat yang notabene saya sebagai guru penggerak harus dapat menjadi narasumber yang dapat memberi solusi pada guru-guru yang menjadi komunitas saya nantinya. Akan tetapi ternyata beberapa hari berjalan ternyata berbeda seperti yang telah dipaparkan begitu jelas oleh instruktur bu Siti Lutfiah ternyata fokus utama adalah siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa.

Baru aku sadari bahwa 9 bulan ke depan saya harus banyak belajar memperdalam ilmu pengetahuan yang tersusun begitu banyak di LMS yang harus saya pelajari berlatih dan terapkan. Disinilah kesadaran diri harus aku perbaiki, untuk selanjutnya belajar lebih fokus, dan harus selalu minta bimbingan dari fasilitator agar tidak salah arah dalam mempelajari materi utama pelatihan ini. 

Dalam mempelajari modul di LMS ternyata bukanlah hal mudah untuk dilakukan, walaupun telah banyak melakukan kegiatan sejenis di LMS sim-pkb. Tapi LMS CGP dengan alur modulnya ternyata butuh pemahaman ekstra. Karena setiap alur dengan model pembelajaran yang berbeda

Dari beberapa kali meeting zoom dengan narasumber, yang selanjutnya masuk pada ruang kolaborasi barulah aku tahu bahwa bagaimana saya harus mengikuti alur-demi alur LMS untuk mempelajari modul. Dengan beberapa kali praktek langsung melaui link yang dibagikan langsung pada chat zoom untuk diikuti dengan model-model aplikasi yang bisa dipakai untuk diskusi, ternyata teknologi memudahkan guru untuk selalu mengembangkan diri. Disinilah aku sadari harus selalu banyak bersyukur bisa diberi kesempatan belajar dengan narasumber di CGP ini untuk belajar lebih baik 9 bulan ke depan. Yang ternyata jika saya terapkan di kelas dengan murid-murid saya tentunya sangat menarik. Ini baru awal, saya berharap selanjutnya saya bisa belajar lebih bagus untuk model-model pembelajaran yang saya percaya saya bisa mengikuti perkembangan teknologi untuk pembelajaran lebih baik nantinya. Pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi ternyata sangat menarik, dan ini yang membuat saya semangat karena di sekolah saya prasana untuk pembelajaran barbasis IT sudah ada dan sudah lama diterapkan oleh teman-teman guru di sekolah. Hanya model-model pembelajaran yang terbaru yang lebih menarik mudah-mudahan bisa saya dapatkan dengan berada di sini di tengah para guru-guru hebat peserta CGP dengan bimbingan dari narasumber profesional. Karena saya percaya narasumber CGP beliau adalah Guru dan atau praktisi pendidikan pilihan di Indonesia. Tidak semua guru atau praktisi pendidikan bisa berada pada posisi itu dengan mudah, akan tetapi melalui proses yang sangat panjang.


Share:

Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Sahabat guru semuanya, perkenankan saya menyampaikan sedikit Refleksi pemikiran besar Ki Hajar Dewantara menurut persepsi saya yang mungkin berbeda dengan pandangan dari sahabat guru semua. Walaupun hanya sedikit mudah-mudahan ada manfaatnya bagi sahabat guru semua.

Mungkin anak jaman sekarang merasa nggak perlu tau siapa Ki Hajar Dewantara, atau mungkin sebagian besar anak muda sekarang nggak kenal siapa itu Ki Hajar Dewantara. Mungkin ada juga yang berfikir apa gunanya ya mempelajari hal-hal kayak gitu? Apa manfaatnya membaca-baca sejarah tokoh tempo dulu? Berguna nggak sih untuk kehidupan jaman sekarang? Jaman now gitu lho… jaman teknologi…? Mungkin ada yang berfikir begitu?

Terus harusnya menurut kamu apa sih yang mesti dipelajari di sekolah? (Jika anda murid) lalu jika anda guru harusnya apa sih yang mesti diajarkan di sekolah jaman now?

Ok mungkin ada baiknya anda lihat saja sebentar tulisan ini, siapa tau bisa memberikan sedikit gambaran pentingnya mempelajari pemikiran besar Ki Hajar Dewantara. Yang pasti juga penting dan bermanfaat bagi kita semua. Karena di tulisan ini saya akan sedikit bercerita akan siapa orang yang paling berjasa bagi pendidikan di negara kita Indonesia.

Sebelum kita bahas tentang filosofinya yang bermanfaat bagi pendidikan di Indonesia, pertama-tama kita bahas dulu orangnya. Siapa sih Ki Hajar Dewantara?

Ki Hajar Dewantara
Kalo lihat foto-foto Ki Hajar Dewantara mungkin dalam benak kita tergambar, Ki Hajar Dewantara itu orang kuno, kolot, orang kraton bangsawan yang mungkin kerjanya mempelajari budi pekerti luhur dari nenek moyangnya orang-orang bangsawan seperti tergambar dalam makna tiga semboyan yang selalu menjadi filosofi pendidikan di Indonesia. Atau mungkin ada yang beranggapan bahwa mengajarkan budi pekerti itu serba kolot, disiplin kaku, salah sedikit dihukum. Lihat saja dari pakaianya dengan pakaian adat jawa lengkap, kalo perempuan juga kebaya lengkap. Dari foto sepertinya ribet kan? Itu persepsi saya karena sekarang untuk mengenakan pakaian adat jawa di hari Kamis itu saja ribet sekali kan? Belum lagi jika yang lihat anak-anak muda jaman sekarang, anak gaul, mungkin tambah nggak terbayangkan.

Kalo kita lihat biografi tokoh-tokoh besar bangsa ini pada zaman kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara ternyata bukanlah tokoh yang seperti itu. Ki Hajar Dewantara masa mudanya adalah anak bangsawan yang genius, dia dapat beasiswa untuk kuliah kedokteran di Batavia, hebat kan? Di zamannya orang bisa sekolah itu belum tentu lho. Ketika kuliah, Karena sifat nasionalismenya yang tinggi di kampus banyak kegiatan dan tulisan beliau yang nuansanya mengkritik keras pemerintahan kolonial Belanda.  Sehingga akhirnya dikeluarkan dari kampus. Setelah dikeluarkan dari kampus apa yang dia lakukan…? terbayang nggak mahasiswa dikeluarkan dari kampus, kalau zaman sekarang tamat sudah, sudah nggak tau mau jadi apa. Ki Hajar Dewantara ternyata tidak, ya memang karena beliau orang jenius. Selanjutnya beliau bekerja sebagai wartawan. Profesi wartawan justru dimanfaatkan oleh beliau dengan sangat cemerlang, semakin keras Ki Hajar Dwantara mengkritik pemerintah Belanda. Akhirnya oleh Belanda beliau dibuang ke Belanda dengan maksud agar tidak menulis yang isinya mengkritik Belanda jika masih berada di tanah air.

Di Belanda beliau malah berkesempatan besar untuk belajar lebih baik. Akses ke kampus dan buku-buku pendidikan hasil pemikiran tokoh-tokoh kelas dunia dapat dengan mudah diakses oleh Ki Hajar Dewantara. Hasil riset-riset terbaru dunia pendidikan dapat dengan mudah beliau akses, beliau dapat pelajari lebih mendalam ketimbang ketika masih di tanah air. Termasuk salah satunya kurikulum sekolah Maria Montesori yang banyak digunakan sekolah-sekolah elit terkenal di seluruh dunia. Hasil pembelajaran beliau dengan otak jeniusnya tersebut kemudian beliau rangkum untuk dibawa pulang ke Indonesia yang selanjutnya dijadikan dasar-dasar filosofis pendidikan di Sekolah Tamansiswa yang beliau dirikan.

Ok sekarang kita fokus ke filosofi pemikiran besar beliau.

Filosofi terkenal yang selalu diterapkan di sekolah adalah “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuru handayani”. Seboyan tersebut sebenarnya adalah cocok untuk filosofi guru, karena memang seharusnya gurulah yang harus menjiwai 3 semboyan itu. Yang akan saya bahas sekarang adalah bagaimana dengan siswa? Apa filosofi dari hasil pemikiran besar Ki Hajar Dewantara bagi siswa? Seperti kita ketahui bahwa pendidikan itu sejatinya adalah harus berpusat pada anak. Fokus utama pendidikan adalah siswa.

Hal utama yang mendasar bagi pendidikan adalah tujuan pendidikan. Apa sebenarnya tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara? Supaya pintar? Dapat nilai bagus? Dapat ijazah, gelar, yang kemudian dapat kerja? Ternyata tidak. Tujuan utama pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah “Memerdekakan manusia”. Apa itu manusia merdeka? Menurut Ki Hajar Dewantara manusia merdeka itu adalah selamat dan bahagia.

Membaca tujuan utama dari pendidikan dari beliau adalah selamat dan bahagia.

Tujuan Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Nah mulai dari sini barulah aku sadar, bahwa sebenarnya hal-hal seperti itu belum saya lakukan di sekolah. Padahal menurut Ki Hajar Dewantara “pendidikan harusnya memerdekakan manusia, menghasilkan manusia yang selamat dan bahagia”. Kira-kira semua orang setelah menyelesaikan sekolahnya tahu nggak ya bagaimana caranya untuk bisa selamat dan bahagia? Lha kalau diajarkan saja tidak di sekolah, bagaimana bisa tahu bagaimana caranya untuk bisa hidup selamat dan bahagia? Disinilah sebagai guru saya menyadari harus mengembalikan konsep dan tujuan utama pendidikan. Dimulai dari kelas saya saat ini. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan itu menuntun, seperti kalau dalam istilah jawa itu tletah artinya bayi itu bukan tidak bisa jalan, tapi orang tua nletah si bayi untuk memulai bisa berjalan. Menuntun itu posisinya di belakang, nletah bayi itu kita berada di belakang, artinya sesuai semboyan tutwuri handayani, menuntun itu membimbing dari belakang, kalo akan jatuh segera dijaga diarahkan dibimbing yang benar agar tidak jatuh. Memberdayakan menguatkan, mendukung, biarkan potensinya yang bagus ditampakkan, untuk kemudian kita fasilitasi agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Itu adalah yang benar harus dilakukan guru. Menuntun segala potensi yang ada pada siswa menuju manusia yang selamat dan bahagia.

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan itu memiliki 3 peran penting yang terkenal dengan semboyan Tri Rahayu yaitu :

Peran Pendidikan Ki Hajar Dewantara

1.  Hamemayu hayuning sarira” Memajukan dan menjaga diri

2.  Hamemayu hayuning bangsa” Memelihara dan menjaga bangsa

3.  Hamemayu hayuning bawono” Memelihara dan menjaga alam

Semua itu terhubung dan semua berkontribusi pada kepentingan yang lebih besar. Semua terhubung dan harus dimulai dari diri kita masing-masing. Memerdekakan satu orang adalah langkah awal memerdekakan satu keluarga. Memerdekakan keluarga adalah langkah awal memerdekakan suatu daerah. Memerdekakan daerah adalah langkah awal memerdekakan bangsa. Semua saling berkontribusi. Kita hidup bukan zamannya zero-sum-game, dimana untuk untung yang lain harus rugi, tidak. Ini adalah zaman dimana kita bisa bahagia bersama tanpa harus mengorbankan orang lain.

Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan itu harus kontinue, konvergen dan konsentris.

Pola Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Kontinue artinya berkelanjutan, belajar itu terus-menerus sepanjang hayat. Ya tentunya berkelanjutan menuju yang lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari yang kemarin. Besuk harus lebih baik dari hari ini. Itulah prinsip keberlanjutan pendidikan, maka jika hari ini kita sama yang kemarin maka rugilah kita.

Konvergen artinya bahwa ilmu itu harus dari berbagai sumber, Ki Hajar Dewantara mengambil konsep-konsep pendidikanya dari berbagai konsep pendidikan tokoh dunia misalnya Maria Montesari, Frobel atau Rabindra Natagore.

Berikutnya adalah konsentris artinya belajar dari luar itu boleh saja tapi jangan lupa disesuaikan dengan identitas dan konteks yang ada di hidup kita masing-masing. Artinya bahwa kita hanya boleh mengambil sumber dari luar jika memang betul itu bermanfaat bagi pencapaian tujuan utama pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan. Walupun itu berasal dari diri sendiri atau lingkungan sendiri tetapi jika memang tidak bermanfaat dalam menunjang pencapaian tujuan utama pendidikan, juga harus dihindarkan.

Demikian sekedar refleksi terhadap pemikiran besar Ki Hajar Dewantara sebagai seorang guru. Mudah-mudahan ke depan bisa meneladani jasa besar beliau terhadap pendidikan di negeri ini dimulai dari kelas dan sekolah saya sendiri.
Share:

Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantara

Salah satu pemikiran besar Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan adalah pendidikan merupakan upaya memerdekakan manusia baik secara lahiriyah maupun secara btiniah. Oleh karenanya sebagai seorang guru dan juga seorang pendidik kita dalam melaksanakan pembelajaran harus senantiasa menimplementasikan pemikiran besar Ki Hajar Dewantara tersebut yaitu memerdekakan peserta didik. Pertanyaannya adalah sebagai seorang guru apakah kita telah memerdekakan anak didik kita dalam setiap proses pembelajaran?

Mendidik menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang dimiliki anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Artinya bahwa mendidik itu menuntun seluruh bakat yang dimiliki anak sesuai kodratnya menuju perkembangan dan pertumbuhan menuju tumbuh kembang yang sesuai dengan bakat dan minat anak masing-masing. 

Jika dahulu kita mengenal teori “tabularasa” yang dicetuskan oleh John Locke, yang menatakan bahwa seorang anak lahir diibaratkan kertas kosong, tinggal orang dewasa mau menulisi seperti apa. Baik atau buruknya perkembangan anak terserah orang dewasa yang mewarnainya.

Teori tabularasa John Locke terbantahkan oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara, yaitu bahwa seorang anak terlahir telah memiliki bakat atau kodrat yang masih samar-samar. Tugas guru adalah menebalkan bakat samar-samar tersebut hingga seorang anak menemukan bakatnya setelah dewasa secara maksimal. Jika teori “tabularasa” itu kertas kosong maka  dengan diwarnai oleh orang dewasa yang sama maka ketika dewasa berada pada bakat yang sama tanpa perbedaan. Akan tetapi ternyata ketika dewasa anak tumbuh kembang dengan bakat yang berbeda-beda. Sehingga benar apa yang menjadi pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa orang dewasa (dalam hal ini guru) tugas utamanya adalah menuntun, memfasilitasi anak untuk semaksimal mungkin tumbuh dan berkembang sesuai bakat masing-masing, dan tidak mungkin akan tumbuh dan berkembang dalam satu bakat yang sama pada seluruh peserta didik.

Ki Hajar Dewantara menganalogikan proses pendidikan sebagaimana petani yang bercocok tanam. Dengan berbagai macam benih yang akan ditanam, ada padi, jagung kedelai dan sebagainya. Seorang petani hanya bisa menuntun dalam arti merawat tanaman padi dengan bercocok tanam, memberi pupuk, membasmi hama yang mengganggu sesuai ilmu menanam padi. Meskipun pertumbuhan padi dapat diusahakan lebih baik dengan ilmu-ilmu tentang tanaman yang terbaru, tetapi petani tidak dapat mengubah kodratnya padi. Misalnya petani berharap menanam padi panen jagung, atau merawat tanaman jagung layaknya menanam padi pasti tidak akan bisa, dan tidak akan pernah terjadi. Begitulah seorang pendidik dengan segala kemampuannya menuntun peserta didik sesuai bakat dan minat anak. Tugas guru yang utama adalah memfasilitasi siswa, menuntun siswa untuk tumbuh berkembang sesuai dengan bakat yang telah menjadi takdirnya sejak dilahirkan. Seluruh siswa tidak bisa dipaksa untuk tumbuh dan berkembang dengan model yang sama. Misalnya seluruh siswa diharuskan menjadi pemain bola semua, tidak akan bisa, karena siswa kan tumbuh sesuai dengan bakat dan minat masing-masih. Ada yang memiliki bakat bermain bola, ada yang berbakat di bidang seni, ada yang berbakat pada ilmu pengetahuan eksakta dan lain sebagainya bakat yang sesuai sebanyak siswa. Tugas guru menuntun siswa sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh masing-masing siswa secara maksimal.

Selain itu, sebagai guru sekaligus sebagai seorang pendidik harus dapat mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang berpihak pada anak. Seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada anak”. Maksud dari ungkapan beliau adalah bahwa sebagai seorang pendidik harus dengan tulus ihklas mendidik siswa, tidak boleh menuntut apapun, hanya berusaha mendidik anak agar mencapai kebahagiaan hidup sebagai manusia dan masyarakat.

Merdeka belajar artinya bahwa sebagai seorang guru juga merupakan pendidik selain harus menuntun kodrat anak sesuai dengan bakat dan minatnya, juga harus mampu menuntun menumbuhkan budi pekerti yang baik siswa menuju manusia yang berahklak mulia. Ki Hajar Dewantara menumbuhkan budi pekerti siswa dengan cara menerapkan pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran meliputi “Hablumminallah yaitu bagaimana sikap manusia terhadap Tuhannya, dan “Hablumminannas” yaitu bagaimana hubungannya sikapnya dengan sesama manusia. Ditambah Ki Hajar Dewantara juga menanamkan pendidikan karakter kebangsaan agar siswa memiliki kepribadian yang khas serta jiwa bela negara dan cinta tanah air.

Dalam mensukseskan pendidikan dengan “merdeka belajar”, Ki Hajar Dewantara menerapkan tripusat pendidikan yang meliputi : 1) pendidikan di lingkungan keluarga. 2) pendidikan di sekolah dan 3) di lingkungan masyarakat. Yang pertama dan yang paling utama adalah penanaman pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Disinilah kunci utama pendidikan karakter pada anak. Dengan kasih sayang yang tulus dari keluarga tanpa pamrih, hanya memberi tanpa berharap menerima merupakan faktor utama penanaman karakter, watak dasar pada anak yang sangat berpengaruh pada pendidikan selanjutnya. Yang kedua adalah penyelenggaraan pendidikan di sekolah, yang secara formal sekolah diserahi tanggung jawab untuk mendidik putra-putrinya di sekolahan. Dengan segala fasilitas di sekolah orang tua berharap atas keberhasilan pendidikan putra-putrinya. Guru dengan profesionalisme yang diperoleh dari pendidikan yang telah ditempuh memiliki tanggung jawab yang besar untuk misi lembaga pendidikan yang diberikan tanggung jawab padanya untuk mengelola. Yang terakhir yang ketiga adalah di lingkungan masyarakat, adalah merupakan lingkungan di mana peserta didik bersosialisasi, bergaul dan bermain. Lingkungan masyarakat sangat berperan dalam mendukung keberhasilan pendidikan karakter bagi peserta didik, karena intensitas waktu bersama dengan lingkungan masyarakat sangat banyak. Sehingga dukungan masyarakat dalam keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan juga sangat diharapkan.

Ke depan sebagai harus mampu menjalin hubungan baik dengan orang tua/wali murid dan masyarakat. Karena pendidikan karakter tidak bisa hanya menitik beratkan pada proses di sekolah. Akan tetapi pengertian dan peran serta orang tua dengan dukungan masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah.


Share:

ALUR KERANGKA MERDEKA BELAJAR

Profil Pelajar Pancasila

Mendesain Kerangka Pembelajaran sesuai dengan Pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Profil Pelajar Pancasila dalam kerangka ‘Merdeka Belajar “salah satunya adalah Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia.

 

     1.  Tujuan Utama Profil Pelajar Pancasila

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

 

     2.  Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila yang dipilih :

Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia

 

Alasan memilih profil pelajar Pancasila

Karena beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia merupakan dasar dari dari semua profil pelajar Pancasila lainnya

Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia memiliki lima elemen kunci antara lain:

a. akhlak beragama

b. akhlak pribadi

c. akhlak kepada manusia

d. akhlak kepada alam

e. akhlak bernegara

 

     3.  Potensi yang dimiliki sekolah dan kelas untuk mendukung “Merdeka Belajar”

a.   Siswa yang semangat dengan potensi yang dimiliki

b.  Sekolah yang mendukung kemajuan pendidikan

c.   Dukungan orang tua dan lingkungan masyarakat

d.  Sarana dan prasarana pendukung KBM

e.   Memiliki kompetensi tentang norma-norma yang berlaku di lingkungan anak

f.    Memiliki kemampuan dalam bidang Ketuhanan YME yang sesuai dengan agama masing-masing.

 

     4.  Kompetensi Pelajar Pancasila

a.   Mengerti dan memahami serta mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

b.  Mengenali diri sendiri atas kelebihan dan kekurangannya untuk menggali potensi dan mengembangkan kemampuannya.

c.   Menghargai sesame teman dan menghormati guru

d.  Peduli terhadap lingkungan dan budaya sekolah

e.   Mengikuti upacara dan kegiatan hari besar nasional

 

     5.  Indikator Ketercapaian

Alur kerangka ‘Merdeka Belajar’ dapat dirancang diantaranya‘Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila’ Kompetensi Pelajar Pancasila dengan menunjukan Kemampuan menjalankan syariat agama masing-masing, menunjukkan perilaku yang berakhlak baik, dengan Indikator Ketercapaian :

a.   Peserta didik diharapkan dapat memgerti dan memahami serta mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

b.  Peserta didik diharapkan dapat mengenali diri sendiri atas kelebihan dan kekurangannya untuk menggali potensi dan mengembangkan kemampuannya.

c.   Peserta didik diharapkan dapat menghargai sesama teman dan menghormati guru baik disekolah maupun di luar sekolah

d.  Peserta didik diharapkan dapat peduli terhadap kebersihan lingkungan dan budaya sekolah

e.   Peserta didik diharapkan dapat aktif mengikuti upacara bendera setiap hari senin dan kegiatan-kegiatan hari besar nasional baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun masyarakat

 

     6.  Elaborasi pelaksanaan konkret di sekolah dan di kelas

Pelaksanaan secara konkret di sekolah yang dapat dilakukan untuk mencapai profil pelajar Pancasila diantaranya :  

a.   Melakukan pembiasaan yang menguatkan pendidikan karakter di sekolah baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler dengan pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, menghafal asmaul husna dan hafalan surat-surat pendek. Sedangkan ekstrakurikuler dengan tambahan pelajaran BTA dan kaligrafi.

b.  Shalat dhuhur bejamaah, infaq setiap hari Jumat, dan memperingati hari besar keagamaan

c.   Selalu bertutur kata yang santun dan berpakain sopan, menghargai sesama teman, dan menghormati guru

d.  Mengucapkan salam ketika bertemu teman atau guru

e.   Menjenguk teman apabila ada yang sakit, dan mendoakannya

f.    Melaksanakan piket setiap hari untuk membersihkan ruang kelas dan lingkungan serta membuang sampah pada tempatnya

g.   Membuat jadwal kegiatan yang dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan

h.  Bekerja sama dan berkolaborasi dengan semua pihak (guru, sekolah, orangtua siswa, dan masyarakat)

 

     7.  Pihak yang terlibat dalam elaborasi

a.   Peran giuru :

sebagai seorang pendidik, guru menjadi teladan bagi anak didik.Guru agama memilikin program khusus siswa dalam meningkatkan keagamaan mereka (shlat berjamaah, pesantren kilat, hari besar keagamaan). Guru dan semua fihak sekolah dapat mengajak orang tua diskusi diawal tahun pelajaran untuk berkolaborasi dalam meningkatkan kecerdasan karakter anak.

 

b.  Peran Sekolah

Sekolah menyediakan fasilitas tempat ibadah yang memadai

 

c.   Peran orang tua :

Orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak-anak dan berperan utama dalam pembentukan dasar-dasar kepribadian, kemampuan berfikir, kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan bersosialisasi

 

d.  Peran masyarakat

Bekerjasama ikut memberikan contoh kegiatan-kegiatan keagamaan dan mengawasi anak untuk menerapkan sikap-sikap keragamannya dalam kehidupan sehari-hari.


Contoh Alur Kerangka Merdeka Belajar dalam bentuk ppt bisa anda lihat disini : drive 1.1.a.5. Ruang Kolaborasi

Share:

Prota Tematik K-13 Kelas 3

Prota Tematik K-13 Kelas 3, adalah merupakan rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran selama satu tahun untuk mencapai seluruh kompetensi dasar (KD) dalam satu tahun yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Program Tahunan (Prota) merupakan dokumen administrasi persiapan Pembelajaran yang harus dibuat oleh guru sebelum mengajar. Hal ini penting dilakukan oleh setiap guru agar pembelajaran yang dilakukan berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Terarah, sistematis sesuai cakupan materi Pembelajaran selama satu tahun.

Prota Tematik K-13 Kelas 3 disusun guru harus berpedoman pada Permendikbud No 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Prota sendiri sendiri merupakan program perencanaan Pembelajaran yang harus disusun oleh guru dalam satu tahun. Prota Tematik K-13 Kelas 3 dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran terprogram secara berurutan, sistematis dalam satu tahun. Agar lebih mudah menyusun Program Tahunan (Prota) ada baiknya mengikuti langkah-langkah penyusunan berikut :

1.       .Membuat Pemetaan Kompetensi Dasar (KD) sesuai silabus masing-masing kelas.

2.     Periksa dengan teliti Kalender pendidikan yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan di Propinsi masing-masing. Dimana kalender pendidikan merupakan pedoman pelaksanaan proses belajar mengajar bagi Semua jenjang pendidikan

3.      Melakukan analisis hari efektif, hari libur nasional dan hari besar lainya sesuai kaldik, hari jeda semester.

4.     Melakukan perhitungan minggu efektif dengan cara :

a.      Hitung Jumlah minggu dalam 1 tahun

b.     Menentukan Jumlah minggu efektif selama 1 tahun

c.      Menghitung Jumlah jam efektif dengan cara Jumlah minggu efektif dikalikan dengan Jumlah jam efektif dalam seminggu

5.     Menyusun reencana alokasi waktu perminggu ke dalam Kompetensi Dasar (KD) dalam setahun. Dalam menentukan alokasi waktu dengan memperhatikan kompleksitar materi setiap KD, Jumlah jam pelajaran sesuai Jadwal dan struktur Kurikulum 2013.

 

Untuk memudahkan Bapak/Ibu guru dalam mencari referensi pembuatan Prota Tematik yang sesuai dengan Permendikbud No 22 Tahun 2016, di sini kami memberikan contoh Prota Tematik K-13 Kelas 3 secara lengkap sesuai dengan silabus dan pemetaan KD dalam 1 tahun.

 

Berikut adalah Prota Tematik K-13 Kelas 3 Tahun Pelajaran 2020/2021 :




Prota Tematik K-13 Kelas 3 dalam bentuk excel lengkap dengan cover bisa diambil melalui link berikut :

Prota Tematik K-13 Kelas 3

 

Share:

Pengembangan Kapabilitas Guru Era Digital

Mengembangkan Kapabilitas Guru Era Digital

Meningkatkan kesadaran pentingnya terus mengembangkan kapabilitas diri guru di era digital sekarang menjadi keharusan bagi seorang guru. Jika tidak maka bersiaplah untuk tereliminasi oleh zaman. Pengembangan guru yang berkualitas guna menunjang pembentukan pendidikan bermutu tidak sebatas bergantung pada program pendidikan guru yang ditempuh dan linieritas ijazah. Pengembangan kualitas guru sesungguhnya adalah terletak pada kemauan dan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya ketika telah menduduki jabatan sebagai guru. Minimal ada lima kapabilitas yang harus terus menerus dibangun guru dalam rangka mengembangkan kualitasnya (Darling-Hammond. et.al. ,1999; Nicholss, G., 2002, dan Lang dan Evans, 2006). Kelima kapabilitas tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Kapabilitas pertama yang harus terus dibangun guru adalah konten pengetahuan yang diajarkan. Kapabilitas ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk terus mengembangkan dirinya dengan meningkatkan penguasaan konten pengetahuan secara terus menerus sehingga pengetahuan yang dimilikinya akan senantiasa berkembang dan uptodate. Kapabilitas ini juga berhubungan dengan kemampuan guru dalam memahami kurikulum yang berlaku sehingga proses pembelajaran yang dilaksanakannya benar-benar berorientasi pada kurikulum terbaru. Selain itu, kapabilitas ini berkaitan erat dengan kemampuan guru untuk senantiasa berpikir kritis memaknai setiap materi ajar sehingga akan mampu memperluas pengetahuan siswa dan mampu merestrukturisasi pengetahuan agar sejalan dengan potensi dan kebutuhan siswa. Melalui pengembangan kapabilitas ini jelaslah sosok guru yang berkualitas bukanlah sebuah impian belaka.

2. Kapabilitas kedua adalah tingkat konseptualisasi. Kapabilitas ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk mengidentifikasi wilayah pengembangan dirinya sehingga guru akan mampu secara terus menerus meningkatkan kompetensi yang dimilikinya. Kapabilitas ini juga berhubungan pula dengan kemampuan guru dalam menerapkan konsep dan ide-ide kreatifnya dalam setiap proses pembelajaran. Lebih lanjut, kapabilitas ini mempersyaratkan kemampuan guru untuk membuat desain rencana pengembangan professional dirinya secara tepat guna dan berhasil guna. Melalui desain rencana pengembangan professional yang dibuat guru, guru akan mampu merencanakan berbagai aktivitas pengembangan diri sehingga mitos guru adalah individu statis akan tertepiskan.

3. Kapabilitas yang ketiga berhubungan dengan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Guru yang kapabel adalah guru yang senantiasa memilih pendekatan, model, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat sesuai materi dan karakteristik siswa. Melalui pemilihan strategi pembelajaran yang tepat inilah guru lebih jauh diharapkan mampu mengelola kelas dengan inovatif sehingga berbagai tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Sejalan dengan kenyataan ini, guru harus secara berkesinambungan meningkatkan pengetahuannya tentang berbagai strategi pembelajaran terkini sehingga guru tidak hanya terpaku menggunakan satu jenis strategi pembelajaran.

4. Kapabilitas keempat adalah komunikasi interpersonal. Kapabilitas ini berhubungan dengan kemampuan guru dalam menjalin komunikasi dengan siswa sehingga guru akan benar-benar memahami karakteristik siswa dan mengetahui kebutuhan siswa. Selain kemampuan berkomunikasi dengan siswa, kapabilitas ini berkenaan juga dengan kemampuan guru berkomunikasi dengan seluruh unsur sekolah dan orang tua siswa. Melalui berbagai jenis komunikasi ini guru diharapkan mampu memainkan peran pentingnya dalam mencetak lulusan yang unggul.

5. Kapabilitas kelima adalah ego. Kapabilitas ini berhubungan dengan usaha mengetahui diri sendiri dan usaha membangun responsibilitas diri terhadap lingkungan. Hal ini berarti guru yang kapabel adalah guru yang memperhatikan diri sendiri dan orang lain, merespons positif segala bentuk masukan yang dia terima, bersikap objektif, membantu orang lain untuk berkembang, berpikir positif, dan senantiasa meningkatan self esteem. Melalui pengembangan lima kapabilitas ini diharapkan guru akan mampu merefleksi diri sehingga kompetensinya akan senantiasa berkembang. Berbagai kapabilitas yang telah dikemukakan tersebut pada prinsipnya merupakan wilayah pengembangan guru yang harus secara terus-menerus dikembangkan. Melalui kepemilikan dan pengembangan kelima kapabilitas tersebut, guru akan mampu memiliki kemampuan teknis dalam melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan merefleksi kritis kinerjanya sebagai wujud nyata sosok guru yang berkualitas.

Ketika terjadi masa pandemi COVID-19 membuka kesadaran setiap guru bagaimana harus tetap bekerja mendidik dan mengajar sedangkan sekolah ditutup sebagai antisipasi penyebaran virus COVID-19 akan tetapi pembelajaran harus tetap berjalan. Sehingga sebagai guru tidak mungkin akan membiarkan siswa berdiam diri di rumah dalam waktu yang tidak bisa diketahui kapan berakhir. Sekarang jamannya teknologi hampir semua siswa menggunakan HP, masa pandemi membuka kesadaran semua bahwa proses pembelajaran harus tetap berjalan walaupun antara guru dan siswa tidak bisa bertemu di kelas. Guru harus mampu mengkuti perkembangan teknologi, dan memanfaatkannya dalam proses pembelajaran dengan moda daring. Penguasaan teknologi untuk kepentingan pembelajaran semakin berkembang, sehingga guru harus terus meningkatkan kemampuan mempelajari dan menguasai konten-konten pembelajaran dan terus dikembangkan untuk menunjang pembelajaran.

Sebagai guru secara pribadi Upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan kapabilitas diri, profesionalisme diri agar memiliki kompetensi profesi sesuai dengan tugas pokok antara lain :

1. Mengikuti diklat fungsional yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan atau lembaga lain yang linier dengan tupoksi guru. Utamanya kegiatan yang diselenggarakan Dirjen GTK melalui simpkb mengikuti bimtek atau diklat secara daring dan luring.

2. Mengikuti kegiatan kolektif guru dalam bentuk KKG sebagai wadah memecahkan berbagai masalah dan tukar pendapat hal-hal yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi guru di sekolah

3. Mengikuti forum ilmiah guru misalnya seminar/webinar atau lokakarya

4. Menulis, kegiatan menulis sangat bermanfaat bagi guru sebagai sarana menuangkan ide atau gagasan tentang pendidikan, baik tulisan ringan di bloger maupun tulisan yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah guru.

Sedangkan Upaya yang semestinya dilakukan untuk membangun kesadaran pengembangan diri di lingkungan sekolah meliputi :

1. Memberikan pengertian dan pemahaman bahwa sebagai guru di era digital yang mana dengan tehnologi perkembangan dunia dalam segala hal dapat diakses dengan cepat oleh semua orang, tidak terkecuali siswa kita di sekolah. Maka jika guru tidak secara responsif mengikuti maka akan dahului murid. Jika yang diakses murid berupa berbagai hal yang positif maka baik bagi siswa, tapi jika mengarah pada hal yang negatif, sebagai guru harus bisa mencegahnya. Maka dari itu guru harus responsif terhadap perkembangan teknologi yang menunjang tugas pokok dan fungsi guru

2. Memotivasi pada teman-teman guru agar mengikuti seluruh program pemerintah kaitanya dengan pendidikan melalui Dirjen GTK dengan kegiatan-kegiatan yang bisa diikuti oleh guru melalui akun masing-masing untuk pengembangan diri

3. Memberikan contoh-contoh dampak positif bagi guru yang secara aktif responsif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan maupun Dirjen GTK untuk kemajuan dan karir guru utamanya untuk inovasi pembelajaran.

Dari berbagai macam upaya baik secara individu maupun secara kelompok di sekolah diharapkan semua guru aktif mengikuti kegiatan Bimtek/Diklat yang diselenggarakan Dinas Pendidikan maupun Dirjen GTK secara baik sehingga ke depan guru tidak lagi GAPTEK, menjadi guru yang profesional responsif terhadap perkembangan jaman yang berdampak pada kualitas pembelajaran guru di kelas yang inovatif dan kreatif menuju kemajuan yang diharapkan.



Share:

Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru

Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru

Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru, adalah merupakan rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran selama satu tahun untuk mencapai seluruh kompetensi dasar (KD) dalam satu tahun yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Program Tahunan (Prota) merupakan dokumen administrasi persiapan Pembelajaran yang harus dibuat oleh guru sebelum mengajar. Hal ini penting dilakukan oleh setiap guru agar pembelajaran yang dilakukan berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Terarah, sistematis sesuai cakupan materi Pembelajaran selama satu tahun.

Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru disusun guru harus berpedoman pada Permendikbud No 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Prota sendiri merupakan program perencanaan Pembelajaran yang harus disusun oleh guru dalam satu tahun. Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran terprogram secara berurutan, sistematis dalam satu tahun. Agar lebih mudah menyusun 

Program Tahunan (Prota) ada baiknya mengikuti langkah-langkah penyusunan berikut :

1.Membuat Pemetaan Kompetensi Dasar (KD) sesuai silabus masing-masing kelas. 

2.Periksa dengan teliti Kalender pendidikan yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan di Propinsi masing-masing. Dimana kalender pendidikan merupakan pedoman pelaksanaan proses belajar mengajar bagi Semua jenjang pendidikan

3.Melakukan analisis hari efektif, hari libur nasional dan hari besar lainya sesuai kaldik, hari jeda semester.

4.Melakukan perhitungan minggu efektif dengan cara : 

   a.Hitung Jumlah minggu dalam 1 tahun

   b.Menentukan Jumlah minggu efektif selama 1 tahun

   c.Menghitung Jumlah jam efektif dengan cara Jumlah minggu efektif dikalikan dengan Jumlah jam efektif dalam seminggu

5.Menyusun rencana alokasi waktu perminggu ke dalam Kompetensi Dasar (KD) dalam setahun. Dalam menentukan alokasi waktu dengan memperhatikan kompleksitar materi setiap KD, Jumlah jam pelajaran sesuai Jadwal dan struktur Kurikulum 2013.

Untuk memudahkan Bapak/Ibu guru dalam mencari referensi pembuatan Prota Tematik yang sesuai dengan Permendikbud No 22 Tahun 2016, di sini kami memberikan contoh Prota Tematik K-13 Terbaru secara lengkap sesuai dengan silabus dan pemetaan KD dalam 1 tahun.

Berikut adalah Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru Tahun Pelajaran 2021/2022 :

   1. Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru Kelas 1

   2. Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru Kelas 2

   3. Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru Kelas 3

   4. Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru Kelas 4

   5. Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru Kelas 5

   6. Prota Tematik K-13 Revisi Terbaru Kelas 6


Program Tahunan (Prota) yang bisa kami tulis adalah sebagaiman kami kerjakan sehari-hari sebagai bukti secara adminstrasi dan acuan bagi pembuatan program-program yang harus dikerjakan oleh Guru Kelas. Semoga bermanfaat jika terdapat saran yang membangun sangat kami harapkan untuk menulis di kolom komentar di bawah tulisan ini. 


Share:

Recent Posts